Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Reading: Kupat Landan Klampok, Kuliner Merah Warisan Leluhur yang Terancam Punah
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Follow US
© 2026 kabarbanyumasraya.com.
Kabar Banyumas Raya > Artikel > Banjarnegara > Kupat Landan Klampok, Kuliner Merah Warisan Leluhur yang Terancam Punah
Banjarnegara

Kupat Landan Klampok, Kuliner Merah Warisan Leluhur yang Terancam Punah

Afifah Anis CH
Last updated: 27 September 2026 14:34
By Afifah Anis CH
4 Min Read
Share
Kupat Landan merupakan kuliner khas Klampok Banjarnegara
Kupat Landan merupakan kuliner khas Klampok Banjarnegara yang kini keberadaanya terancam punah. (dok. KBR)
SHARE

KABARBANYUMASRAYA.COM –  Warisan kuliner leluhur di Desa Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, menghadapi ancaman kehilangan generasi penerus. Kupat Landan, ketupat khas Klampok yang memiliki warna kemerahan dan cita rasa gurih, kini hanya dibuat oleh sekitar lima hingga enam orang.

Contents
  • Kupat Landan Klampok Punya Proses Pembuatan yang Unik
  • Mbah Repi, Salah Satu Pembuat Kupat yang Bertahan
  • Festival Jadi Upaya Kenalkan Kupat Landan ke Generasi Muda

Sebagian besar pembuatnya telah berusia lanjut. Kondisi tersebut membuat keberlangsungan kuliner tradisional yang diwariskan secara turun-temurun ini semakin bergantung pada upaya regenerasi.

Pemerintah Desa Klampok bersama masyarakat pun mulai memperkuat promosi dan pelestarian Kupat Landan melalui festival hingga mendorongnya menjadi warisan budaya tak benda.

Kupat Landan Klampok Punya Proses Pembuatan yang Unik

Kepala Desa Klampok Agus Supriyono mengatakan Kupat Landan memiliki karakter yang berbeda dari ketupat pada umumnya.

Selain berwarna kemerahan, makanan tradisional ini memiliki tekstur pulen dan kenyal dengan cita rasa gurih. Proses pembuatannya juga masih mempertahankan metode tradisional.

“Harapan kami, kupat landan ini makin dikenal masyarakat luas, menumbuhkan minat UMKM serta menginspirasi generasi muda untuk ikut melestarikan identitas lokal Desa Klampok,” kata Agus.

Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah regenerasi. Keterampilan membuat Kupat ini umumnya diwariskan melalui keluarga, sementara proses produksinya membutuhkan waktu dan teknik khusus.

“Kendalanya memang regenerasi. Jumlah pembuat kupat aktif kini hanya tersisa sekitar lima sampai enam orang yang rata-rata sudah berusia lanjut,” ujarnya.

Mbah Repi, Salah Satu Pembuat Kupat yang Bertahan

Salah satu pembuat Kupat Landan yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Mbah Repi, 71, warga Dusun Purwasari.

Ia mendapatkan keterampilan membuat Kupat Landan dari keluarganya secara turun-temurun. Dalam sehari, Mbah Repi biasanya memproduksi sekitar 30 buah sambil berjualan pecel.

Jumlah produksinya bisa meningkat ketika mendapat pesanan untuk berbagai acara, seperti ngapati, mitoni, hajatan, Lebaran, maupun Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringin.

Keunikan Kupat Landan salah satunya terletak pada proses yang menghasilkan warna merah alami.

Air abu dari pembakaran pelepah kelapa dicampur dengan air, kemudian disaring. Air tersebut digunakan untuk merebus beras yang telah dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa.

Kupat kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu selama sekitar tiga jam.

“Warna merahnya berasal dari campuran air abu yang digunakan saat menanak kupat. Kupat ini juga masih enak dikonsumsi dan bisa bertahan sampai tiga sampai empat hari,” kata Mbah Repi.

Festival Jadi Upaya Kenalkan Kupat Landan ke Generasi Muda

Untuk menjaga keberadaan kuliner khas tersebut, Pemerintah Desa Klampok bersama masyarakat rutin menggelar Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringin.

Festival menjadi ruang untuk memperkenalkan makanan tradisional tersebut kepada masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM.

Kegiatan itu juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk mempelajari proses pembuatan Kupat khas Banjarnegara ini, sehingga tradisi tersebut tidak berhenti pada generasi saat ini.

Agus mengatakan pemerintah desa juga tengah mengupayakan Kuliner khas Klampok Banjarnegara masuk dalam daftar warisan budaya tak benda.

“Dengan mempromosikan kupat ini diharapkan nanti ada generasi-generasi penerus yang bisa melanjutkan proses pembuatannya agar tidak punah. Kita juga sedang berupaya mendorong warisan leluhur ini menjadi warisan budaya tak benda,” ujarnya.

Upaya pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya menjaga Kupat Landan sebagai warisan kuliner leluhur, tetapi juga mengembangkannya sebagai identitas Desa Klampok sekaligus produk unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

Sambut Ramadan, Pemanah Berkuda Banjarnegara Padukan Latihan Fisik dan Spirit Ibadah
Ditjenpas Jateng Study Tiru Peternakan di Banjarnegara, Perkuat Ketahanan Pangan dan Keterampilan Warga Binaan
Benarkan Rio Fahmi Bakal Tinggalkan Persija?
Bupati Tekankan Percepatan Serapan APBD 2026, OPD Diminta Kerja Tepat Sasaran
Jaga DAS Serayu, PLN Indonesia Power UBP Mrica Tanam 1.031 Pohon
TAGGED:kuliner banjarnegarakuliner klampokkupat landan
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Sebanyak 192 pecatur mengikuti Kejurkab Catur Banjarnegara 2026. Percasi membidik bibit muda untuk dipersiapkan menghadapi Kejurprov Catur 2027. Percasi Bidik Pecatur Muda dari Kejurkab, Disiapkan untuk Kejurprov Catur 2027
Next Article GTR Ultra 2026 di Kabupaten Semarang diikuti sekitar 900 pelari dari 7 negara. Menantang 3 gunung, event ini diperkirakan menggerakkan ekonomi desa hingga Rp4,5 miliar. 900 Pelari dari 7 Negara Ramaikan GTR Ultra 2026, Ekonomi Desa Bergerak Rp4,5 Miliar

Berita Terbaru

GPM Jawa Tengah digelar 1.724 kali dengan transaksi Rp31 miliar. Ahmad Luthfi menekankan keterjangkauan harga pangan dan perlindungan petani.
Dorong Harga Pangan Jateng Terjangkau, Jateng Gelar 1.724 Kali GPM Tembus Rp31 Miliar
Banjarnegara Jateng Purbalingga
Kapolres Banjarnegara saat melakukan soslaisasi kewaspadaan di daerah rawan longsor
Rawan Longsor, Polres Banjarnegara Minta Warga Pagentan Siaga Jelang Musim Hujan
Banjarnegara
Sebanyak 62 pasangan mengikuti Santri Mantu di MAJT Semarang. Wagub Jateng Taj Yasin mengapresiasi program nikah akbar yang juga mendukung kemandirian ekonomi keluarga.
62 Pasangan Ikuti Santri Mantu di MAJT, Wagub Jateng Beri Apresiasi
Jateng
Peresmian sumur permanen di Desa Kaliajir menjadi satu solusi dalam penanganan krisis air bersih di desa tersebut.
Atasi Kekeringan, Polres Banjarnegara Resmikan Sumur Air Bersih di Desa Kaliajir
Banjarnegara
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
© 2026 kabarbanyumasraya.com. All Rights Reserved.