KABARBANYUMASRAYA.COM – Jawa Tengah memiliki surplus beras hingga 1,53 juta ton, tetapi kondisi tersebut belum sepenuhnya membuat harga di pasar stabil. Memasuki September 2026, harga beras di sejumlah pasar mulai merangkak naik sehingga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat intervensi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta distribusi beras dipastikan berjalan lancar. Gerakan Pangan Murah (GPM), penyaluran beras SPHP, bantuan pangan, dan operasi pasar akan diperbanyak untuk menahan tekanan harga.
Stok Aman, Surplus Beras Jateng 1,5 Juta Ton
Berdasarkan neraca beras hingga Agustus 2026, ketersediaan beras di Jawa Tengah mencapai 4.348.101 ton, sedangkan kebutuhan sekitar 2.809.248 ton. Artinya, Jawa Tengah masih mencatat surplus beras hingga 1.538.853 ton.
Meski stok mencukupi, Pemprov Jateng tidak ingin hanya mengandalkan angka neraca. Pemantauan pada 2-6 September 2026 menunjukkan harga beras di sejumlah pasar mengalami kenaikan rata-rata sekitar 2,5 persen.
Pemantauan dilakukan di Pasar Johar Semarang, Pasar Raya Salatiga, Pasar Bandarjo Ungaran, Pasar Projo Ambarawa, Pasar Kendal, dan Pasar Jungke Karanganyar.
Harga Beras Medium dan Premium Mulai di Atas HET
Kenaikan paling terlihat pada beras medium non-SPHP. Harganya berada di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per kilogram, atau sekitar 0,74 persen hingga 11,11 persen di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sementara beras premium dijual sekitar Rp15.000-Rp17.000 per kilogram, atau 0,67 persen hingga 14,09 persen di atas HET. Adapun beras SPHP relatif lebih stabil dengan harga sekitar Rp60.000-Rp62.000 per kemasan 5 kilogram.
Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena kenaikan harga beras dapat menekan daya beli sekaligus meningkatkan risiko inflasi.
“Jangan sampai kenaikan harga beras menyulitkan masyarakat dan memicu inflasi. Segera lakukan intervensi, koordinasi dengan Bulog,” tegas Ahmad Luthfi.
Harga Gabah Ikut Mendorong Kenaikan Beras
Kenaikan harga beras diduga berkaitan dengan meningkatnya harga gabah di tingkat produsen. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani rata-rata mencapai Rp7.300 per kilogram, sedangkan Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat penggilingan sekitar Rp8.666 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat pelaku distribusi menghadapi tekanan margin. Di satu sisi harga gabah meningkat, sementara harga jual beras dibatasi oleh HET.
Karena itu, pemerintah menilai intervensi pasar diperlukan agar tekanan harga di tingkat produsen tidak berlanjut hingga konsumen.
GPM Jateng Sudah Digelar 1.083 Kali
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah Widi Hartanto mengatakan pemantauan harga terus dilakukan bersama instansi terkait. Operasi pasar dan distribusi bantuan pangan juga diperkuat.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas pelaksanaan GPM. Hingga kini, GPM telah digelar 1.083 kali dengan omzet mencapai Rp24,9 miliar.
“Kami terus melakukan pemantauan dan memperkuat operasi pasar untuk menjaga distribusi,” ujar Widi.
Stok Bulog Jateng Masih 300 Ribu Ton
Bulog memastikan ketersediaan beras di Jawa Tengah masih aman. Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Jawa Tengah Gandi Prarista mengatakan penyaluran beras SPHP telah mencapai 100 persen, sementara penyerapan beras juga telah memenuhi target.
Bulog juga mendapat tambahan tugas menyalurkan sekitar 90 ribu bantuan pangan selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September 2026.
“Secara umum ketersediaan beras masih cukup. Stok Bulog Jateng ada sekitar 300 ribu ton,” kata Gandi.
Dengan kondisi tersebut, Pemprov Jateng akan terus menjaga keseimbangan antara ketersediaan stok, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga.
Surplus beras yang mencapai lebih dari 1,5 juta ton diharapkan tidak sekadar tercatat dalam neraca, tetapi benar-benar mampu menjaga pasokan dan harga beras tetap terjangkau bagi masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
