Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Reading: Perajin Batik Jawa Tengah Turun 40 Persen, Nawal Yasin Siapkan Enam Strategi Regenerasi
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
  • Beranda
  • Banyumas
  • Banjarnegara
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Jateng
  • Nasional
  • Oase
Follow US
© 2026 kabarbanyumasraya.com.
Kabar Banyumas Raya > Artikel > Jateng > Perajin Batik Jawa Tengah Turun 40 Persen, Nawal Yasin Siapkan Enam Strategi Regenerasi
Jateng

Perajin Batik Jawa Tengah Turun 40 Persen, Nawal Yasin Siapkan Enam Strategi Regenerasi

Reza Sanjaya
Last updated: 16 Oktober 2026 10:45
By Reza Sanjaya
6 Min Read
Share
Jumlah perajin batik Jawa Tengah turun sekitar 40 persen. Nawal Yasin mendorong enam strategi untuk memperkuat regenerasi, inovasi, dan pasar batik Pekalongan.
Jumlah perajin batik Jawa Tengah turun sekitar 40 persen. Nawal Yasin mendorong enam strategi untuk memperkuat regenerasi, inovasi, dan pasar batik Pekalongan. (dok. Pemprov Jateng)
SHARE

KABARBANYUMASRAYA.COM – Regenerasi perajin menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan industri batik di Jawa Tengah. Jumlah perajin yang terus menurun mendorong Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Nawal Arawah Yasin, mengajak berbagai pihak memperkuat pelestarian batik sekaligus membuka peluang bagi generasi muda.

Contents
  • Batik Pekalongan Punya Kekayaan Motif dan Warna
  • Enam Strategi Memperkuat Industri Batik Pekalongan
  • Generasi Muda dan Teknologi Jadi Kunci Masa Depan Batik

Upaya tersebut disampaikan Nawal saat pembukaan Pekan Batik Nusantara (PBN) 2026 di Alun-Alun Nusantara, Pekalongan, Rabu (14/10/2026) malam. Ia menekankan perlunya langkah konkret untuk menjaga keberlangsungan batik sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Berdasarkan data yang disampaikan Nawal, jumlah perajin batik di Jawa Tengah saat ini sekitar 49.530 orang. Angka tersebut menurun dibandingkan data 2020 yang mencapai 82.550 perajin.

Artinya, jumlah perajin batik di Jawa Tengah berkurang sekitar 40 persen dalam enam tahun terakhir. Sementara itu, Kota Pekalongan tercatat memiliki sekitar 10.000 perajin, termasuk berbagai pelaku usaha yang terlibat dalam ekosistem industri batik, berdasarkan data pemerintah kota per 2 Oktober 2026.

“Untuk itu kita semua harus meningkatkan regenerasi pengrajin batik kepada anak muda, serta menjaga, melindungi, dan mengembangkan kapasitas pengrajin serta ekosistem batik,” ujar Nawal.

Menurutnya, batik bukan sekadar produk fesyen, melainkan bagian dari identitas budaya dan kegiatan ekonomi kerakyatan yang menyerap banyak tenaga kerja. Industri ini juga menjadi sumber penghidupan bagi ratusan ribu keluarga di Jawa Tengah.

Batik Pekalongan Punya Kekayaan Motif dan Warna

Nawal menilai Batik Pekalongan memiliki posisi istimewa dalam khazanah batik Indonesia. Tradisi batik di kota pesisir tersebut berkembang melalui interaksi masyarakat dengan berbagai budaya, perdagangan, dan perubahan zaman.

Pengaruh budaya Tionghoa, Arab, India, Belanda, serta beragam tradisi Nusantara turut memperkaya karakter batik Pekalongan. Perpaduan tersebut terlihat pada motif, komposisi warna, dan desain yang terus berkembang.

Sejumlah motif yang menjadi kekayaan batik Pekalongan antara lain Jlamprang, Buketan, Encim, Klenengan, Pagi-Sore, Hokokai, serta motif flora dan fauna.

Namun, kekayaan motif tersebut perlu diimbangi dengan edukasi yang lebih luas kepada masyarakat. Pengenalan terhadap karakter dan filosofi batik dinilai penting agar masyarakat tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga memahami nilai budaya di balik setiap karya.

Nawal juga mendorong perajin mengembangkan kain batik menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Produk tersebut dapat berupa busana kerja, pakaian pesta, sarung, hingga berbagai produk fesyen lainnya.

Menurutnya, keberanian dalam memadukan warna, keterbukaan terhadap pengaruh budaya, serta kemampuan berinovasi menjadi keunggulan Batik Pekalongan. Inovasi desain dapat terus dilakukan tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitasnya.

Enam Strategi Memperkuat Industri Batik Pekalongan

Untuk membangun masa depan batik Pekalongan, Nawal menyampaikan enam langkah strategis yang perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak.

Pertama, melestarikan dan mengembangkan motif khas Pekalongan. Upaya ini dapat dilakukan melalui dokumentasi pengetahuan tradisional, penguatan regenerasi pembatik, serta perlindungan terhadap keaslian proses pembuatan batik tulis dan batik cap.

Kedua, meningkatkan kualitas dan inovasi produk. Perajin perlu didorong untuk mengembangkan desain, kualitas bahan, teknik pewarnaan, kenyamanan produk, kemasan, serta standar produksi agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

Ketiga, memperluas pasar nasional dan internasional. Perajin perlu memperoleh akses lebih luas untuk bertemu pembeli, memanfaatkan pemasaran digital, mengikuti pameran strategis, dan menjajaki peluang ekspor secara bertahap.

