SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen memberikan perhatian langsung kepada seorang siswa SMK di Kebumen yang menjadi korban bullying atau perundungan dan videonya sempat viral di media sosial.
Untuk membantu memulihkan semangat korban berinisial K (16), Taj Yasin melakukan video call dari ruang kerjanya. Dalam percakapan tersebut, ia menanyakan kondisi korban sekaligus memberikan dukungan moral agar tetap melanjutkan pendidikan.
Wagub yang akrab disapa Gus Yasin itu juga memberikan sebuah sepeda untuk digunakan korban bullying saat berangkat sekolah.
Gus Yasin Minta Korban Bullying Tetap Semangat Sekolah
Dalam video call, Gus Yasin menanyakan jarak rumah korban bullying ke sekolah. Setelah mengetahui jaraknya sekitar satu kilometer, ia menyarankan korban menggunakan sepeda daripada sepeda motor.
Menurutnya, selain lebih aman, korban bullying juga belum memiliki surat izin mengemudi karena masih di bawah umur.
“Ya sudah nanti sekolahnya pakai sepeda ya, jangan pakai motor. Belum punya SIM. Tetap semangat belajar,” katanya.
Korban Bullying yang ditanya mengenai kondisinya mengaku tetap berusaha semangat meski masih dalam masa pemulihan. Wagub juga berharap peristiwa yang dialami korban dapat menjadi pengalaman hidup tanpa membuatnya kehilangan motivasi untuk sekolah.
Disdik Jateng Datangi Rumah Korban
Perhatian pemerintah provinsi diberikan setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik. Atas arahan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Taj Yasin meminta Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sadimin, mendatangi rumah korban.
Dalam kunjungan tersebut, Disdik Jateng memastikan kondisi korban sekaligus memberikan pendampingan.
Pemprov Jateng juga memfasilitasi kemungkinan korban untuk pindah sekolah apabila dibutuhkan. Langkah tersebut dilakukan agar korban memiliki lingkungan belajar yang lebih nyaman dan dapat mengurangi trauma.
Saat ini, korban belum kembali ke sekolah karena masih menjalani pemulihan psikologis. Pihak terkait memberikan waktu bagi korban untuk beristirahat sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar.

Kasus Bullying Terjadi Saat Antre Program MBG
Kasus perundungan tersebut terjadi di lingkungan SMK Ma’arif 7 Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, pada Jumat (7/8/2026). Saat itu, korban bersama sejumlah siswa lain sedang mengantre program Makan Bergizi Gratis (MBG) di area belakang sekolah.
Korban yang merupakan siswa kelas bawah kemudian didatangi pelaku. Berdasarkan informasi yang beredar, korban mengalami kekerasan fisik hingga mengalami luka di bagian kepala, memar, serta rasa sakit di bagian perut.
Selain luka fisik, peristiwa tersebut juga menimbulkan trauma sehingga korban menjadi lebih pendiam dan takut kembali ke sekolah.
Dugaan Motif Dipicu Rasa Cemburu
Berdasarkan keterangan yang berkembang dalam penanganan kasus, dugaan motif perundungan berkaitan dengan rasa cemburu.
Pelaku disebut melihat komunikasi antara korban dengan mantan pacarnya melalui media sosial. Komunikasi tersebut disebut hanya sebatas percakapan biasa, namun diduga memicu emosi pelaku. Kasus tersebut kemudian dilaporkan dan ditangani aparat kepolisian.
Pelaku Ditangani Sesuai Hukum Anak
Pelaku telah diamankan untuk menjalani proses hukum dan juga dikenai sanksi dari pihak sekolah. Karena pelaku masih berusia di bawah 18 tahun, proses penanganannya mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak serta ketentuan perlindungan anak.
Dalam sistem peradilan pidana anak, pelaku yang masih di bawah umur diperlakukan sebagai Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH), sehingga proses hukum dilakukan dengan memperhatikan prinsip perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak.
Pemerintah Fokus pada Pemulihan Korban
Selain proses hukum terhadap pelaku, pemerintah daerah dan sekolah juga menaruh perhatian pada pemulihan korban. Dukungan psikologis, pendampingan pendidikan, serta kemungkinan perpindahan sekolah menjadi bagian dari upaya agar korban dapat kembali menjalani aktivitas belajar dengan aman.
Video call dan pemberian sepeda dari Wakil Gubernur Jawa Tengah menjadi bentuk dukungan moral agar korban tidak merasa sendiri setelah mengalami perundungan. Pemerintah berharap korban dapat pulih secara bertahap, kembali percaya diri, dan melanjutkan pendidikannya tanpa rasa takut.
*Ikuti media sosial kami.
