KABARBANYUMASRAYA.COM – Tumpukan limbah pencucian pasir putih di Desa Petir, Banjarnegara, mulai diubah menjadi produk bernilai ekonomi. Hasil uji coba menunjukkan bata merah yang dihasilkan memiliki tekstur lebih halus dan kekuatan yang menjanjikan.
Limbah hasil pencucian pasir putih yang selama ini menumpuk di Desa Petir, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mulai mendapat solusi inovatif.
Material sisa tersebut kini diuji coba sebagai bahan baku bata merah melalui kolaborasi warga dengan pengrajin bata merah dari Desa Panggisari, Kecamatan Mandiraja.
Wakil Ketua DPRD Banjarnegara Bambang Suparno mengatakan, pemanfaatan limbah tersebut masih berada pada tahap uji coba. Namun, hasil awal menunjukkan peluang yang cukup besar untuk mengurangi timbunan limbah sekaligus menghasilkan produk bernilai jual.
“Limbah dari hasil cucian pasir ini biasanya menjadi masalah setiap tahun. Alhamdulillah kita bekerja sama dengan pengrajin bata merah di Desa Panggisari,” ujar Bambang.
Limbah Cucian Pasir Putih Bisa Kurangi Timbunan hingga 70 Persen
Proses pengolahan dimulai dengan mengeringkan material sisa pencucian pasir putih. Setelah itu, bahan dimasukkan ke mesin untuk diproses menjadi bahan baku bata.
Saat ini baru tersedia satu unit mesin yang digunakan untuk menguji proses produksi. Jika hasilnya konsisten, pemanfaatan limbah diperkirakan dapat mengurangi timbunan hingga sekitar 70 persen.
Namun, kapasitas pengolahan limbah pasir putih menjadi bata merah masih terbatas, sehingga diperlukan tambahan mesin untuk mempercepat proses.
“Kalau diangkat semua nanti perlu mesin satu lagi, karena ini baru ada satu mesin untuk dicoba,” kata Bambang.
Bata Hasil Limbah Dinilai Lebih Halus dan Kuat
Pengrajin bata merah asal Desa Petir, Atong Subianto, menilai hasil uji coba cukup menjanjikan.
Setelah melalui proses pembakaran, bata yang dibuat menggunakan material limbah cucian pasir tersebut memiliki permukaan yang lebih halus dan kekuatan yang dinilai baik.
“Memang masih uji coba, tetapi dari hasil pembakaran sementara sangat memuaskan. Bata merahnya lebih halus dan lebih kuat,” ujar Atong.
Menurut Atong, potensi pemanfaatannya juga tidak terbatas pada bata merah. Material tersebut masih bisa dikembangkan menjadi bata tempel maupun bata hias.
Berpotensi Jadi Sumber Ekonomi Warga
Pengolahan limbah ini tidak hanya ditujukan untuk mengurangi persoalan lingkungan. Warga sekitar, terutama masyarakat yang terdampak timbunan limbah dan berada di sekitar aliran sungai, diharapkan dapat dilibatkan dalam proses produksi.
Dengan begitu, limbah yang sebelumnya menjadi persoalan dapat diubah menjadi peluang usaha baru.
Untuk tahap awal, bata hasil pengolahan tersebut diperkirakan akan dipasarkan dengan harga sekitar Rp600 hingga Rp650 per buah.
Jika uji coba berhasil dan dukungan peralatan dapat ditambah, pengolahan limbah cucian pasir di Desa Petir berpeluang menjadi model pemanfaatan limbah berbasis masyarakat.
Material yang sebelumnya menumpuk dan berpotensi mengganggu lingkungan kini mulai diarahkan menjadi bahan bangunan sekaligus sumber pendapatan baru bagi warga Banjarnegara.
*Ikuti media sosial kami.
