SEMARANG – Program Beasiswa Santri merupakan satu upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk terus memperkuat perhatian terhadap pesantren dan santri. Memasuki Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah, berbagai program pemberdayaan digulirkan, salah satunya beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.
Program beasiswa santri tersebut menjadi bagian dari Pesantren Obah, program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Beasiswa tidak hanya diberikan untuk pendidikan di dalam negeri. Sejumlah santri juga mendapat kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri, termasuk China, Mesir, dan Yaman.
942 Orang Ikut Seleksi Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren
Program beasiswa santri dan pengasuh pesantren tahun 2026 mendapat antusiasme tinggi. Berdasarkan data Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, sebanyak 942 orang mendaftar dalam program beasiswa santri.
Rinciannya, 702 pendaftar program beasiswa santri ini merupakan seorang santri dan 240 lainnya adalah pengasuh pesantren. Setelah melalui proses seleksi akademik dan wawancara, sebanyak 73 orang dinyatakan lolos. Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah kemampuan, seperti membaca kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, pengetahuan kepesantrenan, serta wawasan kebangsaan.
Ketua LFSP Jawa Tengah Hasyim Muhammad mengatakan, program tersebut secara khusus dirancang untuk memberikan kesempatan kepada santri dan pengasuh pesantren untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
“Di luar sana banyak beasiswa, tetapi kemungkinan santri salaf sulit untuk bisa masuk. Karena itu, pemprov secara spesial memberi kesempatan ini,” ujarnya.
15 Santri Kuliah ke Luar Negeri
Dari 73 penerima beasiswa, sebanyak 15 orang mendapat beasiswa luar negeri untuk jenjang S1. Sementara 58 penerima lainnya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dalam negeri pada jenjang S1, S2, dan S3.
Untuk penerima beasiswa luar negeri, bantuan mencakup biaya pendidikan, visa, biaya hidup, asuransi kesehatan, hingga tiket pesawat pulang-pergi. Adapun penerima beasiswa dalam negeri mendapatkan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga delapan semester.
Bidang studi yang dipilih para penerima juga beragam. Di antaranya kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, pertanian, teknologi, humaniora, dan keislaman.
Hasyim mengatakan program beasiswa tersebut merupakan program perdana yang dilaksanakan pada 2026. Program serupa direncanakan kembali dibuka pada tahun-tahun berikutnya.
Santri Tetap Membawa Nilai Pesantren
Salah satu penerima beasiswa adalah Aqila Keisha Haulina, santri asal Kudus yang kini mendapat kesempatan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Aqila sebelumnya menempuh pendidikan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 2 Muria dan MA Mu’allimat NU Kudus. Ia mengaku bersyukur mendapat beasiswa karena bantuan tersebut dapat mengurangi beban orang tuanya dalam membiayai kuliah.
Sejak kecil, Aqila bercita-cita menjadi tenaga medis. Ia berharap kelak dapat menjadi dokter gigi yang tetap memegang nilai agama dan kemanusiaan.
“Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama,” katanya.
Penerima lainnya, Akhmad Khafidz Al Mubarok, mendapat kesempatan menempuh pendidikan S1 bidang Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, China. Ia memilih bidang tersebut karena sudah memiliki ketertarikan terhadap teknologi sejak kecil.
Khafidz berharap ilmu yang diperolehnya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

Pemprov Jateng Ingin Santri Percaya Diri
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, santri memiliki keunggulan karena tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga dibekali nilai keagamaan dan toleransi.
Karena itu, ia mendorong para santri penerima beasiswa agar memiliki kepercayaan diri dan mampu bersaing di berbagai bidang. Luthfi juga berharap pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah ikut terlibat dalam pengembangan program beasiswa bagi santri.
Menurutnya, pemberian beasiswa bagi santri perlu terus diperluas agar semakin banyak generasi pesantren yang memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi.
Lulusan Diminta Kembali Berkontribusi ke Pesantren
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, beasiswa tersebut bukan sekadar untuk menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik. Lebih dari itu, penerima beasiswa diharapkan memiliki keahlian yang dapat memberikan manfaat bagi pesantren dan masyarakat.
Pesantren, kata Taj Yasin, membutuhkan sumber daya manusia dengan berbagai kompetensi. Mulai dari tenaga kesehatan, pertanian, teknologi, hingga pengembangan usaha.
“Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya,” katanya.
Karena itu, para penerima beasiswa diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Mereka juga didorong untuk kembali dan berkontribusi kepada pesantren yang memberikan rekomendasi.
Penghafal Al-Qur’an Juga Mendapat Tali Asih
Selain beasiswa pendidikan, Pemprov Jawa Tengah juga memberikan tali asih atau bisyaroh kepada santri penghafal Al-Qur’an. Sejak 2025, ribuan santri telah menerima bantuan masing-masing sebesar Rp1 juta.
Taj Yasin menegaskan, pemberian tali asih tersebut tidak dibatasi oleh asal KTP. Santri yang menghafal Al-Qur’an dan belajar di pesantren di Jawa Tengah dapat memperoleh bantuan tersebut.
Penerimanya bahkan tidak hanya berasal dari Jawa Tengah. Sejumlah santri dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta, hingga Kalimantan juga mendapatkan tali asih. Program tersebut diharapkan menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap para penghafal Al-Qur’an sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pesantren di Jawa Tengah.
Memasuki usia ke-81, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempatkan pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia.
Melalui beasiswa dan berbagai program pemberdayaan, para santri diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kepesantrenan.
*Ikuti media sosial kami.
