Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Reading: Hutan Jatilawang Banjarnegara Kian Menyusut, Warga Waspada Ancaman Banjir dan Longsor
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Follow US
© 2026 kabarbanyumasraya.com.
Kabar Banyumas Raya > Artikel > Banjarnegara > Hutan Jatilawang Banjarnegara Kian Menyusut, Warga Waspada Ancaman Banjir dan Longsor
Banjarnegara

Hutan Jatilawang Banjarnegara Kian Menyusut, Warga Waspada Ancaman Banjir dan Longsor

Adel Maulina Zulfa
Last updated: 28 Januari 2026 14:37
By Adel Maulina Zulfa
3 Min Read
Share
Hutan Jatilawang
Kondisi hutan Jatilawang semakin memprihatinkan. (dok.warga)
SHARE

SEJUMLAH warga Desa Jatilawang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, menyuarakan kekhawatiran atas kondisi kawasan hutan di wilayah mereka yang dinilai semakin kehilangan fungsi sebagai daerah resapan air dan penyangga ekosistem.

Contents
  • Tanaman Sayuran Dinilai Perparah Risiko Bencana
  • Warga Minta Pemerintah Bertindak Tegas
  • Aktivis Lingkungan: Ini Alarm Serius Kerusakan Hutan
  • Kepala Desa Desak Kejelasan Status Kawasan Hutan

Aspirasi tersebut mengemuka dalam dialog antara Ketua DPRD Banjarnegara, Camat Wanayasa, dan perwakilan warga yang digelar di Kantor Desa Jatilawang, Selasa (27/1/2026).

Warga mendesak agar kawasan hutan segera dikembalikan ke fungsi alaminya, menyusul maraknya perambahan dan alih fungsi untuk lahan pertanian sayuran berumur pendek.

Dalam pertemuan itu, warga mengungkapkan bahwa hingga kini masih terjadi pembukaan kawasan dengan dalih telah mengantongi izin tertentu. Namun, alih fungsi tersebut diduga kuat menjadi penyebab meningkatnya risiko bencana di wilayah hilir.

“Sekarang hujan sebentar saja, sungai di bawah desa langsung meluap. Beberapa kali sawah warga tergenang,” ujar Bayu, salah satu warga Jatilawang.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika kawasan hutan masih dipenuhi pepohonan besar dan vegetasi alami yang mampu menyerap air hujan secara optimal.

Tanaman Sayuran Dinilai Perparah Risiko Bencana

Warga menilai pembukaan lahan untuk tanaman sayuran berumur pendek telah menghilangkan kemampuan tanah dalam menyerap air. Akibatnya, air hujan langsung mengalir ke sungai dalam volume besar dan memicu banjir bandang.

“Kalau ini terus dibiarkan, bukan hanya sawah yang terdampak. Permukiman warga di wilayah bawah juga terancam. Risiko bencana makin besar,” ujar Bayu.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin cemas, terutama saat intensitas hujan meningkat.

Warga Minta Pemerintah Bertindak Tegas

Atas kondisi tersebut, warga berharap pemerintah daerah, mulai dari tingkat kecamatan hingga instansi teknis di kabupaten, segera turun tangan.

Mereka mendesak adanya penertiban di kawasan hutan, verifikasi perizinan, serta langkah nyata rehabilitasi hutan agar fungsi ekologis dapat dipulihkan.

Aktivis Lingkungan: Ini Alarm Serius Kerusakan Hutan

Relawan Pembela Tanah dan Air Banjarnegara, Heri, menegaskan bahwa persoalan kerusakan hutan di Jatilawang hingga kawasan Hutan Rogojembangan bukanlah isu baru.

“Ini masalah lama. Upaya masyarakat yang peduli konservasi sudah sering dilakukan, tetapi selalu mentok. Sudah saatnya pemerintah bertindak tegas demi melindungi kehidupan generasi mendatang,” katanya.

Menurut Heri, aspirasi warga Jatilawang harus menjadi alarm dan peringatan dini pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Kepala Desa Desak Kejelasan Status Kawasan Hutan

Kepala Desa Jatilawang, Lindawaty, juga meminta pemerintah serius menindaklanjuti keluhan warganya. Ia menilai kerusakan yang terjadi akibat perambahan ilegal sudah berada pada tahap mengkhawatirkan.

“Keluhan ini sudah berkali-kali kami sampaikan. Kalau tidak segera dihentikan, lalu ke mana lagi kami harus menyampaikan aspirasi?” ujarnya.

Atas nama pemerintah desa dan masyarakat, Lindawaty berharap ada kejelasan terkait status kawasan hutan, termasuk apakah wilayah tersebut memang diperbolehkan untuk digarap.

Warga menegaskan mereka tidak menolak aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, pengelolaan harus dilakukan secara bijak dan berkelanjutan.

“Kami tidak melarang warga mencari nafkah, tapi hutan juga harus dijaga. Kalau alam rusak, dampaknya akan kembali ke kita semua,” kata Lindawaty.

*Ikuti media sosial kami

Dedikasi Tanpa Henti, 52 Personel Polres Banjarnegara Terima Satyalancana Pengabdian
Seru dan Edukatif, Creative Little Chef FOX HARRIS Banjarnegara Diserbu Anak-Anak
Air Telaga Merdada Kian Menyusut, Begini Perjuangan Petani Kentang Dieng Bertahan
Sosialisasi Regulasi Soal Bupati Banjarnegara Belum Beri Persetujuan Hasil Seleksi Perangkat Desa Purwasaba
Kabar Haru Jelang Ramadan, Penyintas Longsor Pandanarum Segera Tempati Huntara
TAGGED:hutan
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Program ketahanan pangan keluarga Kunjungi Peternakan Ayam di Kudus, Nawal Yasin Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Keluarga
Next Article Kominfo ingatkan generasi digital Kominfo Banjarnegara Edukasi Pelajar SMA Wanadadi Jadi Generasi Digital Cerdas dan Aman

Berita Terbaru

Peresmian sumur permanen di Desa Kaliajir menjadi satu solusi dalam penanganan krisis air bersih di desa tersebut.
Atasi Kekeringan, Polres Banjarnegara Resmikan Sumur Air Bersih di Desa Kaliajir
Banjarnegara
Program Peduli Kasih, Polres Banjarnegara memberikan bantuan seragam, topi, dan sepatu kepada siswa di Purwanegara sekaligus mendorong pendidikan dan perlindungan anak.
Polres Banjarnegara Bantu Seragam dan Sepatu Sekolah untuk Siswa di Purwanegara
Banjarnegara
Sebanyak 26 ton briket arang tempurung kelapa dari Purbalingga dikirim ke Yordania. Pemkab mendorong pelaku usaha lokal memperluas pasar ekspor.
Briket Purbalingga Tembus Pasar Yordania, Pemkab Siapkan Dukungan Ekspor
Purbalingga
Liga Askab PSSI Purbalingga 2026 berakhir dengan 42 klub dan 993 pemain. Simak daftar juara Liga 1, Liga 2, Liga 3, top scorer, dan pemain terbaik.
Liga Askab PSSI Purbalingga 2026 Tuntas, Diikuti 993 Pemain dan 42 Klub
Purbalingga
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
© 2026 kabarbanyumasraya.com. All Rights Reserved.