Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Reading: Banjir Rob Demak Kian Parah, Mangrove dan Giant Sea Wall Jadi Harapan Timbulsloko
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Follow US
© 2026 kabarbanyumasraya.com.
Kabar Banyumas Raya > Artikel > Jateng > Banjir Rob Demak Kian Parah, Mangrove dan Giant Sea Wall Jadi Harapan Timbulsloko
Jateng

Banjir Rob Demak Kian Parah, Mangrove dan Giant Sea Wall Jadi Harapan Timbulsloko

Adel Maulina Zulfa
Last updated: 19 Oktober 2026 16:38
By Adel Maulina Zulfa
8 Min Read
Share
Banjir Rob dan abrasi mengancam warga Timbulsloko, Demak. Penanaman mangrove dan rencana Giant Sea Wall menjadi bagian dari upaya perlindungan Pantura Jawa.
Banjir Rob dan abrasi mengancam warga Timbulsloko, Demak. Penanaman mangrove dan rencana Giant Sea Wall menjadi bagian dari upaya perlindungan Pantura Jawa. (dok. Pemprov Jateng)
SHARE

KABARBANYUMASRAYA.COM – Air laut yang terus merangsek ke daratan atau banjir rob telah mengubah kehidupan warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Sawah dan tambak yang dahulu menjadi sumber penghasilan kini rusak, sementara banjir rob berulang kali mengancam permukiman. Di tengah kondisi tersebut, penanaman mangrove kembali didorong sebagai bagian dari upaya menyelamatkan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Contents
  • Banjir Rob Mengubah Desa Produktif Menjadi Kawasan Terancam
  • Warga Berharap Perlindungan Pesisir Lebih Efektif
  • Aturan Desa Dorong Penanaman Kembali Mangrove
  • Jateng Tanam 2,34 Juta Mangrove Sepanjang 2025
  • Giant Sea Wall dan Mangrove Disiapkan untuk Lindungi Pantura

Timbulsloko kini menjadi lokasi percontohan atau demonstration plot (demplot) perlindungan Pantura dari banjir rob melalui pendekatan Nature-based Solutions (NbS), yakni solusi berbasis alam yang memanfaatkan fungsi ekosistem untuk membantu mengurangi dampak abrasi dan gelombang laut.

Penanaman mangrove dilakukan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Desa Timbulsloko, Senin (19/10/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan, sejumlah kepala daerah, dan masyarakat setempat.

Namun, bagi warga Timbulsloko, pemulihan pesisir bukan sekadar persoalan lingkungan. Di balik lahan yang tenggelam dan permukiman yang terancam, ada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana mempertahankan penghidupan ketika ruang hidup semakin menyempit.

Banjir Rob Mengubah Desa Produktif Menjadi Kawasan Terancam

Kepala Desa Timbulsloko Nadhiri mengatakan, kondisi desanya mulai memburuk sejak 2016. Abrasi dan banjir rob yang terus berulang menyebabkan lahan pertanian dan tambak kehilangan produktivitas. Sebagian wilayah permukiman pun mulai terdampak genangan air laut.

Padahal, sebelum kerusakan pesisir semakin parah, Timbulsloko dikenal sebagai desa dengan sumber penghidupan yang beragam. Warga mengandalkan hasil tambak, panen padi, cabai, jagung, hingga bandeng untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Dulu Timbulsloko termasuk desa yang kaya raya. Ada sawah, tegalan, dan tambak. Penghasilan setiap hari ada udang dari tambak, terus empat bulan sekali panen padi, cabai, jagung, dan bandeng. Setelah adanya banjir rob dan terkena abrasi, hancur semuanya,” kata Nadhiri.

Menurut dia, perubahan kondisi lingkungan juga mempersulit upaya pemindahan warga ke lokasi yang lebih aman. Pemerintah desa sempat menyiapkan relokasi, tetapi keterbatasan sumber penghasilan membuat sebagian warga memilih kembali ke tempat tinggal semula.

Di lokasi baru, mereka belum tentu memperoleh pekerjaan yang mampu menopang kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, bertahan di Timbulsloko masih memberi peluang mendapatkan hasil laut meskipun harus menghadapi banjir rob.

