KABARBANYUMASRAYA.COM – Dalam rangka ulang tahun ke-96 Paroki Santo Stephanus Cilacap digelar Seminar Guru dengan tema Guru Katolik Ngangsu Kawruh Dari Guru Sejati, Sabtu (31/10-2026). Bertempat di Aula Yuniorat OMI, hadir 109 guru dari Kota Cilacap, Adipala, Kesugihan, Jeruklegi, Kawunganten, dan Majenang.
Kepala Paroki Cilacap, Romo Antonius Rajabana OMI mengatakan guru sekarang dituntut kritis tidak hanya transfer pengetahuan, apalagi ada kecerdasan buatan, yang membuat orang bisa, tidak harus pintar.
“Seperti Driyarkara mengatakan memanusiakan manusia muda, maka pendidikan sebagai proses memberikan diri terus menerus. Dalam pelayanan, guru diharapkan selalu meningkatkan perkembangan pribadi. Setiap pribadi adalah unik, maka dibutuhkan perjumpaan yang mendalam dan otentik”, tutur Romo Bono.
Sementara narasumber seminar, Romo Antonius Ary Setyawan Pr menjelaskan kegiatan guru perlu ramah keluarga. Sebagian besar guru perempuan dan berkeluarga, dalam melaksanakan tugasnya perlu membagi waktu di keluarga dan di sekolah.
“Panggilan guru katolik di Cilacap kuat dan relasional, tetapi dihidupi dalam kondisi kerja yang rentan dan generasi yang sedang berganti. Panggilan ini perlu dirawat secara spiritual, profesional, dan struktural”, jelas Dosen Stikom Yos Sudarso Purwokerto ini.
Romo Ary menambahkan paling tidak ada enam hal yang menjadi perhatian para guru berkaitan panggilan yang relasional, merawat panggilan yang berkeadilan, regenerasi, dan berkomunitas.
“Pertama, mengajar adalah perutusan, dimana motivasi panggilan menjadi guru dan sukacita siswa menghidupi pelayanan, bukan sekedar profesi. Kedua, guru membutuhkan ruang pemulihan seperti rekoleksi, sharing iman, dan pendampingan agar tidak kelelahan secara batin. Ketiga, tumbuhnya panggilan dimulai dari keluarga sebagai formasi berkelanjutan membantu setiap guru menemukan makna perutusannya” tuturnya.
Lebih lanjut, Romo Ary menambahkan upah guru yang adil untuk kesejahteraan guru, pewarisan spiritualitas dan budaya sekolah bagi guru muda, serta perlunya paguyuban guru yang bisa menjadi rumah kedua.
Sebagai tindak lanjut, pada akhir seminar dibentuk paguyuban guru katolik Paroki Cilacap. Thomas Sutasman, guru SMP Pius Cilacap, terpilih menjadi ketua paguyuban. Harapannya para guru tetap merawat semangat persaudaraan, yang sekaligus merawat panggilan menjadi guru yang bahagia.
