SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan Jateng tidak boleh berhenti pada capaian statistik. Ukuran paling penting adalah seberapa jauh kebijakan pemerintah mampu meningkatkan kesejahteraan dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
- Ahmad Luthfi: Pembangunan Jateng Harus Dirasakan Masyarakat
- Kemiskinan Jateng Turun, 3,9 Juta Warga Jadi Perhatian
- Ekonomi Jateng Tumbuh 5,71 Persen, di Atas Nasional
- Investasi Jateng Capai Rp110 Triliun, Serap 257 Ribu Tenaga Kerja
- Swasembada Pangan Harus Diperkuat di Daerah
- HUT ke-81 RI dan Hari Jadi Jateng Jadi Momentum Kolaborasi
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Luthfi seusai mengikuti Rapat Paripurna DPRD Jawa Tengah dalam rangka mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Berlian, Kota Semarang, Jumat (14/8/2026).
Didampingi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Luthfi mengatakan pidato Presiden menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk terus bekerja keras, mendengar persoalan masyarakat, dan memastikan setiap program pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Ahmad Luthfi: Pembangunan Jateng Harus Dirasakan Masyarakat
Menurut Luthfi, berbagai capaian pembangunan yang disampaikan Presiden Prabowo harus diterjemahkan menjadi kerja konkret di tingkat daerah. Begitu juga dengan Jawa Tengah yang mematok mengacu pada pembangunan Jateng harus dirasakan masyarakat.
Mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan infrastruktur, pendidikan, perlindungan sosial hingga penguatan swasembada pangan, seluruhnya pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Kita telah mendengarkan pidato Pak Presiden. Intinya, kita harus bekerja keras untuk rakyat. Artinya, pembangunan Jateng harus selalu mendengarkan apa yang dirasakan oleh masyarakat kita,” katanya.
Ia menegaskan, angka pertumbuhan ekonomi maupun indikator pembangunan Jateng lainnya bukanlah tujuan akhir. “Itu semua adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Karena itu, pemerintah daerah dituntut memastikan kebijakan pembangunan Jateng yang dibuat tidak hanya terlihat berhasil dalam laporan, tetapi benar-benar memberikan perubahan di tengah masyarakat.
Kemiskinan Jateng Turun, 3,9 Juta Warga Jadi Perhatian
Salah satu pekerjaan besar yang terus menjadi perhatian Pemprov Jateng adalah pengentasan kemiskinan. Berdasarkan data Maret 2026, tingkat kemiskinan Jawa Tengah turun menjadi 9,21 persen, dibandingkan 9,48 persen pada Maret 2025.
Meski mengalami penurunan, pemerintah masih menghadapi tantangan besar karena jumlah masyarakat yang membutuhkan penguatan akses terhadap layanan dasar dan ekonomi masih cukup tinggi.
Luthfi menyebut sekitar 3,9 juta masyarakat yang berada pada kelompok desil 1 hingga 4 menjadi bagian penting dalam sasaran kebijakan pemerintah. Intervensi diarahkan agar masyarakat memperoleh akses yang lebih baik terhadap kebutuhan dasar sekaligus memiliki peluang meningkatkan kemampuan ekonominya.
“Pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Jangan sampai capaian hanya bagus di atas kertas, tetapi tidak dirasakan di bawah,” ujarnya.
Ekonomi Jateng Tumbuh 5,71 Persen, di Atas Nasional
Selain penurunan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi menjadi indikator penting dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat. Ekonomi Jawa Tengah tercatat tumbuh 5,71 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026. Sementara secara kumulatif Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Jateng mencapai 5,80 persen secara c-to-c.
Capaian tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi menjadi modal penting untuk menjaga optimisme pembangunan di tengah keterbatasan fiskal serta situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
Namun, pertumbuhan ekonomi tetap harus diterjemahkan ke dalam manfaat yang dirasakan masyarakat. Pertumbuhan yang tinggi, menurutnya, harus mampu membuka kesempatan kerja, memperkuat aktivitas usaha, meningkatkan pendapatan, dan pada akhirnya membantu menekan angka kemiskinan.
Investasi Jateng Capai Rp110 Triliun, Serap 257 Ribu Tenaga Kerja
Pada sektor investasi, pembangunan Jateng juga menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai sekitar Rp110 triliun dan menyerap sekitar 257 ribu tenaga kerja.
Sementara hingga Semester I 2026, realisasi investasi telah mencapai sekitar Rp48,54 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang. Bagi Luthfi, masuknya investasi ke Jawa Tengah tidak boleh hanya dilihat dari besarnya modal yang ditanamkan.
Investasi harus memberikan efek berantai bagi masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, penguatan usaha lokal, hingga penurunan kemiskinan. Artinya, pembangunan Jateng harus terus dilakukan dan berdampak pada masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama bekerja untuk rakyat. Semua capaian itu harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Swasembada Pangan Harus Diperkuat di Daerah
Dalam pidato kenegaraan, Presiden Prabowo juga menyoroti pentingnya kemandirian pangan nasional di tengah ketidakpastian global. Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis, yakni beras, jagung, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Bagi Jawa Tengah, capaian tersebut menjadi dorongan untuk terus memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan di daerah. Pembangunan sektor pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menyangkut kesejahteraan petani, stabilitas harga, produktivitas, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat pedesaan.
HUT ke-81 RI dan Hari Jadi Jateng Jadi Momentum Kolaborasi
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang beriringan dengan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah dinilai menjadi kesempatan untuk memperkuat sinergi pembangunan. Untuk itu, Gubernur Luthfi menekankan pentingnya keselarasan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta DPRD dalam menjalankan berbagai program.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar kebijakan pembangunan dapat berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberikan dampak yang lebih luas.
Dengan berbagai capaian ekonomi dan penurunan kemiskinan yang telah diraih, Pemprov Jateng masih memiliki pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan dan pembangunan benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Bagi Ahmad Luthfi, sederet angka capaian hanyalah alat ukur. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat mendapatkan pekerjaan, pendapatan meningkat, kebutuhan dasar terpenuhi, dan kehidupan menjadi lebih sejahtera.
*Ikuti media sosial kami.
