Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Reading: Sopir Angkot Ngadu ke DPRD Cilacap, Minta Odong-odong Ditertibkan
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Follow US
© 2026 kabarbanyumasraya.com.
Kabar Banyumas Raya > Artikel > Cilacap > Sopir Angkot Ngadu ke DPRD Cilacap, Minta Odong-odong Ditertibkan
Cilacap

Sopir Angkot Ngadu ke DPRD Cilacap, Minta Odong-odong Ditertibkan

Reza Sanjaya
Last updated: 3 Juli 2026 09:29
By Reza Sanjaya
0 Min Read
Share
Sopir
SHARE

CILACAP – Puluhan sopir angkutan kota (angkot), angkutan pedesaan, dan mikrobus mendatangi DPRD Kabupaten Cilacap, Kamis (2/7/2026). Mereka mengadukan maraknya operasional odong-odong di jalan raya yang dinilai menggerus pendapatan angkutan umum resmi sekaligus meminta pemerintah bertindak tegas terhadap kendaraan yang disebut ilegal tersebut.

Contents
  • Pendapatan Sopir Angkot Terus Menurun
  • Tiga Kesepakatan Hasil Audiensi
  • DPRD Dorong Penegakan Aturan dan Solusi Berkeadilan

 

Aspirasi para sopir diterima Ketua Komisi C Komisi C DPRD Cilacap Mitra Patriasmoro dalam audiensi yang juga dihadiri Dinas Perhubungan, Satlantas Polresta Cilacap, serta Dewan Pimpinan Cabang Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Cilacap. Pertemuan itu menghasilkan tiga poin kesepakatan, termasuk penegasan bahwa odong-odong tidak dapat digunakan sebagai angkutan di jalan raya.

 

Pendapatan Sopir Angkot Terus Menurun

 

Ketua Koperasi Angkutan Kota (Kopata) Cilacap, Saliman, mengatakan keberadaan odong-odong membuat jumlah penumpang angkutan umum terus menurun. Padahal, menurutnya, para pengusaha dan sopir angkutan umum telah memenuhi seluruh ketentuan yang diwajibkan pemerintah, mulai dari uji KIR hingga pembayaran pajak kendaraan.

 

“Tuntutannya, agar odong-odong tidak beroperasi di jalan raya, karena penumpang kami jadi sepi. Kami minta aturan yang ada untuk diterapkan,” kata Saliman.

 

Senada dengan itu, Ketua DPC Organda Kabupaten Cilacap, Budi Sadewo, menegaskan pihaknya mendampingi para sopir angkot, angkutan pedesaan, dan mikrobus untuk meminta pemerintah menegakkan aturan yang telah berlaku.

 

Menurutnya, hasil audiensi telah menyepakati bahwa odong-odong merupakan angkutan ilegal sehingga perlu dilakukan penertiban oleh instansi terkait.

 

“Alhamdulillah pada saat audiensi juga sudah disepakati bersama antara kita, Dishub, kepolisian, maupun DPR bahwa memang odong-odong itu adalah angkutan ilegal. Oleh karena itu kami berharap pemerintah melalui Dishub, DPR maupun kepolisian bisa menertibkan angkutan odong-odong,” ujar Sadewo.

 

Ia mengungkapkan, saat ini odong-odong tidak hanya digunakan sebagai wahana wisata, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang sekolah, kegiatan hajatan, hingga acara masyarakat lainnya. Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap pendapatan sopir angkutan umum.

 

“Pendapatan teman-teman sangat berkurang. Sepi, kosong, sangat merugikan karena itu kendaraan ilegal,” tegasnya.

 

Tiga Kesepakatan Hasil Audiensi

 

Audiensi antara perwakilan sopir angkutan umum, DPRD, Dishub, kepolisian, dan Organda menghasilkan tiga poin kesepakatan yang dituangkan dalam notulensi bersama.

 

Poin pertama menegaskan bahwa odong-odong atau kereta kelinci merupakan kendaraan ilegal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemilik odong-odong diminta mengembangkan usaha transportasi sesuai regulasi yang berlaku.

 

Poin kedua menyebutkan bahwa kesepakatan sebelumnya antara paguyuban odong-odong, kepolisian, Dinas Perhubungan, dan Jasa Raharja pada Januari 2026 tetap berlaku. Apabila masih ditemukan pelanggaran, maka akan dilakukan penindakan oleh aparat penegak hukum.

