SEMARANG – Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) Jawa Tengah telah menjangkau 1.378 desa dan melayani lebih dari 128 ribu warga hingga 13 Agustus 2026. Melalui program ini, warga desa tak perlu lagi menempuh puluhan kilometer untuk mendapatkan pelayanan dokter spesialis.
- Dari Wonosobo hingga Kendal, Speling Hadir Dekat dengan Warga
- Speling Jangkau 1.378 Desa di Jawa Tengah
- Total Penerima Layanan Telah Mencapai 128.109 Warga.
- Speling Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis
- Ahmad Luthfi: Layanan Kesehatan Harus Sampai ke Desa
- Speling Ditargetkan Layani 284 Ribu Warga hingga Akhir 2026
Bagi Retno, warga Desa Kapulogo, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, mendapatkan layanan dokter spesialis bukan perkara mudah. Rumahnya berjarak sekitar 36 kilometer dari rumah sakit terdekat. Keterbatasan kendaraan bahkan sempat membuat pengobatan anaknya terhenti.
Kini, persoalan jarak itu perlahan teratasi. Melalui Program Dokter Spesialis Keliling (Speling), layanan kesehatan yang selama ini identik dengan rumah sakit dibawa langsung mendekati masyarakat desa.
Ketika layanan Speling hadir di Balai Desa Kapulogo, Wonosobo, Retno kembali mendapatkan kesempatan untuk memeriksakan dirinya sekaligus membawa anaknya berkonsultasi dengan dokter spesialis.
Anaknya diketahui mengalami gangguan pembekuan darah di otak dan membutuhkan pemeriksaan dokter spesialis saraf. Kondisi ekonomi dan keterbatasan transportasi sebelumnya menjadi hambatan untuk melanjutkan pengobatan.
“Saya terbantu. Kendala kami memang tidak punya kendaraan, jadi sempat berhenti berobat. Dari sini kami bisa berobat lagi,” ujar Retno.
Kisah Retno menjadi gambaran bagaimana pendekatan jemput bola dalam pelayanan kesehatan dapat membuka kembali akses masyarakat terhadap layanan medis yang sebelumnya sulit dijangkau.
Dari Wonosobo hingga Kendal, Speling Hadir Dekat dengan Warga
Manfaat program Speliing ini juga dirasakan Jamsari, warga Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Selama sekitar 15 tahun, Jamsari hidup dengan diabetes. Namun, biaya pemeriksaan rutin membuatnya sempat tidak disiplin menjalani kontrol.
Ia mengaku sekali melakukan pemeriksaan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp450 ribu. Ketika kondisinya memburuk, luka pada kaki mulai muncul akibat kadar gula darah yang tidak terkendali.
“Sekali kontrol sekitar Rp450 ribu. Saya kira sudah sembuh, ternyata kaki sampai luka karena efek gula,” katanya.
Kehadiran Speling membuat Jamsari kembali memperoleh kesempatan berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa harus memikirkan biaya layanan. Manfaat program Speling ini tidak hanya dirasakan masyarakat yang membutuhkan penanganan penyakit fisik.
Feni Anindya, siswi SMA Negeri 2 Purwokerto berusia 16 tahun, memanfaatkan layanan kesehatan jiwa. Ia berkonsultasi dengan psikolog ketika sedang menghadapi kebingungan dalam menentukan jurusan kuliah dan arah pendidikan setelah lulus sekolah.
“Alhamdulillah setelah berkonsultasi jadi lebih ada gambaran. Saya berharap program ini bisa dilaksanakan lagi,” kata Feni.
Speling Jangkau 1.378 Desa di Jawa Tengah
Program Speling mulai dilaksanakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada Maret 2025. Program tersebut dirancang untuk menjawab persoalan pemerataan layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang terkendala jarak, biaya transportasi, maupun akses terhadap dokter spesialis.
Melalui konsep pelayanan jemput bola, dokter dan tenaga kesehatan mendatangi masyarakat hingga tingkat desa. Sejumlah layanan menjadi fokus utama Speling, antara lain skrining tuberkulosis (TBC), pemeriksaan kanker serviks, layanan kesehatan jiwa, pemeriksaan ibu hamil, serta pelayanan kesehatan balita untuk mendukung percepatan penurunan stunting.
Layanan diberikan secara gratis dengan persyaratan administrasi yang sederhana. Masyarakat cukup menunjukkan kartu identitas untuk memperoleh layanan. Hingga 13 Agustus 2026, Speling telah digelar sebanyak 1.553 kali di 1.378 desa, yang tersebar di 465 kecamatan pada 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Total Penerima Layanan Telah Mencapai 128.109 Warga.
Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan kesehatan spesialis semakin didekatkan dengan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan rujukan. Tak hanya itu, ribuan kasus juga berhasil dideteksi lebih awal.
Capaian Speling tidak hanya terlihat dari jumlah desa yang didatangi dan masyarakat yang mendapatkan pemeriksaan. Program ini juga berperan dalam menemukan berbagai persoalan kesehatan sejak dini sehingga masyarakat dapat memperoleh penanganan dan rujukan lebih cepat.
Pada layanan kesehatan ibu dan anak, misalnya, pemeriksaan antenatal care telah diberikan kepada 15.848 ibu hamil hingga awal Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.537 ibu hamil dinyatakan dalam kondisi normal. Sementara 3.311 lainnya membutuhkan pemantauan atau penanganan lebih lanjut.
Skrining TBC juga menjadi salah satu prioritas. Sebanyak 53.463 warga telah mengikuti pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit tersebut. Hasil skrining kemudian digunakan untuk mengidentifikasi warga yang masuk kategori suspek TBC maupun mereka yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) dan uji Mantoux.
Di bidang kesehatan jiwa, sebanyak 37.605 warga telah mengikuti skrining kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, 1.358 orang teridentifikasi membutuhkan penanganan lebih lanjut. Sementara pemeriksaan kanker serviks telah menjangkau 5.915 perempuan, dengan 497 kasus yang memerlukan tindak lanjut medis.
Speling Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis
Upaya pemerataan layanan kesehatan Jawa Tengah juga diperkuat melalui sinergi Speling dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pemerintah pusat. Integrasi tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh pemeriksaan kesehatan yang lebih komprehensif dalam satu rangkaian pelayanan.
Hasilnya cukup signifikan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Jawa Tengah mencatat capaian CKG tertinggi secara nasional. Sebanyak 14.248.868 masyarakat di Jawa Tengah telah mengikuti program tersebut. Jumlah itu setara sekitar 37,4 persen dari total sasaran nasional.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Zulfachmi Wahab menegaskan bahwa pelayanan tidak berhenti setelah masyarakat menjalani skrining.
“Kami tidak akan berhenti pada deteksi dini, tetapi berlanjut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Jawa Tengah secara holistik,” ujarnya.
Setiap temuan dari lapangan akan ditindaklanjuti melalui mekanisme rujukan dan pendampingan. Dengan demikian, warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut tidak dibiarkan berhenti pada tahap pemeriksaan awal.
Ahmad Luthfi: Layanan Kesehatan Harus Sampai ke Desa
Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Speling menjadi salah satu gambaran transformasi pelayanan publik di bidang kesehatan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kesehatan merupakan fondasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan.
Karena itu, akses pelayanan kesehatan tidak boleh hanya terpusat di rumah sakit maupun puskesmas. Pemerintah perlu memastikan masyarakat desa juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh layanan medis berkualitas.
“Jadi kita dorong tidak hanya pelayanan di rumah sakit tapi juga di desa. Masyarakat desa akan senang mereka dapat layanan kesehatan gratis, bisa periksa kesehatan ke dokter spesialis, anaknya yang stunting juga ditangani, termasuk kesehatan jiwa dan sebagainya,” tegas Luthfi.
Speling Ditargetkan Layani 284 Ribu Warga hingga Akhir 2026
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih akan memperluas jangkauan Speling. Hingga akhir 2026, program tersebut ditargetkan mampu memberikan pelayanan kepada sekitar 284 ribu masyarakat di seluruh kabupaten dan kota.
Target tersebut bukan semata mengejar jumlah penerima layanan. Lebih dari itu, Speling diarahkan untuk memastikan warga yang selama ini menghadapi hambatan geografis dan ekonomi tetap memiliki akses terhadap dokter spesialis.
Bagi warga seperti Retno, kehadiran dokter di desa bukan sekadar program pemerintah. Layanan tersebut menjadi jalan untuk kembali mendapatkan pengobatan tanpa harus menempuh perjalanan puluhan kilometer.
Dari desa ke desa, Speling perlahan mengubah pola pelayanan kesehatan: bukan lagi hanya menunggu pasien datang ke rumah sakit, tetapi membawa layanan lebih dekat kepada mereka yang membutuhkan.
*Ikuti media sosial kami.
