Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Reading: Air Telaga Merdada Kian Menyusut, Begini Perjuangan Petani Kentang Dieng Bertahan
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Follow US
© 2026 kabarbanyumasraya.com.
Kabar Banyumas Raya > Artikel > Banjarnegara > Air Telaga Merdada Kian Menyusut, Begini Perjuangan Petani Kentang Dieng Bertahan
Banjarnegara

Air Telaga Merdada Kian Menyusut, Begini Perjuangan Petani Kentang Dieng Bertahan

Afifah Anis CH
Last updated: 7 Oktober 2026 18:06
By Afifah Anis CH
5 Min Read
Share
Telaga Merdada menyusut akibat kemarau. Petani kentang Dieng harus membeli solar hingga 15 liter per hari demi menyelamatkan tanaman menjelang panen
Telaga Merdada menyusut akibat kemarau. Petani kentang Dieng harus membeli solar hingga 15 liter per hari demi menyelamatkan tanaman menjelang panen. (dok. warga)
SHARE

KABARBANYUMASRAYA.COM –  Musim kemarau membuat perjuangan petani kentang di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, semakin berat.

Contents
  • Mesin Pompa Berjajar di Tepi Telaga Merdada
  • Biaya Produksi Kentang Makin Berat
  • Harga Kentang Rp10 Ribu, Solar Terus Terbakar
  • Debit Telaga Merdada Terus Menyusut
  • Petani Kentang Berharap Hujan Segera Turun

Saat sumber air mulai menyusut, petani terpaksa mengeluarkan biaya tambahan agar tanaman kentang tetap mendapatkan pasokan air hingga masa panen.

Salah satu tumpuan mereka adalah Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur. Telaga ini menjadi sumber air bagi ratusan petani kentang yang menggarap lahan pertanian di kawasan Dieng.

Namun, debit air yang terus menurun mulai memunculkan kekhawatiran. Di sisi lain, kebutuhan air untuk tanaman tidak bisa dihentikan karena sebagian kentang sudah mendekati masa panen.

Mesin Pompa Berjajar di Tepi Telaga Merdada

Pemandangan mesin pompa air berjajar di tepian Telaga Merdada menjadi gambaran perjuangan petani menghadapi kemarau.

Mesin tersebut digunakan untuk menyedot air dari telaga dan mengalirkannya menuju lahan pertanian. Sebagian lahan berada di kawasan perbukitan dengan jarak cukup jauh dari sumber air.

Aktivitas penyedotan bahkan telah berlangsung lebih dari dua bulan.

Petani harus menyalakan pompa secara rutin agar tanaman tidak kekurangan air. Konsekuensinya, kebutuhan bahan bakar solar ikut meningkat.

Dalam sehari, satu mesin pompa dapat membutuhkan sekitar 8 hingga 15 liter solar.

Kebutuhan tersebut bisa bertambah jika air harus dialirkan menuju lahan yang lebih tinggi atau berjarak jauh dari Telaga Merdada.

Bahkan, sejumlah lahan pertanian berada sekitar 1,5 kilometer dari telaga.

Biaya Produksi Kentang Makin Berat

Petani Dieng, Supri, mengatakan kekeringan membuat biaya produksi kentang semakin tinggi.

Sebelumnya, petani harus mengeluarkan modal untuk membeli bibit, pupuk, obat tanaman, serta membayar tenaga kerja. Kini, biaya penyiraman menjadi beban tambahan yang tidak bisa dihindari.

Kondisi tersebut semakin sulit karena kenaikan biaya produksi tidak diikuti harga kentang yang lebih tinggi.

Saat ini, harga kentang di tingkat petani berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram.

“Untuk menyelamatkan tanaman, pompa air terus dinyalakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman,” kata Supri.

Bagi petani, pilihan untuk membiarkan tanaman tanpa air bukanlah solusi. Kentang yang sudah mendekati masa panen tetap harus dipertahankan agar tidak rusak atau mati sebelum bisa dipanen.

Harga Kentang Rp10 Ribu, Solar Terus Terbakar

Kondisi ini menempatkan petani dalam posisi serba sulit.

Di satu sisi, mereka harus mengeluarkan modal lebih besar untuk menjaga tanaman. Di sisi lain, harga jual kentang masih berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram.

Artinya, setiap liter solar yang digunakan untuk mengalirkan air menjadi biaya tambahan yang langsung mengurangi potensi keuntungan petani.

Jika kemarau berlangsung lebih panjang, pengeluaran tersebut berpotensi terus bertambah.

Beban petani pun bukan hanya soal memastikan tanaman bertahan hidup, tetapi juga menjaga agar biaya produksi tidak semakin jauh melampaui pendapatan saat panen.