“Warga bertahan di sini karena masalah ekonomi. Umur 40 tahun kalau kerja bangunan sudah agak loyo, tidak kuat. Kalau mau kerja di pabrik tidak diterima, akhirnya kembali lagi ke sini. Paling tidak tiap hari bisa dapat kerang, udang, atau kepiting dari belakang rumah,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan rob di pesisir Demak tidak cukup hanya dengan memperbaiki lingkungan. Perlindungan kawasan juga perlu diikuti upaya menjaga mata pencaharian dan menyediakan pilihan ekonomi yang layak bagi masyarakat terdampak.

Warga Berharap Perlindungan Pesisir Lebih Efektif

Dampak rob juga dirasakan Masripah, warga Dukuh Wonorejo, Desa Timbulsloko. Selama bertahun-tahun, ia harus berulang kali meninggikan lantai dan memperbaiki rumah agar air laut tidak mudah masuk ke dalam bangunan.

Perbaikan yang dilakukan warga menjadi pekerjaan berulang karena genangan kembali datang. Mereka berharap upaya perlindungan pesisir mampu mengurangi terjangan air laut hingga ke kawasan permukiman.

“Sudah lama dialami warga sini. Kalau bisa pasang pemecah ombak biar tidak besar sampai sini (daratan). Semoga dengan kegiatan ini dan adanya Giant Sea Wall nanti bisa mengurangi rob,” kata Masripah.

Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan warga terhadap perlindungan yang tidak hanya bersifat sementara. Mereka membutuhkan penanganan yang mampu mengurangi risiko banjir rob sekaligus menjaga rumah dan sumber penghidupan agar tetap bertahan.

Aturan Desa Dorong Penanaman Kembali Mangrove

Di tengah ancaman abrasi, Pemerintah Desa Timbulsloko berupaya menjaga mangrove yang masih tersisa. Salah satu langkahnya adalah menerapkan peraturan desa yang mewajibkan warga melakukan penanaman kembali sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.

Warga yang menebang satu pohon mangrove diwajibkan menggantinya dengan 10 pohon baru. Ketentuan serupa juga berlaku bagi warga yang menikah serta pemilik ternak yang hewannya memakan tanaman mangrove.

“Ini masih berjalan sampai sekarang,” ujar Nadhiri.

Pemerintah desa juga berharap Timbulsloko dapat dikembangkan menjadi desa wisata mangrove. Namun, rencana tersebut bergantung pada keberhasilan memulihkan ekosistem pesisir yang menjadi salah satu penopang lingkungan desa.

Penanaman kembali mangrove menjadi langkah penting, tetapi keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam. Pemeliharaan, tingkat kelangsungan hidup tanaman, serta kesesuaian lokasi dengan kondisi pesisir juga menentukan efektivitas pemulihan.

Jateng Tanam 2,34 Juta Mangrove Sepanjang 2025

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, penanaman mangrove merupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak abrasi dan banjir rob yang mengancam kawasan Pantura.

Melalui gerakan Mageri Segoro, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat penanaman sekitar 2,34 juta batang mangrove sepanjang 2025. Penanaman tersebut mencakup lahan seluas 257 hektare yang tersebar di 107 desa, 54 kecamatan, dan 17 kabupaten/kota.

Meski demikian, Luthfi mengakui tidak semua tanaman mampu bertahan hidup. Karena itu, upaya pemulihan pesisir perlu diarahkan tidak hanya pada penanaman, tetapi juga pada peningkatan keberhasilan tumbuh mangrove.

Ia menyebut penggunaan HexBricks diharapkan dapat mendukung upaya pemulihan tersebut. Selain solusi berbasis alam, pembangunan Giant Sea Wall juga diharapkan menjadi bagian dari penanganan ancaman rob di Pantura.

Penggabungan berbagai pendekatan dinilai penting agar upaya perlindungan pesisir dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah.

Giant Sea Wall dan Mangrove Disiapkan untuk Lindungi Pantura

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, mangrove memiliki peran dalam meredam energi gelombang laut sehingga dapat membantu mengurangi dampak abrasi.

