KABARBANYUMASRAYA.COM – Musim kemarau membuat perjuangan petani kentang di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, semakin berat.
Saat sumber air mulai menyusut, petani terpaksa mengeluarkan biaya tambahan agar tanaman kentang tetap mendapatkan pasokan air hingga masa panen.
Salah satu tumpuan mereka adalah Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur. Telaga ini menjadi sumber air bagi ratusan petani kentang yang menggarap lahan pertanian di kawasan Dieng.
Namun, debit air yang terus menurun mulai memunculkan kekhawatiran. Di sisi lain, kebutuhan air untuk tanaman tidak bisa dihentikan karena sebagian kentang sudah mendekati masa panen.
Mesin Pompa Berjajar di Tepi Telaga Merdada
Pemandangan mesin pompa air berjajar di tepian Telaga Merdada menjadi gambaran perjuangan petani menghadapi kemarau.
Mesin tersebut digunakan untuk menyedot air dari telaga dan mengalirkannya menuju lahan pertanian. Sebagian lahan berada di kawasan perbukitan dengan jarak cukup jauh dari sumber air.
Aktivitas penyedotan bahkan telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Petani harus menyalakan pompa secara rutin agar tanaman tidak kekurangan air. Konsekuensinya, kebutuhan bahan bakar solar ikut meningkat.
Dalam sehari, satu mesin pompa dapat membutuhkan sekitar 8 hingga 15 liter solar.
Kebutuhan tersebut bisa bertambah jika air harus dialirkan menuju lahan yang lebih tinggi atau berjarak jauh dari Telaga Merdada.
Bahkan, sejumlah lahan pertanian berada sekitar 1,5 kilometer dari telaga.
Biaya Produksi Kentang Makin Berat
Petani Dieng, Supri, mengatakan kekeringan membuat biaya produksi kentang semakin tinggi.
Sebelumnya, petani harus mengeluarkan modal untuk membeli bibit, pupuk, obat tanaman, serta membayar tenaga kerja. Kini, biaya penyiraman menjadi beban tambahan yang tidak bisa dihindari.
Kondisi tersebut semakin sulit karena kenaikan biaya produksi tidak diikuti harga kentang yang lebih tinggi.
Saat ini, harga kentang di tingkat petani berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram.
“Untuk menyelamatkan tanaman, pompa air terus dinyalakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman,” kata Supri.
Bagi petani, pilihan untuk membiarkan tanaman tanpa air bukanlah solusi. Kentang yang sudah mendekati masa panen tetap harus dipertahankan agar tidak rusak atau mati sebelum bisa dipanen.
Harga Kentang Rp10 Ribu, Solar Terus Terbakar
Kondisi ini menempatkan petani dalam posisi serba sulit.
Di satu sisi, mereka harus mengeluarkan modal lebih besar untuk menjaga tanaman. Di sisi lain, harga jual kentang masih berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram.
Artinya, setiap liter solar yang digunakan untuk mengalirkan air menjadi biaya tambahan yang langsung mengurangi potensi keuntungan petani.
Jika kemarau berlangsung lebih panjang, pengeluaran tersebut berpotensi terus bertambah.
Beban petani pun bukan hanya soal memastikan tanaman bertahan hidup, tetapi juga menjaga agar biaya produksi tidak semakin jauh melampaui pendapatan saat panen.
Debit Telaga Merdada Terus Menyusut
Persoalan lain yang mulai dikhawatirkan petani adalah kondisi Telaga Merdada itu sendiri.
Rosikin, salah seorang petani, mengatakan debit air telaga terus mengalami penyusutan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran jika kemarau berlangsung lebih lama dan penyedotan air tetap dilakukan setiap hari.
Menurut dia, cadangan air Telaga Merdada bisa semakin menipis jika tidak segera mendapat tambahan dari hujan.
Kekhawatiran petani juga bertambah karena sebagian permukaan telaga dipenuhi tanaman eceng gondok.
Pertumbuhan eceng gondok dinilai mengganggu kondisi telaga dan menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika debit air sedang turun.
Petani Kentang Berharap Hujan Segera Turun
Bagi petani kentang Dieng, Telaga Merdada bukan sekadar telaga di kawasan pegunungan.
Sumber air tersebut menjadi penopang penting bagi aktivitas pertanian ketika sumber air lain mulai mengering akibat kemarau.
Karena itu, petani kentang berharap hujan segera turun untuk mengisi kembali Telaga Merdada dan sumber-sumber air lainnya.
“Tentu saja kami para petani kentang berharap musim kemarau segera berakhir sehingga hujan kembali turun dan mengisi sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan pertanian,” ujar Rosikin.
Jika hujan belum juga datang, petani kentang harus menghadapi dua tekanan sekaligus: ancaman kekurangan air dan biaya operasional yang semakin besar.
Di tengah harga kentang yang masih sekitar Rp10 ribu per kilogram, perjuangan mempertahankan tanaman dengan pompa berbahan bakar solar menjadi beban tambahan yang berpotensi menggerus pendapatan petani.
Bagi mereka, hujan bukan hanya harapan untuk mengakhiri kemarau. Turunnya hujan juga menjadi penentu agar tanaman kentang dapat bertahan sampai panen tanpa membuat biaya produksi semakin membengkak.
