FESTIVAL Gunung Slamet 2026 di Desa Serang, Purbalingga, menghadirkan prosesi sakral pengambilan air Tuk Sikopyah, kirab gunungan hasil bumi, hingga makan bersama Nasi 3G sebagai wujud syukur dan pelestarian budaya lereng Gunung Slamet.
Festival Gunung Slamet (FGS) #9 kembali menjadi panggung budaya masyarakat lereng Gunung Slamet. Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan wisata D’Las Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, untuk menyaksikan prosesi adat yang sarat makna tentang rasa syukur, pelestarian alam, dan semangat kebersamaan.
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani beserta istri turut mengikuti rangkaian prosesi budaya yang menjadi salah satu agenda utama Festival Gunung Slamet #9.
Acara diawali dengan ritual pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah di Dusun Kaliurip, Desa Serang. Air suci tersebut diambil oleh tokoh adat, kemudian dimasukkan ke dalam 99 lodong bambu serta satu Kendi Pratolo yang dibawa para pemuda dan pemudi Desa Serang mengenakan busana adat.
Prosesi itu menjadi simbol penghormatan terhadap sumber mata air sebagai penopang kehidupan masyarakat sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam di kawasan lereng Gunung Slamet.
Kirab Air Tuk Sikopyah dan Gunungan Hasil Bumi di Festival Gunung Slamet
Usai pengambilan air, rombongan mengarak 99 lodong bambu bersama 16 gunungan hasil bumi berisi aneka buah dan sayuran hasil panen warga dari delapan RW di Desa Serang menuju lokasi festival di D’Las Serang menjadi bagian dari Festival Gunung Slamet yang tidak bisa dipisahkan.
Gunungan tersebut melambangkan rasa syukur atas hasil pertanian, semangat gotong royong, serta doa agar masyarakat senantiasa diberikan keberkahan dan kesejahteraan.
Kirab budaya semakin semarak dengan kehadiran rombongan perempuan berkostum karnaval yang mengiringi perjalanan menuju lokasi utama festival.
Setibanya di kawasan D’Las Serang, rombongan disambut Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif, Wakil Bupati Dimas Prasetyahani, jajaran pemerintah daerah, perwakilan Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bank Indonesia Purwokerto, serta tamu undangan lainnya.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyatuan air dari seluruh lodong bambu dan Kendi Pratolo ke dalam satu wadah besar. Bupati Fahmi menjadi orang pertama yang menuangkan air, disusul Wakil Bupati, pejabat, serta seluruh pembawa lodong.
Tradisi tersebut dimaknai sebagai bersatunya doa, harapan, dan ikhtiar seluruh masyarakat dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Setelah didoakan oleh sesepuh adat Desa Serang, Bupati dan Wakil Bupati melakukan pemotongan tumpeng serta menabuh gong sebagai tanda dimulainya pembagian air Tuk Sikopyah dan gunungan hasil bumi kepada masyarakat yang dipercaya membawa berkah.

Festival Gunung Slamet Diharapkan Dongkrak Wisata dan Ekonomi Warga
Usai prosesi adat, seluruh peserta menikmati makan bersama Nasi 3G, kuliner khas Desa Serang yang terdiri atas nasi jagung, gandul (pepaya tumis), gundil (tempe goreng), dan gereh (ikan asin).
Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan Festival Gunung Slamet #9 digelar selama tiga hari, 3–5 Juli 2026, dengan beragam kegiatan budaya, seni, dan hiburan yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
“Kita laksanakan kembali Festival Gunung Slamet edisi ke-9. Hari ini ada prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah, penyatuan air, gunungan sayuran, dan makan bersama Nasi 3G. Harapannya kegiatan ini mencerminkan kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur masyarakat. Air juga menjadi simbol kehidupan agar ke depan kehidupan masyarakat semakin baik,” ujar Fahmi.
Ia juga mengajak masyarakat menghadiri puncak Festival Gunung Slamet berupa pertunjukan Parade Hujan di Akustik Kabut Lembut yang digelar pada Sabtu malam.
Menurut Fahmi, festival tersebut bukan hanya menjadi agenda pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Pada penyelenggaraan tahun lalu, Festival Gunung Slamet berhasil menarik sekitar 50 ribu pengunjung dengan nilai perputaran ekonomi mencapai Rp3,5 miliar.
“Tahun ini kita berharap jumlah pengunjung lebih banyak sehingga dampak ekonominya semakin besar. Harapannya para petani sayur yang menjadi mayoritas mata pencaharian warga Desa Serang juga semakin sejahtera,” katanya.
Edukasi Generasi Muda Lewat Pelestarian Tradisi
Pranata Acara Festival Gunung Slamet #9, Tuwuh Permanajati, menjelaskan bahwa keterlibatan pemuda dan pemudi dalam prosesi pengambilan air merupakan bagian dari upaya regenerasi budaya agar tradisi leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Ia juga mengungkapkan bahwa mata air Tuk Sikopyah kini muncul di lokasi yang sedikit bergeser akibat banjir bandang yang pernah terjadi. Meski demikian, sumber air tersebut masih berada pada jalur mata air yang sama, tepatnya di bawah Watu Langgar, sehingga kini justru lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Ini menjadi hikmah dari bencana alam. Mata air tetap mengalir dan lebih mudah diakses masyarakat. Penyatuan air dari seluruh lodong juga mengandung makna bahwa sekecil apa pun doa masyarakat, ketika dipersatukan akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bersama,” jelasnya.
Melalui Festival Gunung Slamet #9, Pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama masyarakat Desa Serang berharap tradisi leluhur tetap lestari sekaligus memperkuat posisi kawasan lereng Gunung Slamet sebagai destinasi wisata budaya dan alam unggulan di Jawa Tengah.
*Ikuti media sosial kami.