Menurut dia, perlindungan kawasan pesisir perlu menggabungkan infrastruktur fisik dan solusi berbasis alam. Pendekatan hibrida tersebut mencakup pembangunan tanggul pantai dan tanggul laut yang disertai pemulihan ekosistem, termasuk penanaman mangrove.

Langkah itu diarahkan untuk menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah yang dapat membahayakan permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Agus juga mengajak seluruh pihak mengawal rencana pembangunan Giant Sea Wall. Ia menyebut pengembangan infrastruktur perlindungan Pantura di Jawa Tengah akan dimulai dari kawasan Kendal, Semarang, dan Demak.

“Mari kita kawal bersama-sama pembangunan Giant Sea Wall ini, dimulai dari penanaman mangrove. Jateng nanti dimulai dari Kendal, Semarang, dan Demak,” katanya.

Bagi warga Timbulsloko, keberhasilan penanganan rob pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah mangrove yang ditanam atau panjang tanggul yang dibangun. Yang lebih penting adalah berkurangnya ancaman terhadap permukiman, pulihnya lingkungan pesisir, dan terjaganya sumber penghidupan masyarakat.

Di desa yang terus berhadapan dengan air laut tersebut, penyelamatan Pantura berarti memastikan warga tetap memiliki ruang hidup dan masa depan di tanah kelahirannya.

Fast Track RSUD Dr Moewardi Mulai Efektif, Wagub Taj Yasin Soroti Perubahan Alur Pasien
Taj Yasin Ungkap Rahasia Jadi Pemimpin: Santri Butuh Ilmu, Istiqamah dan Riyadhah
Kabar Baik! Pertamina Jamin Stok BBM di Jawa Tengah dan DIY Aman, Distribusi Tetap Lancar
Infrastruktur Rp35 Miliar Perkuat Konektivitas dan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Selatan–Timur Jateng
Jateng Uji Model Baru Pengentasan Kemiskinan, Pemuda Keluarga Miskin Jadi Sasaran Utama
TAGGED:banjir robGiant Sea Wallpenanaman mangrove
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Paguyuban Mrica Corner menghadirkan kopi Sengkuyung dan produk mitra binaan PLN IP UBP Mrica dalam Inpower Fest 2.0 di Jakarta, sebagai upaya memperluas akses pasar dan memperkenalkan potensi produk unggulan Banjarnegara. Mrica Corner Bawa Kopi Konservasi Hulu Serayu ke Bazar HUT PLN Indonesia Power
Next Article Polres dan Kemenag Banjarnegara menandatangani MoU untuk memperkuat keamanan madrasah serta mencegah perundungan, narkoba, dan judi online. Polres dan Kemenag Banjarnegara Perkuat Keamanan Cegah Perundungan dan Judi Online

Berita Terbaru

Peresmian sumur permanen di Desa Kaliajir menjadi satu solusi dalam penanganan krisis air bersih di desa tersebut.
Atasi Kekeringan, Polres Banjarnegara Resmikan Sumur Air Bersih di Desa Kaliajir
Banjarnegara
Program Peduli Kasih, Polres Banjarnegara memberikan bantuan seragam, topi, dan sepatu kepada siswa di Purwanegara sekaligus mendorong pendidikan dan perlindungan anak.
Polres Banjarnegara Bantu Seragam dan Sepatu Sekolah untuk Siswa di Purwanegara
Banjarnegara
Sebanyak 26 ton briket arang tempurung kelapa dari Purbalingga dikirim ke Yordania. Pemkab mendorong pelaku usaha lokal memperluas pasar ekspor.
Briket Purbalingga Tembus Pasar Yordania, Pemkab Siapkan Dukungan Ekspor
Purbalingga
Liga Askab PSSI Purbalingga 2026 berakhir dengan 42 klub dan 993 pemain. Simak daftar juara Liga 1, Liga 2, Liga 3, top scorer, dan pemain terbaik.
Liga Askab PSSI Purbalingga 2026 Tuntas, Diikuti 993 Pemain dan 42 Klub
Purbalingga
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
© 2026 kabarbanyumasraya.com. All Rights Reserved.