MASJID Nusantara Watu Sanggar Purbalingga menjadi satu perpaduian Islam dan budaya jawa di Purbalingga. Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, menghadiri peresmian Masjid yang berada di Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, menjadi menarik karena perpaduan budaya jawa dan islam.
Wakil Bupati Purbalingga Dimas menyebutkan jika masjid tersebut menarik perhatian karena desain arsitekturnya yang tidak biasa. Bangunan ini memadukan kubah masjid dengan ornamen gunungan khas budaya Jawa, mencerminkan perpaduan nilai Islam dengan kearifan lokal Nusantara.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan masjid tersebut. Selamat atas selesainya pembangunan Masjid Nusantara Watu Sanggar ini. Arsitekturnya sangat unik karena menggabungkan nilai spiritual Islam dengan kekayaan budaya Nusantara,” ujarnya.
Masjid Nusantara Watu Sanggar, Simbol Harmoni antara Spiritualitas dan Budaya Lokal
Menurut Dimas, kehadiran Masjid Nusantara Watu Sanggar ini bukan sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi simbol harmoni antara ajaran agama dan budaya lokal.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga, kata dia, siap memberikan dukungan agar Masjid Nusantara Watu Sanggar tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Pemerintah daerah siap melakukan berbagai dukungan agar keberadaan masjid ini dapat berjalan optimal dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Dimas.
Ia juga menilai masjid ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi yang dapat menarik pengunjung sekaligus mendorong perekonomian masyarakat sekitar.
Ornamen Gunungan dan Kubah Sarat Makna Filosofis
Penanggung jawab pembangunan Masjid Nusantara Watu Sanggar, Amir Panoto, menjelaskan pembangunan masjid dimulai sejak awal tahun 2024 dan membutuhkan waktu sekitar dua tahun hingga tahap penyelesaian.
Konsep arsitektur masjid sengaja dirancang dengan memadukan seni Islam dan budaya Jawa sebagai representasi kekayaan budaya Nusantara.
Di bagian bangunan terdapat 25 ornamen gunungan yang melambangkan jumlah nabi dan rasul dalam ajaran Islam. Dalam tradisi pewayangan Jawa, gunungan juga dimaknai sebagai pusat kehidupan yang menggambarkan kebesaran Tuhan.
Selain itu, pada bagian atas masjid terdapat sembilan kubah yang menyerupai bentuk stupa. Elemen tersebut merupakan simbol penghormatan kepada Wali Songo yang dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa.
Sementara di sekeliling bangunan terdapat lima kubah kecil yang merepresentasikan lima rukun Islam, sehingga memperkuat pesan spiritual yang ingin disampaikan melalui desain masjid tersebut.
*Ikuti media sosial kami.
