KABARBANYUMASRAYA.COM – Siswa MTs di Cilacap berinisial MNA diduga menjadi korban perundungan dan penganiayaan di lingkungan asrama. Dugaan kekerasan tersebut bermula setelah korban mendapat tuduhan mengambil uang milik salah satu teman satu asrama.
MNA yang masih duduk di kelas IX itu diduga mengalami kekerasan yang melibatkan sejumlah siswa. Rekaman CCTV di lingkungan asrama memperlihatkan korban mendapat perlakuan kasar hingga terjatuh setelah seorang siswa menendang tubuhnya.
Keluarga kemudian membawa MNA ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan medis. Mereka juga melaporkan dugaan penganiayaan tersebut kepada pihak kepolisian untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Korban Siswa MTs Jalani Pemeriksaan di Rumah Sakit
Paman korban, Cecep Saeful Rahman, mengatakan keluarga mengetahui kejadian tersebut setelah MNA menghubungi ibunya. Keluarga kemudian mendatangi asrama untuk memastikan kondisi korban.
Setelah bertemu MNA, keluarga membawa siswa tersebut ke rumah sakit di wilayah Majenang. Tim medis melakukan sejumlah pemeriksaan, termasuk CT scan pada bagian kepala.
Cecep mengatakan keluarga saat ini memprioritaskan pemulihan kondisi korban. Menurutnya, keluarga ingin MNA segera pulih secara fisik dan dapat melewati trauma setelah mengalami dugaan kekerasan.
“Yang pertama itu tentu pemulihan korban. Harapannya adik saya ini pemulihannya bisa cepat, bisa pulih dari trauma ini. Harapan utamanya bisa sehat kembali, pulih kembali, kemudian bisa kembali belajar,” kata Cecep.
Selain menangani kondisi kesehatan korban, keluarga juga mengambil langkah hukum. Cecep mengatakan keluarga sudah membuat laporan kepada kepolisian terkait dugaan penganiayaan yang menimpa MNA.
Keluarga berharap polisi dapat mengusut perkara tersebut berdasarkan bukti dan keterangan yang ada. Mereka juga meminta pihak yang terlibat bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan hukum.
“Harapan kedua, baik dari pelaku maupun pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab atau yang terkait dengan kejadian ini bisa mempertanggungjawabkan keseluruhan akibat yang timbul dari kejadian ini,” ujarnya.
Ibu Korban Siswa MTs Mengaku Terpukul
Ibu korban, Siti Muflihah, mengaku terpukul setelah mengetahui anaknya mengalami dugaan kekerasan di asrama. Perasaannya semakin berat setelah melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan perlakuan terhadap anaknya.
“Ya sangat sakit hati. Saya sudah tidak bisa berkata banyak. Saya sudah terlanjur kecewa,” ujar Siti.
Siti mengatakan MNA sempat menghubunginya melalui telepon dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Setelah menerima kabar tersebut, keluarga langsung mendatangi asrama.
Keluarga kemudian membawa korban ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Hingga kini, MNA masih menjalani proses pemeriksaan medis dan keluarga menunggu hasil pemeriksaan bagian kepala.
Keluarga berharap kondisi korban segera membaik. Mereka juga ingin MNA dapat kembali mengikuti kegiatan belajar setelah kondisi fisik dan psikologisnya pulih.
Pengelola Asrama MTs Lakukan Investigasi
Direktur Asrama Arif Budian membenarkan adanya informasi mengenai dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah santri. Pengelola asrama kemudian mengambil langkah untuk mengetahui rangkaian kejadian tersebut.
Arif mengatakan pihaknya memanggil sejumlah santri yang diduga terlibat. Pengelola meminta keterangan mereka dan melakukan investigasi internal.
“Langkah pertama kami memanggil dan menginvestigasi terhadap santri yang diduga melakukan tindakan kepada korban,” kata Arif.
Setelah proses investigasi internal, pihak asrama mengonfirmasi informasi yang diperoleh kepada korban dan keluarganya. Pengelola juga memfasilitasi pertemuan antara keluarga korban dengan keluarga santri yang diduga terlibat.
Arif mengatakan kasus tersebut menjadi evaluasi bagi pengelola asrama. Pihaknya berencana memperkuat sistem pengawasan untuk menjaga keamanan para santri.
“Kami akan memperkuat sistem dan juga tata tertib yang ada di lingkungan asrama. Unsur keamanan dan pengamanan juga akan kami tambah,” ujarnya.
Selain memperketat pengawasan, pengelola asrama akan meningkatkan edukasi kepada para santri tentang dampak perundungan dan kekerasan. Edukasi tersebut diharapkan dapat mendorong para santri menyelesaikan persoalan tanpa menggunakan kekerasan.
Pengelola juga akan mengevaluasi penerapan tata tertib di lingkungan asrama. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Polisi Dalami Dugaan Penganiayaan
Di sisi lain, keluarga korban tetap melanjutkan proses hukum atas dugaan penganiayaan terhadap siswa MTs di Cilacap tersebut. Polisi menangani laporan keluarga untuk mendalami kejadian yang berlangsung di lingkungan asrama.
Proses penyelidikan akan mengarah pada rangkaian kejadian, termasuk dugaan penyebab kekerasan dan pihak-pihak yang terlibat. Polisi juga akan mengacu pada bukti serta keterangan saksi dalam menangani perkara tersebut.
Rekaman CCTV menjadi salah satu informasi yang diketahui keluarga terkait dugaan kekerasan. Namun, proses hukum tetap membutuhkan pendalaman dari pihak kepolisian untuk memastikan rangkaian kejadian secara utuh.
Kasus siswa MTs di Cilacap ini menjadi perhatian karena dugaan kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan berasrama. Keluarga berharap proses hukum berjalan sesuai aturan dan memberikan kepastian terhadap perkara tersebut.
Untuk saat ini, keluarga masih fokus mendampingi MNA menjalani pemeriksaan dan pemulihan. Mereka berharap korban segera pulih dari dampak fisik maupun trauma sehingga dapat kembali belajar dan menjalani aktivitas seperti sebelumnya.
