SEMARANG, Melaui program Pesantren Obah, sejumlah santri di Jawa Tengah mendapatkan kesempatan untuk menembus dunia pendidikan internasional. Melalui program Pesantren Obah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengirim santri berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara, termasuk China, Mesir, dan Yaman.
- Pesantren Obah Dorong Santri Kuasai Sains dan Teknologi
- Rp8,34 Miliar Disiapkan untuk Beasiswa Santri Jateng
- Santri Jateng Kuliah Computer Science di China
- Delapan Santri Melanjutkan Studi ke Mesir
- Gubernur Minta Kabupaten dan Kota Ikut Perkuat Pesantren
- Pemprov Jateng Gandeng 24 Ma’had Aly
- Santri Didorong Jadi Generasi Unggul Jawa Tengah
Program beasiswa Pesantren Obah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemprov Jateng untuk membangun sumber daya manusia pesantren yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan akademik dan profesional di bidang sains, teknologi, kedokteran, serta sektor strategis lainnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, santri harus berani tampil dan mengambil peran lebih besar dalam pembangunan.
“Para santri harus percaya diri, harus menegakkan kepala. Di belakang santri ada kami,” kata Ahmad Luthfi saat memberikan pembekalan kepada penerima beasiswa di Gedung Merah Putih, Rabu (12/8/2026).
Pesantren Obah Dorong Santri Kuasai Sains dan Teknologi
Program Pesantren Obah digagas Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Program ini diarahkan untuk memperluas kapasitas santri agar tidak hanya berkutat pada pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu menguasai bidang ilmu yang dibutuhkan masyarakat modern.
Ahmad Luthfi mengatakan, santri memiliki modal sosial yang kuat karena ditempa dengan pendidikan pesantren yang mengajarkan nilai toleransi, kedisiplinan, aturan, serta pemahaman keagamaan. Karena itu, menurut dia, santri harus percaya diri untuk masuk ke berbagai bidang kehidupan.
“Program Pesantren Obah ini agar santri memiliki nilai yang lebih dari saat ini. Artinya, santri tidak hanya belajar tentang agama tetapi juga keilmuan-keilmuan lain seperti kedokteran, saintek, dan lain sebagainya sehingga santri bisa masuk di semua lini masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap pendidikan berbasis pesantren mampu menghasilkan generasi yang memiliki keseimbangan antara karakter, keagamaan, dan kompetensi profesional.
Rp8,34 Miliar Disiapkan untuk Beasiswa Santri Jateng
Komitmen tersebut diperkuat dengan alokasi hibah beasiswa pada 2026. Pemprov Jawa Tengah menyiapkan total anggaran sekitar Rp8,34 miliar untuk beasiswa pendidikan jenjang S1, S2, dan S3, baik di dalam maupun luar negeri. Penyaluran beasiswa dilakukan melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).
Dalam pembekalan tersebut, terdapat 73 penerima beasiswa yang hadir. Mereka terdiri atas 15 penerima beasiswa luar negeri, 27 santri penerima beasiswa dalam negeri, serta 31 pengasuh pondok pesantren penerima beasiswa dalam negeri.

Santri Jateng Kuliah Computer Science di China
Dari penerima beasiswa luar negeri, tiga santri mendapat kesempatan menempuh pendidikan bidang sains dan teknologi di China. Kesempatan pendidikan ke luar negeri menjadi salah satu daya tarik utama program tersebut.
Salah satunya adalah Akhmad Khafidz Al Mubarok. Ia mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan S1 Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, China.
Khafidz mengaku bersyukur karena kesempatan tersebut tidak hanya mendekatkannya pada cita-cita, tetapi juga membuka peluang untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarganya.
“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Pilih jurusan Computer Science and Technology karena dari kecil sudah minat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi yaitu Cina,” ujarnya.
Pilihan Khafidz menunjukkan arah baru pendidikan santri yang didorong melalui Pesantren Obah. Latar belakang pendidikan pesantren tidak lagi dipandang sebagai batas untuk memasuki bidang teknologi dan ilmu pengetahuan modern.