 

Sementara poin ketiga, Pemerintah Kabupaten Cilacap diminta menerbitkan surat edaran kepada seluruh instansi pemerintah, organisasi masyarakat, hingga lembaga di Kabupaten Cilacap agar tidak menggunakan odong-odong sebagai sarana transportasi.

 

DPRD Dorong Penegakan Aturan dan Solusi Berkeadilan

 

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cilacap, Suyatno, mengatakan pihaknya menerima seluruh aspirasi yang disampaikan para sopir angkutan umum. Dalam audiensi tersebut, DPRD sengaja menghadirkan seluruh instansi yang memiliki kewenangan agar persoalan dapat dibahas secara menyeluruh.

 

“Curhatan mereka kami terima. Di dalam pertemuan tadi kami juga sengaja mengundang kepolisian, Dishub, Satpol PP, dan instansi terkait,” katanya.

 

Menurut Suyatno, berdasarkan hasil pembahasan bersama, odong-odong dinilai tidak memenuhi persyaratan sebagai kendaraan yang laik jalan karena tidak memiliki izin maupun perlengkapan keselamatan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

 

“Disampaikan dalam audiensi bahwa itu kendaraan yang tidak laik jalan karena memang tidak ada izinnya. Selanjutnya kami serahkan kepada kepolisian dan Dishub sesuai tugas dan kewenangannya,” ujarnya.

 

Meski demikian, DPRD juga meminta pemerintah daerah mempertimbangkan aspek keadilan dalam menentukan langkah lanjutan. Sebab, baik pemilik odong-odong maupun pelaku usaha angkutan umum sama-sama menggantungkan penghidupan dari sektor transportasi.

 

“Kami memberikan masukan kepada Pemkab agar segera menindaklanjuti hasil audiensi ini. Harapannya tentu ada solusi terbaik yang memberikan rasa keadilan bagi semua pihak,” pungkasnya.

Maju Calon Kades Gentasari, Eko Priyono Siapkan Program Infrastruktur
Proyek Embung Tak Boleh Ganggu Sawah yang Dilindungi
Reses di Cilacap, David Ishaq Aryadi Serap Aspirasi Warga dan Paparkan Program Pembangunan
Tergerak Perjuangan Guru Muchtar, Sekda Jateng Telusuri Perjalanan Panjang ke Sekolah Terluar Cilacap
1,7 Juta Batang Rokok Ilegal di Kebumen Diamankan Bea Cukai Cilacap
TAGGED:kopatakopradesorgandaSopir angkot
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Public Expose BPJS Kesehatan Kepesertaan JKN Tembus 98,62 Persen, BPJS Kesehatan Catat Lebih dari 725 Juta Layanan
Next Article Ahmad Luthfi Desak Raperda Perlindungan Pekerja Informal Segera Disahkan di Jawa Tengah Ahmad Luthfi Desak Raperda Perlindungan Pekerja Informal Segera Disahkan

Berita Terbaru

GPM Jawa Tengah digelar 1.724 kali dengan transaksi Rp31 miliar. Ahmad Luthfi menekankan keterjangkauan harga pangan dan perlindungan petani.
Dorong Harga Pangan Jateng Terjangkau, Jateng Gelar 1.724 Kali GPM Tembus Rp31 Miliar
Banjarnegara Jateng Purbalingga
Kapolres Banjarnegara saat melakukan soslaisasi kewaspadaan di daerah rawan longsor
Rawan Longsor, Polres Banjarnegara Minta Warga Pagentan Siaga Jelang Musim Hujan
Banjarnegara
Sebanyak 62 pasangan mengikuti Santri Mantu di MAJT Semarang. Wagub Jateng Taj Yasin mengapresiasi program nikah akbar yang juga mendukung kemandirian ekonomi keluarga.
62 Pasangan Ikuti Santri Mantu di MAJT, Wagub Jateng Beri Apresiasi
Jateng
Peresmian sumur permanen di Desa Kaliajir menjadi satu solusi dalam penanganan krisis air bersih di desa tersebut.
Atasi Kekeringan, Polres Banjarnegara Resmikan Sumur Air Bersih di Desa Kaliajir
Banjarnegara
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
© 2026 kabarbanyumasraya.com. All Rights Reserved.