Debit Telaga Merdada Terus Menyusut

Persoalan lain yang mulai dikhawatirkan petani adalah kondisi Telaga Merdada itu sendiri.

Rosikin, salah seorang petani, mengatakan debit air telaga terus mengalami penyusutan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran jika kemarau berlangsung lebih lama dan penyedotan air tetap dilakukan setiap hari.

Menurut dia, cadangan air Telaga Merdada bisa semakin menipis jika tidak segera mendapat tambahan dari hujan.

Kekhawatiran petani juga bertambah karena sebagian permukaan telaga dipenuhi tanaman eceng gondok.

Pertumbuhan eceng gondok dinilai mengganggu kondisi telaga dan menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika debit air sedang turun.

Petani Kentang Berharap Hujan Segera Turun

Bagi petani kentang Dieng, Telaga Merdada bukan sekadar telaga di kawasan pegunungan.

Sumber air tersebut menjadi penopang penting bagi aktivitas pertanian ketika sumber air lain mulai mengering akibat kemarau.

Karena itu, petani kentang berharap hujan segera turun untuk mengisi kembali Telaga Merdada dan sumber-sumber air lainnya.

“Tentu saja kami para petani kentang berharap musim kemarau segera berakhir sehingga hujan kembali turun dan mengisi sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan pertanian,” ujar Rosikin.

Jika hujan belum juga datang, petani kentang harus menghadapi dua tekanan sekaligus: ancaman kekurangan air dan biaya operasional yang semakin besar.

Di tengah harga kentang yang masih sekitar Rp10 ribu per kilogram, perjuangan mempertahankan tanaman dengan pompa berbahan bakar solar menjadi beban tambahan yang berpotensi menggerus pendapatan petani.

Bagi mereka, hujan bukan hanya harapan untuk mengakhiri kemarau. Turunnya hujan juga menjadi penentu agar tanaman kentang dapat bertahan sampai panen tanpa membuat biaya produksi semakin membengkak.

PGRI Ditantang Bertransformasi Hadapi Perubahan Global
Pemkab Banjarnegara Verifikasi 21 Gedung KDKMP, Pastikan Siap Digunakan
Bukan Sekadar Berdoa Minta Hujan, PLN UBP Mrica Soroti Pentingnya Menjaga DAS Serayu
Domba Batur Seberat 109 Kg Jadi Sorotan di DCF 2026, Bukti Ternak Unggulan Khas Dieng
Pesilat Muda Banjarnegara Siap Harumkan Nama Indonesia
TAGGED:harga kentang Diengkekeringan Diengkekurangan airkemarau di Diengpertanian Dieng.petani kentangpetani kentang Banjarnegaratelaga merdada
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Pemkab Banjarnegara mendorong KDMP berani berinovasi dengan mengembangkan potensi desa, menggandeng UMKM dan BUMDes, serta memanfaatkan digitalisasi. Pemkab Banjarnegara Minta KDMP Berani Berinovasi, Potensi Desa Jadi Kunci Penggerak Ekonomi
Next Article Inacraft 2026, Taj Yasin, UMKM Jateng, produk UMKM Jawa Tengah, Dekranasda Jawa Tengah, pasar global, ekspor UMKM, produk kriya Jawa Tengah Inacraft 2026 Jadi Jalan UMKM Jateng Tembus Pasar Global, Taj Yasin Soroti Produk yang Siap Ekspor

Berita Terbaru

GPM Jawa Tengah digelar 1.724 kali dengan transaksi Rp31 miliar. Ahmad Luthfi menekankan keterjangkauan harga pangan dan perlindungan petani.
Dorong Harga Pangan Jateng Terjangkau, Jateng Gelar 1.724 Kali GPM Tembus Rp31 Miliar
Banjarnegara Jateng Purbalingga
Kapolres Banjarnegara saat melakukan soslaisasi kewaspadaan di daerah rawan longsor
Rawan Longsor, Polres Banjarnegara Minta Warga Pagentan Siaga Jelang Musim Hujan
Banjarnegara
Sebanyak 62 pasangan mengikuti Santri Mantu di MAJT Semarang. Wagub Jateng Taj Yasin mengapresiasi program nikah akbar yang juga mendukung kemandirian ekonomi keluarga.
62 Pasangan Ikuti Santri Mantu di MAJT, Wagub Jateng Beri Apresiasi
Jateng
Peresmian sumur permanen di Desa Kaliajir menjadi satu solusi dalam penanganan krisis air bersih di desa tersebut.
Atasi Kekeringan, Polres Banjarnegara Resmikan Sumur Air Bersih di Desa Kaliajir
Banjarnegara
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
© 2026 kabarbanyumasraya.com. All Rights Reserved.