Nawal menilai perluasan pasar menjadi salah satu kunci agar produk batik tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki daya saing di tengah perkembangan industri fesyen.

Keempat, memperkuat kelembagaan dan kesejahteraan perajin. Dukungan yang diperlukan meliputi akses pembiayaan, pelatihan usaha, perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan tenaga terampil, serta penguatan koperasi dan kelompok usaha.

Kelima, membangun kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, Dekranasda, pelaku usaha, desainer, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat perlu bekerja bersama untuk memperkuat ekosistem batik.

Menurut Nawal, pengembangan industri batik membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar upaya pelestarian, peningkatan kualitas, dan perluasan pasar dapat berjalan beriringan.

Keenam, mengembangkan basis data industri batik berbasis digital. Data yang terintegrasi perlu mencakup jumlah perajin, kapasitas produksi, jenis produk, omzet, tujuan pemasaran, nilai transaksi, hingga ekspor.

Ketersediaan data yang akurat diharapkan membantu pemerintah dan pemangku kepentingan menyusun program pengembangan batik secara lebih terarah, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan perajin.

Generasi Muda dan Teknologi Jadi Kunci Masa Depan Batik

Selain penguatan industri, Nawal mengajak generasi muda mengambil peran lebih besar dalam menjaga keberlanjutan batik. Keterlibatan anak muda tidak cukup hanya dengan mengenakan batik, tetapi juga perlu diwujudkan melalui pembelajaran, pengembangan desain, promosi, dan penciptaan peluang usaha.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta perdagangan elektronik atau e-commerce dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemasaran dan inovasi produk batik.

Teknologi tersebut berpotensi membantu perajin memperkenalkan motif kepada khalayak yang lebih luas, memahami kebutuhan konsumen, mengembangkan gagasan desain, serta menjangkau pasar tanpa terbatas wilayah.

“Saya juga mengajak generasi muda untuk mencintai batik, bukan hanya dengan mengenakannya, tetapi dengan mempelajarinya, mengembangkan desainnya, mempromosikannya, dan menjadikannya sumber inovasi serta peluang usaha,” tandas Nawal.

Ia berharap kolaborasi antara perajin, pemerintah, dunia usaha, dan generasi muda dapat menjaga keberlangsungan batik Pekalongan. Dengan demikian, batik tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus berkembang sebagai produk ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ahmad Luthfi Percepat Penyaluran BLT DBHCHT 2026, 85 Ribu Buruh Tembakau Terima Rp600 Ribu
Hari Jadi ke 81, Produksi Padi Tembus 10,5 Juta Ton, Jawa Tengah Kokoh Jadi Lumbung Pangan Nasional
Halalbihalal di Kantor Gubernur, Ahmad Luthfi Rangkul Disabilitas dan Kepala Daerah Perkuat Sinergitas
Pemprov Jateng Gandeng Mercy Corps Perkuat Ketahanan Iklim, Delapan Daerah Bersinergi Kurangi Risiko Banjir
Belajar dari DIY, PKA VII Jateng Dorong Digitalisasi Pariwisata dan Desa Wisata
TAGGED:batikbatik pekalonganindustri batik Indonesiamotif batik Pekalongannawal yasinPekan Batik Nusantara 2026perajin batikregenerasiregenerasi perajin batik
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Letua KONI Banjarnegara saat memberikan pengarahan bagi atlet Porprov 2026 Target 7 Besar Porprov Jateng 2026, KONI Banjarnegara Gandeng Psikolog untuk Perkuat Mental Atlet
Next Article Melalui pengembangan produk Kopi Sengkuyung, UBP Mrica mendorong terciptanya nilai tambah ekonomi dari potensi lokal. Kopi Sengkuyung Serap 2,5 Ton Kopi Petani, Dukung Ekonomi dan Konservasi DAS Serayu

Berita Terbaru

Peresmian sumur permanen di Desa Kaliajir menjadi satu solusi dalam penanganan krisis air bersih di desa tersebut.
Atasi Kekeringan, Polres Banjarnegara Resmikan Sumur Air Bersih di Desa Kaliajir
Banjarnegara
Program Peduli Kasih, Polres Banjarnegara memberikan bantuan seragam, topi, dan sepatu kepada siswa di Purwanegara sekaligus mendorong pendidikan dan perlindungan anak.
Polres Banjarnegara Bantu Seragam dan Sepatu Sekolah untuk Siswa di Purwanegara
Banjarnegara
Sebanyak 26 ton briket arang tempurung kelapa dari Purbalingga dikirim ke Yordania. Pemkab mendorong pelaku usaha lokal memperluas pasar ekspor.
Briket Purbalingga Tembus Pasar Yordania, Pemkab Siapkan Dukungan Ekspor
Purbalingga
Liga Askab PSSI Purbalingga 2026 berakhir dengan 42 klub dan 993 pemain. Simak daftar juara Liga 1, Liga 2, Liga 3, top scorer, dan pemain terbaik.
Liga Askab PSSI Purbalingga 2026 Tuntas, Diikuti 993 Pemain dan 42 Klub
Purbalingga
Kabar Banyumas RayaKabar Banyumas Raya
© 2026 kabarbanyumasraya.com. All Rights Reserved.