MAGELANG – Lebih dari dua abad bertahan, Pondok Pesantren Darussalam Watucongol di Magelang terus menjaga tradisi pendidikan Islam melalui pengajian Al-Qur’an dan Dalailul Khairat sebagai warisan keilmuan sejak lebih dari 200 tahun lalu.
Tradisi keilmuan yang diwariskan Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Kabupaten Magelang, tetap hidup di tengah perubahan zaman. Berdiri sejak sekitar 1820, pesantren yang memiliki kaitan sejarah dengan perjuangan Pangeran Diponegoro itu hingga kini terus mempertahankan pendidikan agama dan amalan keislaman secara turun-temurun.
Keberlangsungan tradisi tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Menurutnya, konsistensi pesantren dalam menjaga tradisi keagamaan menjadi salah satu kekuatan penting dalam membentuk generasi yang memiliki dasar keilmuan dan spiritualitas.
Taj Yasin Soroti Tradisi Al-Qur’an dan Dalailul Khairat
Taj Yasin secara khusus menyoroti tradisi pembacaan Al-Qur’an dan Dalailul Khairat yang masih rutin dilakukan di lingkungan pesantren Watucongol ini.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar amalan rutin, tetapi bagian dari proses membangun lingkungan keilmuan yang dapat mengantarkan seseorang menjadi alim apabila dijalankan secara konsisten.
“Di dalam khataman Al-Qur’an, ada Dalailul Khairat. Ini mengantarkan banyak orang menjadi alim. Sebabiyah yang pertama adalah Al-Qur’an, kemudian Dalailul Khairat,” kata Taj Yasin.
Ia menilai keberadaan tradisi keagamaan yang dilakukan secara istiqamah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan pendidikan pesantren. Pembacaan Dalailul Khairat, lanjutnya, bahkan disusun berdasarkan pembagian hari sehingga lebih mudah diamalkan secara rutin.
“Dalailul Khairat dibagi dari Senin, Selasa sampai kembali Senin lagi. Ini meringankan wiridan supaya kita bisa istiqamah,” ujarnya.
Pemerintah Senang Tradisi Pesantren Watucongol Tetap Tumbuh
Taj Yasin mengatakan pemerintah daerah turut merasa senang melihat majelis ilmu dan kegiatan keagamaan di pesantren Watucongol masih berjalan dengan baik. Ia berharap tradisi serupa tidak hanya bertahan di Watucongol, tetapi juga terus berkembang di berbagai daerah di Jawa Tengah.
“Atas nama pemerintah, saya senang kalau pengajian-pengajian seperti ini masih berjalan di wilayah Jawa Tengah,” katanya.
Menurutnya, keberadaan pesantren menjadi bagian penting dalam menjaga pendidikan keagamaan sekaligus membangun karakter masyarakat.
Watucongol dan Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro
Pondok Pesantren Darussalam Watucongol memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan perjuangan melawan kolonialisme. Pesantren tersebut didirikan oleh Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa sekitar tahun 1820. Sosok pendirinya dikenal sebagai salah satu senopati atau panglima Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.
Sejarah tersebut menjadi bagian penting dari identitas Watucongol. Dari lingkungan perjuangan, pesantren kemudian berkembang sebagai pusat pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat.
Kementerian Agama juga mencatat para pendiri Pesantren Darussalam sebagai ulama sekaligus mujahid yang terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme. Warisan itu kini diteruskan melalui pendidikan pesantren, pengajian, serta berbagai tradisi keagamaan yang melibatkan generasi muda.
Gus Mad: Mengasuh Santri adalah Menjalankan Amanah
Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, KH Aly Qoishor Ahmad Abd Haq atau Gus Mad, menegaskan keberlangsungan pesantren tidak terlepas dari amanah para orang tua yang mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada pesantren.
Bagi Gus Mad, tanggung jawab tersebut harus dijalankan dengan penuh pengabdian. Mengasuh santri bukan semata-mata pekerjaan yang berorientasi pada imbalan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan masyarakat.
Ia menggambarkan posisi pengasuh sebagai pihak yang menjalankan tugas dari orang tua santri.
“Jenenge wong akon niku hakikine juragan sing dikon jenenge kuli. Dadi mboten kyai tapi kuli,” ujarnya.
Ungkapan tersebut, menurut Gus Mad, menggambarkan kerendahan hati sekaligus kesediaan para pengasuh untuk mengabdikan diri dalam mendidik santri.
Tradisi Keilmuan Watucongol Diharapkan Terus Berlanjut
Lebih dari dua abad perjalanan Watucongol menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya bertahan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sosial dan keagamaan masyarakat Magelang.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi membaca Al-Qur’an, Dalailul Khairat, pengajian, dan pendidikan pesantren terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Taj Yasin berharap warisan keilmuan tersebut tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan begitu, sejarah panjang Watucongol tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi terus hidup melalui pendidikan dan pengabdian para santri serta pengasuhnya.
*Ikuti media sosial kami.
