KABARBANYUMASRAYA.COM – Ancaman bencana hidrometeorologi mulai meningkat di Kabupaten Banjarnegara seiring masuknya musim hujan. Pada awal musim penghujan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sudah terjadi tujuh kejadian bencana di wilayah tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Terlebih, lebih dari 70 persen wilayah Banjarnegara masuk kategori rawan bencana, terutama tanah longsor, pergerakan tanah, dan pohon tumbang.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara pun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Penguatan koordinasi lintas sektor dan kesiapsiagaan hingga tingkat desa menjadi langkah penting untuk mengantisipasi potensi bencana dalam beberapa bulan ke depan.
Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah. Kesiapsiagaan harus dibangun bersama dengan melibatkan pemerintah kecamatan, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Amalia saat memimpin Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Banjarnegara, Rabu (4/11/2026).
Lebih dari 70 Persen Wilayah Banjarnegara Rawan Bencana
Amalia menjelaskan, kondisi geografis Banjarnegara yang didominasi perbukitan membuat banyak wilayah memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap tanah longsor dan pergerakan tanah.
Risiko tersebut perlu mendapat perhatian khusus, terutama ketika hujan deras mulai mengguyur kawasan yang sebelumnya mengalami musim kemarau panjang.
Karena itu, ia meminta seluruh jajaran meningkatkan langkah antisipasi dan memperkuat koordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).
“Saya mohon keantisipasiannya lebih ditingkatkan dan koordinasi dengan Forkopimcam juga harus ditingkatkan, karena kolaborasi ini menjadi kunci untuk mewujudkan kesiapsiagaan. Harapannya kita sampai dengan kondisi siaga saja, tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, segala sesuatu harus kita siapkan,” tegas Amalia.
Ia juga meminta para camat segera meneruskan hasil rapat koordinasi kepada pemerintah desa. Pembagian tugas yang jelas diperlukan agar langkah pencegahan maupun penanganan darurat dapat dilakukan secara cepat dan terarah.
Menurutnya, masyarakat juga harus terlibat aktif dalam mitigasi bencana. Warga diminta segera menyampaikan informasi apabila menemukan gejala alam yang berpotensi menimbulkan bencana di lingkungan masing-masing.
“Lebih dari 70 persen wilayah Banjarnegara rawan bencana. Ini harus menjadi kewaspadaan bersama. Kami mengimbau seluruh masyarakat ikut berpartisipasi meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan dengan memberikan informasi sekecil apa pun terkait potensi bencana,” katanya.
BPBD Catat Tujuh Kejadian di Awal Musim Hujan
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, mengungkapkan bahwa meskipun curah hujan saat ini masih dalam kategori normal, potensi bencana di Banjarnegara tetap tergolong tinggi.
Bahkan, tujuh kejadian bencana telah tercatat sejak awal musim hujan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman bencana tetap harus diantisipasi meskipun intensitas hujan belum mencapai puncaknya.
Untuk mengurangi risiko, BPBD terus memperkuat mitigasi berbasis masyarakat. Langkah yang dilakukan antara lain menutup rekahan tanah, membersihkan saluran drainase, serta melakukan penanaman pohon sebagai upaya pencegahan jangka panjang.
BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) serta Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) untuk mengantisipasi pohon tumbang akibat angin kencang.
Aji mengingatkan warga yang tinggal di kawasan rawan longsor agar tidak mengabaikan tanda-tanda awal pergerakan tanah. Di antaranya munculnya retakan pada permukaan tanah, perubahan kondisi lereng, hingga guguran tanah.
“Jangan sampai masyarakat menganggap remeh gejala awal seperti retakan tanah atau gunturan yang sering kali dianggap biasa sebelum akhirnya terjadi longsor. Kami berharap masyarakat tetap tenang, tetapi senantiasa waspada,” ujarnya.
Ia juga mengimbau warga segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman apabila hujan lebat berlangsung dengan intensitas tinggi dan durasi cukup lama.
Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar lereng, tebing, dan kawasan yang memiliki riwayat longsor.
BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan Januari-Maret 2027
Ancaman bencana hidrometeorologi di Banjarnegara diperkirakan masih perlu diwaspadai dalam beberapa bulan mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Banjarnegara mulai memasuki musim hujan pada awal November 2026.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo, menjelaskan bahwa curah hujan pada November diperkirakan masih berada dalam kategori menengah.
Namun, intensitas hujan diprediksi meningkat pada Desember 2026 hingga Januari 2027, dengan kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027.
Hery mengingatkan, masyarakat juga perlu mewaspadai kondisi cuaca pada masa pancaroba. Sebab, masa peralihan musim berpotensi memicu hujan lebat dengan intensitas tinggi meskipun durasinya relatif singkat.
“Fenomena cuaca pada masa pancaroba ini bisa berpotensi memicu hujan lebat dengan durasi singkat yang sangat intensif, sehingga masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan antisipasi terhadap potensi bencana,” katanya.
Kenali Tanda Longsor, Jangan Tunggu Kondisi Memburuk
Menghadapi potensi peningkatan curah hujan, masyarakat Banjarnegara diminta tidak menunggu hingga terjadi bencana untuk melakukan langkah antisipasi.
Warga yang tinggal di kawasan rawan perlu rutin memantau kondisi tanah, lereng, tebing, dan saluran air di sekitar permukiman.
Munculnya retakan tanah, pohon atau tiang yang mulai miring, serta guguran material pada lereng harus menjadi perhatian serius. Jika hujan deras berlangsung lama dan kondisi lingkungan menunjukkan tanda bahaya, warga diminta segera menjauh dari lokasi berisiko dan menuju tempat yang lebih aman.
Membersihkan drainase, menjaga lingkungan, mengenali jalur evakuasi, serta segera melaporkan potensi bahaya kepada pemerintah desa atau petugas BPBD menjadi langkah sederhana yang dapat menyelamatkan jiwa.
Dengan tujuh kejadian bencana yang sudah tercatat pada awal musim hujan dan prediksi peningkatan curah hujan hingga awal 2027, kewaspadaan seluruh masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana di Banjarnegara.
