KABARBANYUMASRAYA.COM – Menghadapi ancaman tanah longsor menjelang musim hujan, Polres Banjarnegara mengajak masyarakat Kecamatan Pagentan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan bencana. Edukasi kebencanaan digelar di GOR Desa Gumingsir, Rabu (21/10/2026), dengan melibatkan relawan dan kelompok masyarakat tangguh bencana.
Kegiatan ini menggandeng Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Pagentan serta Desa Tangguh Bencana (Destana) Gumingsir dan Aribaya. Sosialisasi difokuskan pada pengenalan risiko longsor, deteksi dini tanda-tanda bahaya, serta langkah penyelamatan untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Kapolres Banjarnegara AKBP Dr. Aruma Chandra Dewi menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dibangun sejak dini melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya ketika bencana terjadi.
“Penanganan bencana bukan tugas pemerintah, TNI, Polri atau BPBD semata, tetapi merupakan tugas kita bersama seluruh elemen masyarakat dan para relawan. Kita harus bersinergi dan berkolaborasi sejak sebelum terjadinya bencana, saat terjadi bencana, hingga pascabencana,” ujarnya.
Warga Diminta Waspadai Tanda-Tanda Tanah Longsor
Wilayah Desa Gumingsir yang berada di kawasan perbukitan dengan kondisi tanah relatif labil membutuhkan perhatian khusus, terutama ketika hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama.
Masyarakat diminta mengenali perubahan kondisi lingkungan di sekitar rumah, khususnya di kawasan lereng dan lokasi yang berpotensi mengalami pergerakan tanah. Kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal longsor menjadi langkah penting untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Selain mengenali potensi bahaya, warga perlu mengetahui jalur evakuasi, lokasi pengungsian, serta pihak yang harus dihubungi ketika muncul indikasi bencana.
Kapolres menekankan empat langkah penting dalam menghadapi ancaman bencana, yakni memahami sistem peringatan dini, melakukan pencegahan, meningkatkan kesiapsiagaan dan pemahaman jalur evakuasi, serta memperkuat koordinasi antarwarga dan instansi terkait.
Perhatian juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, dan penyandang disabilitas, agar proses penyelamatan dapat berlangsung lebih cepat dan aman.
FPRB dan Destana Perkuat Kesiapsiagaan Desa
Keterlibatan FPRB Pagentan serta Destana Gumingsir dan Aribaya diharapkan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat hingga tingkat desa. Keberadaan kelompok tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi, menyebarkan informasi kebencanaan, dan mendukung langkah evakuasi sebelum bantuan dari luar tiba.
Menurut Aruma, koordinasi antara aparat keamanan, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar penanganan bencana berjalan lebih efektif.
Ia juga mengingatkan agar edukasi kebencanaan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari kita jadikan kegiatan ini bukan hanya seremonial, tetapi benar-benar kita amalkan dalam kehidupan kita,” katanya.
Melalui sosialisasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami potensi bahaya di lingkungannya dan mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.
Penguatan kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana di Banjarnegara. Dengan pengetahuan yang memadai, koordinasi yang kuat, dan kepedulian bersama, warga diharapkan lebih siap melindungi keselamatan jiwa serta meminimalkan dampak longsor selama musim hujan.