Delapan Santri Melanjutkan Studi ke Mesir
Selain China, program beasiswa juga memberikan kesempatan kepada santri Jawa Tengah untuk melanjutkan pendidikan di Mesir. Sebanyak delapan santri mendapatkan beasiswa untuk menempuh studi di Al-Azhar. Mereka terdiri atas satu mahasiswa bidang kedokteran dan tujuh mahasiswa bidang keislaman.
Sementara itu, tiga santri lainnya melanjutkan pendidikan ke Al-Ahqof, Yaman. Satu penerima beasiswa lainnya mengikuti program double degree. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kapasitas santri dilakukan melalui berbagai jalur keilmuan, mulai dari teknologi, kedokteran, hingga studi keislaman.
Gubernur Minta Kabupaten dan Kota Ikut Perkuat Pesantren
Ahmad Luthfi menilai cakupan program beasiswa untuk santri saat ini masih perlu diperluas. Menurutnya, pada 2026 baru terdapat 942 santri dan pengasuh pondok pesantren yang mengikuti proses seleksi.
Jumlah tersebut dinilai masih kecil jika dibandingkan dengan jumlah santri di Jawa Tengah yang mencapai lebih dari 5.000 orang. Karena itu, ia meminta pemerintah kabupaten dan kota ikut mengambil bagian dalam pengembangan kapasitas santri.
“Ini masih kurang dan harus dijadikan role model, sehingga tidak hanya provinsi yang bergerak, tetapi kabupaten/kota nanti kita ikut sertakan sehingga pemberdayaan pesantren ini bisa menyeluruh,” katanya.
Menurut Ahmad Luthfi, pesantren tidak semestinya hanya menjadi penerima manfaat pembangunan. Pesantren harus berkembang menjadi salah satu pusat penghasil sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi langsung bagi Jawa Tengah.
Pemprov Jateng Gandeng 24 Ma’had Aly
Dalam agenda yang sama, Pemprov Jawa Tengah juga menandatangani nota kesepahaman dengan 24 Ma’had Aly, lembaga pendidikan tinggi berbasis pesantren yang memiliki kedudukan setara dengan perguruan tinggi.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan pesantren yang lebih terstruktur. Pemerintah berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat pelaksanaan program pemberdayaan pesantren sekaligus memastikan penggunaan anggaran berjalan sesuai mekanisme.
“MoU ini merupakan mekanisme yang harus kita jalankan karena kinerja berbasis anggaran tidak bisa sembarangan,” kata Ahmad Luthfi.
Santri Didorong Jadi Generasi Unggul Jawa Tengah
Pesantren Obah pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai pemberian beasiswa. Program tersebut diarahkan menjadi salah satu instrumen untuk mengubah cara pandang terhadap pendidikan santri.
Melalui program Pesantren Obah, para santri diharapkan mampu mempertahankan kekuatan nilai-nilai pesantren sekaligus menguasai kompetensi yang dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja.
Ahmad Luthfi juga mengingatkan agar tidak ada lagi santri yang merasa rendah diri ketika harus bersaing di ruang publik.
“Saya ikut merasakan sakit kalau ada santri tidak percaya diri,” ujarnya.
Dengan dukungan beasiswa pendidikan dalam dan luar negeri, kerja sama dengan Ma’had Aly, serta keterlibatan pemerintah daerah, program Pesantren Obah diharapkan mampu melahirkan lebih banyak santri Jawa Tengah yang berprestasi di bidang sains, teknologi, kedokteran, pendidikan, dan keilmuan lainnya.
Bagi Jawa Tengah, penguatan pendidikan pesantren bukan hanya investasi bagi masa depan santri, tetapi juga bagian dari upaya mencetak sumber daya manusia unggul yang siap mengambil peran strategis dalam pembangunan daerah dan nasional.
*Ikuti media sosial kami.
