KABARBANYUMASRAYA.COM – Program Upland Agriculture and Integrated Farming System (UPLAND) membawa perubahan bagi sektor pertanian di Kabupaten Banjarnegara. Berbagai fasilitas seperti jalan usaha tani, jaringan irigasi, hingga pengembangan komoditas kopi dan peternakan mulai memberikan manfaat bagi petani di wilayah dataran tinggi.
Namun, berakhirnya program UPLAND pada 2026 memunculkan harapan agar berbagai capaian tersebut tidak berhenti begitu saja. Petani menginginkan pendampingan berkelanjutan, penguatan kelembagaan, serta kepastian akses pasar agar hasil program dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.
Merespons harapan tersebut, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berkomitmen melanjutkan pendampingan selama dua tahun ke depan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan infrastruktur, fasilitas, dan pengembangan usaha pertanian yang telah dibangun tetap berjalan dan memberikan manfaat.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program UPLAND di Rejasa Room, Surya Yudha Park, Jumat (6/11/2026).
UPLAND Sentuh 8 Kecamatan dan 33 Desa
Amalia menjelaskan, Banjarnegara merupakan satu dari 14 kabupaten di Indonesia yang menerima program UPLAND dari Kementerian Pertanian sejak 2021.
Selama enam tahun pelaksanaan, program tersebut menyasar delapan kecamatan dan 33 desa. Fokusnya adalah mendorong pengembangan pertanian dataran tinggi melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan kapasitas petani, serta pengembangan komoditas unggulan.
Menurut Amalia, meskipun pelaksanaan program akan berakhir tahun ini, pemerintah daerah berupaya memastikan manfaatnya tetap berlanjut.
“Alhamdulillah, program UPLAND sudah berjalan enam tahun di Kabupaten Banjarnegara. Dan tahun ini akan selesai, namun tadi para petani meminta agar program ini bisa berlanjut, sehingga kami mencoba untuk melanjutkannya dengan program pendampingan Pemkab selama dua tahun ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendampingan lanjutan akan mencakup seluruh rantai usaha pertanian, mulai dari budidaya, pengolahan pascapanen, penguatan kelembagaan petani, hingga pemasaran hasil produksi.
Amalia menilai, keberhasilan UPLAND bukan hanya terlihat dari pembangunan sarana dan prasarana pertanian. Lebih dari itu, program tersebut telah mendorong perubahan cara pandang petani dalam mengelola usaha tani.
“UPLAND ini mengubah dari pola konvensional menuju pengelolaan pertanian modern yang terintegrasi, menjaga mutu produk, hingga tata kelola pemasaran,” katanya.
Kopi Banjarnegara Disiapkan Menuju Panen Raya
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Ady, mengatakan pendampingan lanjutan diperlukan agar berbagai fasilitas dan teknologi yang telah diberikan melalui UPLAND dapat dimanfaatkan secara optimal.
Ia menyebutkan, dua sektor utama yang dikembangkan dalam program tersebut adalah komoditas kopi dan peternakan.
Khusus pengembangan kopi, sebagian besar tanaman yang ditanam melalui program UPLAND belum memasuki masa panen raya. Karena itu, pengawalan selama dua tahun ke depan dinilai penting untuk mempersiapkan petani menghadapi peningkatan produksi.
Menurut Firman, sarana pengolahan dan infrastruktur telah dibangun lebih awal melalui alokasi anggaran program. Dengan begitu, ketika produksi kopi meningkat, petani sudah memiliki fasilitas pendukung untuk mengolah dan memasarkan hasil panen.
“Sarana pengolahan dan infrastruktur memang dibangun lebih awal menggunakan alokasi anggaran program tahun ini. Dengan demikian, saat masa panen raya tiba, seluruh fasilitas pengolahan, korporasi petani, hingga akses pasar sudah siap digunakan oleh petani,” jelasnya.
Petani Didorong Bangun Usaha Bersama
Selain meningkatkan produksi, UPLAND juga mendorong perubahan pola bisnis pertanian di Banjarnegara.
Petani diharapkan tidak lagi menjual hasil panen secara perorangan dalam bentuk bahan mentah. Melalui penguatan kelembagaan atau korporasi petani, hasil produksi dapat dihimpun, diolah, dan dipasarkan bersama dengan merek kolektif yang tetap mencantumkan identitas asal komoditas.
Pola tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat posisi tawar petani di pasar.
Sementara di sektor peternakan, pengembangan UPLAND mencakup perbaikan manajemen pembiayaan, penyediaan pakan, serta pemanfaatan hasil samping peternakan.
Salah satu potensi yang dikembangkan adalah pengolahan bulu Domba Batur agar memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi tambahan.
Pendampingan Jadi Kunci Keberlanjutan UPLAND
Pemkab Banjarnegara berharap pendampingan selama dua tahun ke depan mampu menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian yang telah dibangun melalui UPLAND.
Dengan pengawalan yang berkesinambungan, berbagai infrastruktur, tanaman kopi, fasilitas pengolahan, dan kelembagaan petani diharapkan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru di wilayah dataran tinggi.
Bagi petani Banjarnegara, keberlanjutan program ini menjadi penting agar perubahan yang telah dimulai tidak terhenti setelah masa bantuan berakhir.
Harapannya, UPLAND tidak sekadar meninggalkan pembangunan fisik, tetapi juga melahirkan petani yang lebih mandiri, produktif, serta mampu bersaing melalui produk pertanian bernilai tambah.
