TARGET peningkatan padi di Jawa Tengah bukan isapan jempol belaka, upaya ini dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan pembangunan embung untuk memacu peningkatan produksi padi menuju target 9,5–10,5 juta ton pada 2026.
Embung menjadi salah satu strategi kunci dalam mencapai target produktifitas panen padi, sebab embung akan menjadi sebagai sumber irigasi dan cadangan air baku di sentra pertanian.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meresmikan dua lokasi yang diresmikan yakni ada di Karangjati di Dukuh Nglawiyan, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora. Infrastruktur air tersebut diproyeksikan mampu mengairi sekitar 40 hektare lahan sawah sekaligus membuka peluang panen hingga tiga kali dalam setahun.
Di Karangjati terdiri atas wilayah Utara dan wilayah Selatan dengan total kapasitas tampung hampir 68 ribu meter kubik. Yang berada di Utara memiliki volume sekitar 18.678 meter kubik dengan dimensi 78 x 68 meter, sedangkan di Selatan berkapasitas 49.320 meter kubik dengan ukuran 138 x 93 meter.
Proyek senilai Rp8,5 miliar ini dirancang untuk memperkuat sistem irigasi pertanian, memastikan ketersediaan air saat musim kemarau, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.
“Embung ini bisa menghidupi 40 hektare lahan dan memungkinkan sampai tiga kali panen. Ini juga menggerakkan UMKM dan bisa menjadi roadmap untuk daerah lain,” ujar Luthfi.
Strategi Jateng Kejar Target 10 Juta Ton Padi 2026
Pembangunan embung menjadi bagian dari strategi besar Pemprov Jawa Tengah dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Sepanjang 2025, Pemprov Jateng telah membangun sekitar 10 embung dengan total anggaran Rp43 miliar yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Program tersebut akan diperluas pada 2026 untuk mempercepat pencapaian target produksi padi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sektor pertanian.
Menurut Luthfi, keberadaan embung bukan hanya soal infrastruktur air, tetapi instrumen penting untuk mengaktifkan ekonomi rakyat di pedesaan. Dengan jaminan ketersediaan air, petani memiliki kepastian masa tanam dan dapat meningkatkan intensitas produksi.
Petani Blora Optimistis Tingkatkan Intensitas Tanam
Bupati Blora, Arief Rohman, menyampaikan apresiasi atas pembangunan embung yang telah lama dinantikan kelompok tani sejak 2017. Ia meyakini infrastruktur tersebut akan berdampak langsung terhadap peningkatan produksi padi di wilayahnya.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Tani Sidodadi, Karyono, menilai embung menjadi solusi atas keterbatasan air yang selama ini hanya mengandalkan sistem tadah hujan. Kondisi tersebut membuat petani umumnya hanya dapat menanam padi satu kali dalam setahun.
Dengan tersedianya cadangan air yang memadai, petani kini optimistis dapat menerapkan pola tanam tiga kali setahun, seperti padi–padi–hortikultura atau padi–padi–tembakau, tanpa khawatir kekurangan pasokan air saat musim kering.
Tambahan infrastruktur air ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas pertanian secara signifikan, mempercepat capaian target 10 juta ton padi pada 2026, sekaligus memperkuat kontribusi Jawa Tengah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
*Baca media group Kami.
