KABARBANYUMASRAYA.COM – Warisan kuliner leluhur di Desa Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, menghadapi ancaman kehilangan generasi penerus. Kupat Landan, ketupat khas Klampok yang memiliki warna kemerahan dan cita rasa gurih, kini hanya dibuat oleh sekitar lima hingga enam orang.
Sebagian besar pembuatnya telah berusia lanjut. Kondisi tersebut membuat keberlangsungan kuliner tradisional yang diwariskan secara turun-temurun ini semakin bergantung pada upaya regenerasi.
Pemerintah Desa Klampok bersama masyarakat pun mulai memperkuat promosi dan pelestarian Kupat Landan melalui festival hingga mendorongnya menjadi warisan budaya tak benda.
Kupat Landan Klampok Punya Proses Pembuatan yang Unik
Kepala Desa Klampok Agus Supriyono mengatakan Kupat Landan memiliki karakter yang berbeda dari ketupat pada umumnya.
Selain berwarna kemerahan, makanan tradisional ini memiliki tekstur pulen dan kenyal dengan cita rasa gurih. Proses pembuatannya juga masih mempertahankan metode tradisional.
“Harapan kami, kupat landan ini makin dikenal masyarakat luas, menumbuhkan minat UMKM serta menginspirasi generasi muda untuk ikut melestarikan identitas lokal Desa Klampok,” kata Agus.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah regenerasi. Keterampilan membuat Kupat ini umumnya diwariskan melalui keluarga, sementara proses produksinya membutuhkan waktu dan teknik khusus.
“Kendalanya memang regenerasi. Jumlah pembuat kupat aktif kini hanya tersisa sekitar lima sampai enam orang yang rata-rata sudah berusia lanjut,” ujarnya.
Mbah Repi, Salah Satu Pembuat Kupat yang Bertahan
Salah satu pembuat Kupat Landan yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Mbah Repi, 71, warga Dusun Purwasari.
Ia mendapatkan keterampilan membuat Kupat Landan dari keluarganya secara turun-temurun. Dalam sehari, Mbah Repi biasanya memproduksi sekitar 30 buah sambil berjualan pecel.
Jumlah produksinya bisa meningkat ketika mendapat pesanan untuk berbagai acara, seperti ngapati, mitoni, hajatan, Lebaran, maupun Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringin.
Keunikan Kupat Landan salah satunya terletak pada proses yang menghasilkan warna merah alami.
Air abu dari pembakaran pelepah kelapa dicampur dengan air, kemudian disaring. Air tersebut digunakan untuk merebus beras yang telah dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa.
Kupat kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu selama sekitar tiga jam.
“Warna merahnya berasal dari campuran air abu yang digunakan saat menanak kupat. Kupat ini juga masih enak dikonsumsi dan bisa bertahan sampai tiga sampai empat hari,” kata Mbah Repi.
Festival Jadi Upaya Kenalkan Kupat Landan ke Generasi Muda
Untuk menjaga keberadaan kuliner khas tersebut, Pemerintah Desa Klampok bersama masyarakat rutin menggelar Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringin.
Festival menjadi ruang untuk memperkenalkan makanan tradisional tersebut kepada masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM.
Kegiatan itu juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk mempelajari proses pembuatan Kupat khas Banjarnegara ini, sehingga tradisi tersebut tidak berhenti pada generasi saat ini.
Agus mengatakan pemerintah desa juga tengah mengupayakan Kuliner khas Klampok Banjarnegara masuk dalam daftar warisan budaya tak benda.
“Dengan mempromosikan kupat ini diharapkan nanti ada generasi-generasi penerus yang bisa melanjutkan proses pembuatannya agar tidak punah. Kita juga sedang berupaya mendorong warisan leluhur ini menjadi warisan budaya tak benda,” ujarnya.
Upaya pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya menjaga Kupat Landan sebagai warisan kuliner leluhur, tetapi juga mengembangkannya sebagai identitas Desa Klampok sekaligus produk unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
