BERAWAL dari limbah serabut kelapa, perajin asal Desa Masaran, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara berhasil mengubahnya menjadi sapu berkualitas yang dipasarkan hingga mancanegara sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Siapa sangka limbah serabut kelapa yang selama ini sering dianggap tidak bernilai justru mampu menjadi produk unggulan berorientasi ekspor. Di Desa Masaran, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, serabut kelapa diolah menjadi sapu berkualitas yang kini telah menembus pasar internasional.
Di balik keberhasilan tersebut, ada tangan terampil seorang perajin bernama Esa yang konsisten mengembangkan usaha sapu serabut kelapa. Berkat ketekunan dan inovasi, produknya tidak hanya diminati pasar dalam negeri, tetapi juga telah dikirim ke sejumlah negara di Asia.
Setiap hari, Esa bersama enam orang pekerja mampu memproduksi sekitar 100 sapu serabut kelapa untuk memenuhi permintaan pasar.
“Di sini ada enam karyawan yang ikut membantu membuat sapu. Kalau dirata-rata setiap harinya sekitar 100 sapu,” ujar Esa saat ditemui di lokasi produksinya di Desa Masaran.
Keberadaan usaha tersebut juga turut memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa yang banyak tersedia di wilayah Banjarnegara.
Sapu Serabut Kelapa Diekspor ke China, Vietnam, dan Thailand
Permintaan terhadap sapu serabut kelapa buatan Desa Masaran terus meningkat. Selain dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia, produk tersebut kini telah menembus pasar ekspor melalui mitra dagang yang secara rutin mengambil hasil produksi untuk dikirim ke luar negeri.
Negara tujuan ekspor meliputi China, Vietnam, dan Thailand, yang menjadi pasar potensial bagi produk berbahan alami tersebut.
“Untuk penjualannya di pasar lokal dan alhamdulillah sudah ada yang diekspor. Ada ke China, Vietnam, dan Thailand. Jadi ada yang datang ke sini mengambil sapu, kemudian mereka yang mengirim ke luar negeri,” jelas Esa.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk kerajinan berbasis bahan alami dari desa memiliki daya saing di pasar global apabila didukung kualitas yang konsisten.
Proses Produksi Mengutamakan Kualitas
Dalam proses pembuatannya, serabut kelapa terlebih dahulu diolah menggunakan mesin khusus yang berfungsi memisahkan sekaligus menghaluskan serat agar menghasilkan bahan baku yang berkualitas.
Setelah itu, serabut dijemur hingga benar-benar kering sebelum memasuki tahap perakitan menjadi sapu.
“Serabut kelapa terlebih dahulu dimasukkan ke mesin supaya serabutnya menjadi lebih halus. Setelah itu dijemur hingga benar-benar kering,” terang Esa.
Menurutnya, setiap tahapan produksi dilakukan secara teliti agar kualitas sapu tetap terjaga sebelum dipasarkan kepada konsumen, baik di dalam maupun luar negeri.
Berharap Limbah Produksi Bisa Diolah Menjadi Produk Baru
Meski berhasil mengembangkan usaha hingga pasar ekspor, Esa mengaku masih menghadapi tantangan dalam mengelola sisa limbah serabut kelapa yang tidak terpakai setelah proses produksi.
Selama ini limbah tersebut sebagian besar masih dibuang atau dibakar karena belum tersedia teknologi maupun peralatan yang dapat mengolahnya menjadi produk baru.
“Kalau sekarang masih dibuang dan kadang dibakar. Harapan saya ke depan limbah ini bisa diolah lagi menjadi barang yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Untuk sementara kami belum memiliki alatnya,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan ada dukungan teknologi maupun inovasi pengolahan limbah sehingga seluruh bagian serabut kelapa dapat dimanfaatkan secara maksimal. Selain mengurangi limbah, langkah tersebut juga berpotensi menciptakan produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi serta memperkuat industri kerajinan berbasis sumber daya lokal di Banjarnegara.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami
