BANJARNEGARA, KABARBANYUMASRAYA – Festival Kopi dalam rangkaian Dieng Culture Festival 2026 membuka peluang pasar baru bagi kopi Banjarnegara hingga pengiriman sepanjang 2027.
Festival Kopi dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 tak hanya menjadi panggung promosi kopi lokal. Ajang tersebut berhasil membuka pasar baru dengan kontrak pemesanan biji kopi senilai sekitar Rp15 miliar.
Total kopi yang dipesan mencapai sekitar 150 ton, mencakup kopi Arabika, Robusta, hingga kopi lokal khas Banjarnegara. Pengiriman hasil kontrak tersebut dijadwalkan berlangsung sepanjang 2027.
Selain kontrak jangka panjang, transaksi langsung selama festival juga mencapai sekitar Rp80 juta dari penjualan kopi siap minum dan biji kopi kering.
Kopi Banjarnegara Bertemu Pembeli dari Berbagai Daerah
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan capaian transaksi tersebut merupakan hasil kolaborasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) dengan berbagai pihak yang bergerak di sektor kopi.
Festival Kopi DCF 2026 juga mempertemukan pelaku usaha kopi dari berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 14 kabupaten turut diundang dalam kegiatan tersebut.
“Pada Festival Kopi DCF kemarin kami mengundang 14 kabupaten se-Indonesia. Bahkan ada peserta dari NTT yang meski sedang terkena bencana tetap datang ke Banjarnegara,” ujar Firman.
Pelaku usaha kopi dari Sumatera dan Kalimantan juga ikut ambil bagian melalui dukungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM serta Bank Indonesia.
Pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama baru sekaligus memperluas jaringan pemasaran kopi Banjarnegara di tingkat nasional.
Festival Kopi Dorong Pengembangan dari Hulu hingga Hilir
Menurut Firman, Festival Kopi DCF tidak hanya membahas transaksi dan pemasaran. Forum tersebut juga mengangkat berbagai persoalan industri kopi dari sisi budidaya, petani, kelembagaan, pasar hingga hilirisasi.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar kopi Banjarnegara tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dengan pasar yang lebih luas.
Sentra kopi Arabika Banjarnegara antara lain berada di wilayah Kalibening, Pejawaran, sebagian Pagentan, Wanayasa, dan Karangkobar. Sementara kopi Robusta banyak dikembangkan di kawasan seperti Pagedongan dan Susukan.
Kopi dan Pariwisata Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Tursiman, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor dalam penyelenggaraan Festival Kopi DCF 2026.
Menurutnya, penggabungan festival kopi dengan DCF menunjukkan bahwa pertanian, pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif dapat dikembangkan secara bersamaan untuk menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Selain memperluas pasar, festival menjadi sarana memperkenalkan kopi Banjarnegara kepada wisatawan dan pelaku industri dari berbagai daerah.
Pemerintah bersama pemangku kepentingan sektor kopi berkomitmen melanjutkan promosi dan pengembangan kopi secara berkala. Targetnya, akses pasar kopi Banjarnegara semakin luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan potensi produksi dan kualitas yang dimiliki, kopi Banjarnegara diharapkan semakin kompetitif sekaligus mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
