KABARBANYUMASRAYA.COM – Musim kemarau justru menjadi peluang bagi Widi Nur Khanafi, petani muda asal Dusun Pedalai, Desa Sokayasa, Kecamatan Banjarnegara. Memanfaatkan lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, Widi membudidayakan bawang merah dan berhasil memanen hingga 2 ton dalam sekali musim tanam.
Budidaya tersebut dilakukan selama kurang lebih 60 hari. Dari hasil panen, Widi berpotensi memperoleh keuntungan sekitar Rp40 juta, meski hasil bersih tetap bergantung pada harga jual dan biaya produksi.
Petani Banjarnegara Manfaatkan Musim Kemarau
Widi memilih bawang merah karena tanaman tersebut dinilai cocok dibudidayakan saat kondisi cuaca lebih kering.
Intensitas sinar matahari yang tinggi selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan bawang merah. Kondisi lahan yang relatif kering juga dinilai dapat membantu mengurangi risiko sejumlah hama dan penyakit tanaman.
“Bawang merah ini salah satu pilihan untuk memanfaatkan lahan saat musim kemarau. Hasilnya cukup menjanjikan,” ujar Widi.
Menurutnya, pemilihan komoditas yang tepat menjadi kunci agar lahan pertanian tetap produktif meski memasuki musim kemarau.
Panen Bawang Merah Capai 2 Ton
Dalam satu periode tanam sekitar dua bulan, lahan seluas 2.000 meter persegi yang dikelola Widi mampu menghasilkan sekitar dua ton bawang merah.
Potensi keuntungan yang mencapai puluhan juta rupiah membuat komoditas tersebut menjadi salah satu alternatif usaha pertanian yang menarik bagi petani, khususnya ketika komoditas lain mulai menghadapi keterbatasan air.
Meski demikian, budidaya bawang merah belum menjadi pilihan utama sebagian besar petani di Banjarnegara. Banyak petani masih mengandalkan komoditas yang selama ini lebih umum dibudidayakan di wilayah tersebut.
Bawang Merah Jadi Alternatif Usaha Petani
Bagi Widi, bawang merah bukan sekadar tanaman untuk mengisi lahan saat kemarau. Komoditas tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif sumber pendapatan petani.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti produktivitas pertanian menurun. Dengan pemilihan tanaman, pengelolaan lahan, serta perhitungan biaya dan pasar yang tepat, kondisi musim kering justru dapat menjadi peluang ekonomi bagi petani Banjarnegara.
*Ikuti media sosial kami.
