KABARBANYUMASRAYA.COM – Warga Desa Triguno, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, menghadapi kekeringan dan persoalan air bersih yang tak kunjung selesai setiap musim kemarau. Bukan hanya sumber air mengering, air tanah yang tersisa juga terasa asin sehingga sulit digunakan untuk minum dan memasak.
- Air Payau Jadi Masalah Utama Warga Triguno
- Pemprov Jateng Siapkan Teknologi Desalinasi
- 10 Truk Air Bersih Disalurkan untuk Kebutuhan Mendesak
- Bendungan Triguno Bisa Jadi Penopang Air
- Sekitar 60 Desa di Pati Terdampak Kekeringan
- Jaringan PDAM Juga Akan Diperluas
- Warga Sudah Lima Bulan Menghadapi Kekeringan
- Air Sumur Asin, Warga Terpaksa Mengandalkan Bantuan
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencari solusi yang lebih permanen. Pemprov Jateng berencana menggandeng Universitas Diponegoro (Undip) untuk mengolah air payau menjadi air tawar melalui teknologi desalinasi.
Langkah ini disiapkan agar warga tidak terus bergantung pada distribusi air bersih setiap kali musim kemarau tiba.
Air Payau Jadi Masalah Utama Warga Triguno
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen melihat langsung kondisi warga saat menyalurkan bantuan air bersih bersama Ketua Tim Penggerak PKK Jateng Nawal Arafah Yasin di Dusun Putuk, Desa Triguno, Selasa (6/10/2026).
Menurut Taj Yasin, persoalan di Triguno tidak hanya berkaitan dengan kekeringan. Kondisi air tanah yang cenderung payau membuat kebutuhan warga terhadap air bersih semakin mendesak.
“Ternyata di desa ini airnya payau, sehingga yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya air bersih, air minum ya,” kata Taj Yasin.
Air sumur masih dapat dimanfaatkan untuk sejumlah kebutuhan, seperti mandi. Namun, rasa asin membuat air tersebut tidak ideal untuk konsumsi.
Kondisi itu membuat warga membutuhkan sumber air alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan.
Pemprov Jateng Siapkan Teknologi Desalinasi
Sebagai solusi jangka panjang, Pemprov Jawa Tengah berencana melanjutkan program desalinasi bersama Undip di Desa Triguno.
Teknologi tersebut akan digunakan untuk mengolah air payau menjadi air tawar yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Kita nanti akan kerja sama melanjutkan program Pemprov yaitu desalinasi dengan Undip. Kita bikin di desa ini supaya air payau itu nanti bisa diubah menjadi air minum,” ujar Taj Yasin.
Program desalinasi diharapkan menjadi jawaban atas persoalan yang selama ini dihadapi warga. Jika berjalan optimal, masyarakat tidak harus selalu menunggu bantuan tangki setiap musim kemarau.
Dengan demikian, penanganan kekeringan tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi mulai diarahkan pada penyediaan sumber air yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
10 Truk Air Bersih Disalurkan untuk Kebutuhan Mendesak
Sambil menyiapkan solusi permanen, Pemprov Jateng tetap melakukan penanganan kebutuhan air warga.
Sebanyak 10 truk air bersih disalurkan ke Desa Triguno. Bantuan tersebut menjadi langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan warga yang mengalami kesulitan air.
Taj Yasin menegaskan, distribusi air bersih merupakan solusi sementara. Pemerintah tetap perlu menyiapkan sistem yang mampu mengatasi persoalan air secara berkelanjutan.
Bendungan Triguno Bisa Jadi Penopang Air
Selain desalinasi, Taj Yasin juga menyoroti keberadaan Bendungan Triguno yang berpotensi mendukung kebutuhan air masyarakat.
Bendungan tersebut memiliki debit sekitar 35.000 meter kubik air. Namun, pemanfaatannya masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai.
Sejumlah saluran air perlu mendapatkan pemeliharaan dan perbaikan agar distribusi air dari bendungan dapat berjalan lebih optimal.
Menurut Taj Yasin, perbaikan jaringan menjadi bagian penting agar potensi sumber air yang sudah tersedia dapat benar-benar dirasakan masyarakat.
Sekitar 60 Desa di Pati Terdampak Kekeringan
Terkait persoalan kekeringan di Pati tidak hanya terjadi di Desa Triguno. Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan sekitar 60 desa terdampak kekeringan berdasarkan data terakhir.
Pemkab Pati pun terus melakukan distribusi air bersih dengan memanfaatkan berbagai sumber pendanaan, termasuk CSR dan Belanja Tidak Terduga (BTT).
“Kami terus berupaya untuk pengiriman air bersih, entah dari CSR, entah dari BTT sudah kami siapkan,” kata Risma.
Keterbatasan armada tangki menjadi salah satu kendala dalam distribusi air. Untuk mengatasinya, Pemkab Pati berkoordinasi dengan pengusaha pemilik truk tangki serta pemerintah kabupaten lain.
Langkah tersebut dilakukan agar pengiriman air dapat menjangkau lebih banyak desa yang membutuhkan.
Jaringan PDAM Juga Akan Diperluas
Selain mengandalkan distribusi tangki, Pemkab Pati menyiapkan perluasan jaringan PDAM.
Saat ini, PDAM Pati memiliki sekitar 47.000 pelanggan. Pemerintah daerah berencana memperluas jaringan agar wilayah yang selama ini mengalami kekeringan dapat memperoleh akses air perpipaan.
“Kami akan bangun jaringan supaya jaringan PDAM ini bisa mengalir ke daerah-daerah terdampak kekeringan,” tegas Risma.
Perluasan jaringan PDAM diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang bersama program desalinasi.
Warga Sudah Lima Bulan Menghadapi Kekeringan
Bagi masyarakat Triguno, persoalan air bukan masalah baru. Kekeringan hampir selalu datang setiap musim kemarau.
Suparmi, warga setempat, mengatakan kondisi tersebut terjadi berulang setiap tahun.
“Tiap tahun kalau musim kemarau pokoknya kekeringan,” ujarnya.
Warga lainnya, Sukawi, mengatakan kesulitan air tahun ini telah berlangsung sekitar lima bulan, sejak awal Mei.
“Awal bulan lima kayaknya, lima bulanan. Susah kalau enggak ada bantuan,” kata Sukawi.
Menurut Sukawi, distribusi air dari pemerintah menjadi kebutuhan penting selama musim kemarau. Biasanya, sekitar 40 tangki air dikirim untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tanpa bantuan tersebut, warga akan kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Air Sumur Asin, Warga Terpaksa Mengandalkan Bantuan
Keterbatasan sumber air membuat kondisi warga semakin sulit. Embung di sekitar desa hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air.
Ketika embung mengering, pilihan warga semakin terbatas.
Sumur sebenarnya masih tersedia. Namun, air yang keluar cenderung asin sehingga penggunaannya terbatas.
“Sumur di sini keluarnya asin. Kalau ada sumur ya, jadi susah memang. Kalau untuk mandi boleh-boleh saja, bisa-bisa saja,” ujar Sukawi.
Kondisi inilah yang membuat rencana desalinasi menjadi penting bagi warga Triguno.
Jika air payau dapat diolah menjadi air tawar untuk konsumsi, masyarakat memiliki sumber air yang lebih dekat dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan tangki.
Dengan kombinasi desalinasi, perbaikan saluran Bendungan Triguno, perluasan jaringan PDAM, serta distribusi air bersih saat kondisi darurat, Pemprov Jawa Tengah dan Pemkab Pati berupaya mengubah penanganan kekeringan dari sekadar bantuan sementara menjadi solusi air bersih yang berkelanjutan.
