SEMARANG – Jawa Tengah mulai memasuki babak baru transportasi ramah lingkungan yang ditandai dengan beroperasinya 10 taksi listrik sebagai bagian awal dari program elektrifikasi angkutan umum di provinsi ini.
Transformasi tersebut tidak berhenti pada taksi listrik. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah mengkaji penggunaan kendaraan listrik untuk layanan BRT, Trans Jateng, dan travel sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan kendaraan listrik menjadi salah satu langkah untuk mendorong penggunaan energi bersih sekaligus menekan polusi udara.
Ahmad Luthfi Jajal Taksi Listrik
Luthfi menjajal langsung taksi listrik seusai Grand Launching Transformasi Perhubungan Jawa Tengah 2026 di Kantor Dinas Perhubungan Jateng. Ia berkeliling di sekitar kompleks kantor Dishub untuk merasakan langsung kendaraan tersebut.
Menurut Luthfi, taksi listrik menawarkan perjalanan yang lebih nyaman karena minim suara dan tidak menghasilkan emisi langsung dari knalpot.
“Ini sangat nyaman sekali. Saya coba muter kantor (Dishub), argonya tinggal pencet, enggak ada suaranya, tidak polusi udara, dan menghemat energi fosil,” ujar Luthfi.
Ia berharap ke depan semakin banyak taksi di Jawa Tengah yang beralih menggunakan energi listrik.
Elektrifikasi BRT dan Trans Jateng Masih Dikaji
Pemprov Jateng tidak ingin elektrifikasi transportasi hanya mengikuti tren. Setiap teknologi yang diterapkan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi transportasi daerah. Karena itu, penggunaan bus listrik untuk BRT dan Trans Jateng masih dalam tahap kajian.
“Masih kita kaji, ya. Kita kaji termasuk Trans, kemudian taksi, kemudian travel,” kata Luthfi.
Menurutnya, transformasi transportasi harus menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menghadirkan teknologi atau aplikasi baru.
Delapan Inovasi Transportasi Diluncurkan
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah Arif Djatmiko mengatakan taksi listrik dan travel listrik menjadi bagian dari delapan inovasi dalam Transformasi Perhubungan Jawa Tengah 2026. Selain kendaraan listrik, Dishub Jateng mulai mendorong digitalisasi layanan terminal melalui penerapan pembayaran nontunai atau cashless.
Uji coba telah dilakukan di Terminal Sukoharjo dan selanjutnya ditargetkan diterapkan pada 22 Terminal Tipe B yang dikelola Pemprov Jateng. Sistem tersebut diharapkan membuat transaksi lebih transparan karena pembayaran tercatat secara digital dan langsung masuk ke kas daerah.
Terminal Jateng Mulai Beralih ke Sistem Digital
Digitalisasi juga dilakukan melalui DADI MANTEB, sistem monitoring dan pengawasan operasional Terminal Tipe B. Sistem tersebut memungkinkan pemerintah memantau operasional terminal dan kendaraan secara lebih terukur dengan memanfaatkan data digital.
Transformasi layanan juga menyasar sistem pembayaran Trans Jateng. Penggunaan Kartu Multi Trip saat ini telah diterapkan pada satu koridor dan ditargetkan dapat diperluas ke seluruh tujuh koridor Trans Jateng.
Trans Jateng dan Gojek Disiapkan Terintegrasi
Dishub Jateng juga membangun konektivitas antara transportasi publik dan layanan perjalanan berbasis aplikasi melalui kolaborasi Trans Jateng dan Gojek. Integrasi tersebut diarahkan untuk mengatasi persoalan akses dari rumah menuju halte maupun dari halte menuju tujuan akhir.
Kepala Dishub Jateng Arif Djatmiko mengatakan ke depan integrasi tersebut ditargetkan menggunakan satu sistem tiket.
“Tujuan akhirnya adalah tahun depan kita akan satu tiket antara Gojek dan Trans Jateng. Jadi first mile, last mile sudah tercakup semua,” ujarnya.
10 Juta Penumpang Trans Jateng pada 2025
Upaya mendorong masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi mulai menunjukkan hasil. Dishub Jateng mencatat jumlah pengguna Trans Jateng sepanjang 2025 mencapai sekitar 10 juta penumpang. Sekitar 53 persen di antaranya merupakan masyarakat yang beralih dari kendaraan pribadi.
Peralihan tersebut diperkirakan memberikan penghematan biaya transportasi masyarakat hingga sekitar Rp50 miliar. Capaian itu menjadi modal bagi Pemprov Jateng untuk terus memperluas transportasi publik sekaligus menekan biaya mobilitas masyarakat.
Transformasi transportasi Jawa Tengah kini diarahkan bukan hanya pada penggunaan kendaraan listrik, tetapi juga mencakup digitalisasi, integrasi antarmoda, pembayaran nontunai, serta perluasan transportasi publik.
Target akhirnya adalah menghadirkan sistem transportasi Jawa Tengah yang lebih bersih, terjangkau, terintegrasi, dan mudah digunakan masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
