ZIKIR dan dan toriqoh menjadi fondasi membangun karakter, integritas, serta pemerintahan yang bersih. Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin saat menghadiri Manaqib Qubra JATMAN Jateng-DIY di Ponpes Al Ihya Ulumaddin Cilacap.
Pada kesempatan tersebut, Wagub Taj Yasin juga menegaskan bahwa ajaran toriqoh memiliki peran strategis dalam membentuk karakter masyarakat yang berakhlak mulia sekaligus menjadi benteng moral untuk mencegah berbagai perbuatan tercela, termasuk praktik korupsi.
Tak hanya itu, Gus Yasin juga menekankan bahwa toriqoh bukan sekadar amalan spiritual, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perkuat Spiritualitas dan Integritas Masyarakat
Menurut Gus Yasin, zikir yang menjadi amalan utama dalam toriqoh tidak hanya memberikan manfaat bagi pribadi maupun jamaah, tetapi juga menjadi doa untuk keselamatan masyarakat, bangsa, dan pemerintahan.
Ia berharap para ulama dan jamaah toriqoh terus mengiringi para pemimpin dengan doa agar mampu menjalankan amanah secara jujur, adil, dan bertanggung jawab.
“Semoga jalannya roda pemerintahan masuk dalam doa-doa panjenengan. Pemerintahan akan berlangsung dengan baik berkat doa ahli toriqoh dan ulama,” kata Taj Yasin.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguatan keimanan merupakan ajaran pertama yang ditanamkan Rasulullah SAW kepada umat Islam. Karena itu, toriqoh menjadi salah satu jalan untuk memperdalam kedekatan kepada Allah SWT sekaligus membentuk pribadi yang memiliki integritas tinggi.
Menurutnya, seseorang yang istiqamah berzikir akan memiliki kesadaran spiritual yang membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak serta menjauhi perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
“Zikir itu membuat takut kepada Allah, sehingga dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang kurang terpuji,” tegasnya.
Ia menilai nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam membangun masyarakat yang jujur, beretika, dan bebas dari praktik korupsi maupun penyalahgunaan wewenang.
Ulama dan Ahli Toriqoh Berkontribusi dalam Sejarah Bangsa
Dalam kesempatan yang sama, Rais JATMAN Jawa Tengah–DIY, KH Achmad Chalwani Nawawi, mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran ulama, pesantren, dan para ahli toriqoh.
Menurutnya, banyak tokoh bangsa yang memiliki kedekatan dengan tradisi pesantren dan nilai-nilai spiritual, di antaranya Mohammad Hatta dan Pangeran Diponegoro.
Ia menegaskan, warisan spiritual yang ditanamkan para ulama telah menjadi fondasi penting dalam perjuangan bangsa, sekaligus menjadi pedoman moral untuk menjaga persatuan, memperkuat karakter, dan membangun Indonesia yang lebih baik.
Kegiatan Manaqib Qubra JATMAN Jateng–DIY di Ponpes Al Ihya Ulumaddin pun menjadi momentum mempererat silaturahmi para jamaah sekaligus memperkokoh nilai-nilai keislaman yang moderat, damai, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
