SEMARANG,KABARBANYUMASRAYA – Maraknya kasus dugaan perundungan (bullying) di Jawa Tengah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa persoalan perundungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus ditangani melalui langkah pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul munculnya sejumlah kasus dugaan perundungan, termasuk yang melibatkan siswa madrasah tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Pati serta kasus serupa di Kabupaten Pemalang.
Taj Yasin: Pencegahan Bullying Tidak Bisa Hanya Dibebankan kepada Sekolah
Menurutnya, upaya menekan kasus perundungan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri. Peran keluarga, masyarakat, pesantren, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam membangun lingkungan yang aman bagi anak.
“Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi,” kata Taj Yasin.
Pendidikan Karakter Diperkuat Sejak PAUD
Mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Taj Yasin menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menjalankan berbagai langkah preventif untuk menekan kasus perundungan.
Salah satunya melalui penguatan Forum Anak Pesantren sebagai ruang edukasi dan partisipasi anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan. Selain itu, pendidikan karakter serta upaya pencegahan bullying mulai diperkuat sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
“Kemarin saat Rapat Koordinasi PAUD, kami menyampaikan bahwa salah satu yang harus dibekali kepada para guru adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai mereka diberikan beban yang berlebihan,” ujarnya.
Akar Permasalahan Harus Diungkap, Bukan Sekadar Menangani Akibatnya
Menurut Taj Yasin, setiap kasus perundungan perlu ditangani dengan pendekatan yang lebih komprehensif melalui analisis terhadap akar penyebabnya. Ia menilai perilaku perundungan tidak selalu bermula dari lingkungan sekolah, melainkan bisa dipengaruhi kondisi di rumah maupun lingkungan sosial tempat anak berinteraksi.
“Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja,” katanya.
Komunikasi Orang Tua dan Sekolah Jadi Kunci Pencegahan
Taj Yasin juga menyoroti pentingnya komunikasi yang intensif antara orang tua dan pihak sekolah dalam memantau perkembangan perilaku anak. Sinergi tersebut akan membantu mendeteksi lebih dini potensi munculnya tindakan perundungan maupun persoalan psikologis lainnya.
“Kita harapkan sekolah-sekolah memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Bagaimana perilaku anak di sekolah dan bagaimana perilaku mereka di rumah harus saling diketahui. Dengan begitu, potensi bullying bisa ditekan sejak dini,” katanya.
Meningkatnya Laporan Dinilai sebagai Tanda Kepedulian Masyarakat
Terkait meningkatnya laporan dugaan bullying di Jawa Tengah, Taj Yasin justru melihat kondisi tersebut sebagai perkembangan positif. Semakin banyak masyarakat yang berani melaporkan dugaan kekerasan terhadap anak menunjukkan meningkatnya kesadaran publik untuk melindungi hak-hak anak.
“Dengan adanya aduan-aduan ini saya justru senang. Artinya, semakin banyak yang berani melapor, semakin banyak pula kasus yang bisa kita tangani. Itu menunjukkan kepedulian masyarakat semakin baik,” katanya.
Untuk itu, Taj Yasin mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan.
Ia berharap anak-anak di Jawa Tengah dapat tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal tanpa rasa takut terhadap tindakan kekerasan maupun intimidasi di lingkungan sekitarnya.
*Ikuti media sosial kami.
