KABARBANYUMASRAYA.COM – Desa memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi kreatif melalui seni, budaya, kuliner, hingga produk unggulan masyarakat. Melalui Festival Anak Desa, potensi tersebut diharapkan mampu berkembang, sehingga desa tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi bagi warganya.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, saat membuka Festival Anak Desa ke-6 di Dusun Brobahan, Desa Serang, Kecamatan Karangreja Purbalingga.
Menurut Dimas, penyelenggaraan Festival Anak Desa secara konsisten selama enam tahun membuktikan bahwa desa memiliki ruang untuk tumbuh sebagai pusat kreativitas dan kebudayaan masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sekaligus membuka mata dan pikiran kita bahwa desa bisa menjadi motor penggerak industri kreatif,” kata Dimas.
Ia menilai, festival tersebut bukan sekadar ajang pertunjukan seni dan budaya, melainkan juga menjadi sarana untuk mengembangkan berbagai subsektor ekonomi kreatif di Kabupaten Purbalingga.
Sejumlah potensi yang dapat dikembangkan antara lain seni pertunjukan, seni rupa, kriya, hingga kuliner. Keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus memperkuat identitas desa.
Ekonomi Kreatif Desa Harus Sejalan dengan Pelestarian Lingkungan
Dimas menegaskan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga berkomitmen mendukung berbagai ruang kreativitas masyarakat, termasuk kegiatan kebudayaan yang tumbuh dari inisiatif desa.
Pengembangan ekonomi kreatif, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Hal tersebut selaras dengan filosofi Nandur Banyu yang diusung dalam kegiatan festival.
“Pemerintah Kabupaten Purbalingga tentu terus berkomitmen mendukung penuh ruang-ruang kreatif seperti ini. Kita ingin memastikan bahwa ekonomi kreatif berbasis desa dapat terus tumbuh subur, bergerak beriringan dengan kelestarian lingkungan, sejalan dengan filosofi Nandur Banyu yang kita usung hari ini,” ujarnya.
Festival Anak Desa Hidupkan Permainan Tradisional Anak
Sementara itu, Kepala Desa Serang, Sugito, mengatakan Festival Anak Desa juga menjadi upaya melestarikan budaya Jawa dan mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan tingginya penggunaan gawai membuat sejumlah permainan tradisional semakin jarang dimainkan anak-anak.
Melalui festival tersebut, anak-anak diajak mengenal kembali berbagai permainan warisan budaya, seperti egrang, lompat tali, dan kelereng.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak kembali mengenal permainan tradisional seperti egrang, lompat tali, dan kelereng. Ternyata permainan tersebut tidak kalah seru dan menarik dibandingkan permainan di gawai,” ungkap Sugito.
Pasar Desa dan Pangan Lokal Meriahkan Festival
Festival Anak Desa ke-6 digelar selama tiga hari, mulai 30 Oktober hingga 1 November 2026. Berbagai kegiatan disiapkan untuk menghadirkan ruang interaksi sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain pertunjukan seni dan permainan tradisional, festival ini juga menghadirkan pasar desa serta stan pangan lokal. Kehadiran stan tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha dan masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk unggulan mereka.
Salah satu hal menarik dalam festival ini adalah penggunaan alat tukar khusus berupa lempeng kayu berbentuk kotak dengan nominal tertentu.
Pengunjung tidak dapat langsung menggunakan uang rupiah untuk bertransaksi di area festival. Mereka terlebih dahulu harus menukarkan uang rupiah dengan lempeng kayu tersebut, yang selanjutnya digunakan untuk membeli berbagai produk dan kuliner di lokasi kegiatan.
Konsep transaksi unik ini menjadi bagian dari daya tarik Festival Anak Desa ke-6. Selain memperkenalkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, festival tersebut juga menghadirkan perpaduan antara pelestarian budaya, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
