KABARBANYUMASRAYA.COM – Kompetisi bulu tangkis di SMP Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, tidak sekadar menjadi ajang mencari juara. Melalui turnamen bertajuk Champion of Class Gracias, seluruh siswa kelas IX-G terlibat dalam penerapan Sport Education Model (SEM) pada pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Selama lima hari, aula SMP Negeri 1 Bawang berubah menjadi arena pertandingan sekaligus laboratorium pembelajaran. Siswa tidak hanya tampil sebagai pemain, tetapi juga menjalankan berbagai tugas di balik berlangsungnya kompetisi.
Mereka terbagi dalam sejumlah peran, mulai dari pelatih, wasit, panitia, tim medis, jurnalis, reporter hingga dokumentasi.
Guru PJOK kelas IX SMP Negeri 1 Bawang, Faizun Azhar, mengatakan penerapan SEM memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan karakter sekaligus mengeksplorasi kemampuan sesuai minat masing-masing.
“Model SEM ini sengaja dipilih untuk menumbuhkan karakter siswa di berbagai bidang yang diminati,” kata Faizun.
Lima Hari Mengelola Kompetisi
Champion of Class Gracias dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari latihan dan persiapan teknis, technical meeting, simulasi pertandingan, kompetisi hingga penutupan.
Sejak hari pertama, siswa mulai membagi tugas dan mempersiapkan kebutuhan turnamen. Pemain berlatih bersama pelatih dari kalangan siswa, sementara panitia menyusun teknis pertandingan dan perangkat lainnya.
Memasuki hari kedua, kemandirian siswa semakin terlihat. Masing-masing divisi mulai menjalankan tugas tanpa harus selalu menunggu arahan guru.
Tim dokumentasi mengabadikan jalannya kegiatan, tim medis mempersiapkan kebutuhan pendukung pertandingan, sedangkan panitia menyelesaikan berbagai persiapan teknis.
Pada hari ketiga, kegiatan memasuki tahap technical meeting yang dipandu ketua panitia. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai sistem pertandingan, aturan dan ketentuan teknis.
Technical meeting kemudian dilanjutkan dengan simulasi pertandingan. Seluruh rangkaian dibuat menyerupai kompetisi sebenarnya, mulai pembukaan, pertandingan, hingga penutupan.
Simulasi tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk menguji kesiapan sekaligus memperbaiki berbagai kekurangan sebelum pertandingan resmi dimulai.
Aula Sekolah Berubah Jadi Arena Kompetisi
Pertandingan utama digelar pada hari keempat mulai pukul 07.30 WIB. Kegiatan tersebut dipantau Kepala SMP Negeri 1 Bawang, Joko Catur Subianto, bersama Guru PJOK kelas IX, Faizun Azhar.
Kepala SMPN 1 Bawang Joko Catur Subianto mengapresiasi model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjalankan peran secara utuh.
Menurutnya, pengalaman tersebut penting karena siswa tidak hanya belajar menjadi peserta pertandingan, tetapi juga memahami berbagai pekerjaan yang diperlukan agar sebuah kompetisi dapat berjalan.
“Di dunia pendidikan, hal seperti ini dibutuhkan. Dulu ketika zaman RSBI namanya Penghayatan Hidup, jadi bermain peran betul-betul bermain peran dengan totalitas. Saya mendukung baik kegiatan seperti ini,” ujar Joko.
Penerapan SEM terlihat sejak pertandingan pembuka. Saat Bawor GG menghadapi Puntuk Gank, perangkat pertandingan berasal dari kalangan siswa.
Mereka menjalankan tugas sebagai wasit dan petugas pertandingan, sementara siswa lainnya memberikan dukungan dari sisi lapangan. Puntuk Gank akhirnya mengamankan kemenangan atas Bawor GG.
Pada pertandingan lainnya, Minions berhadapan dengan Doa Ibu. Minions mampu memenangkan laga melalui permainan dengan variasi smash dan permainan net.
Duo Fighters dan Minions Keluar sebagai Juara
Memasuki hari kelima, persaingan semakin ketat. Di sektor putri, Duo Fighters memastikan tiket final setelah mengalahkan Dynamo Smash.
Pertandingan lainnya mempertemukan Shuttle Belles dan Venus Court. Sempat tertinggal pada set pertama, Shuttle Belles mampu bangkit dan mengamankan tempat di partai puncak.
Dynamo Smash kemudian meraih posisi ketiga sektor putri setelah mengalahkan Venus Court. Sementara di sektor putra, Bawor GG menempati posisi ketiga setelah menghadapi Doa Ibu.
Partai final menjadi penutup rangkaian Champion of Class Gracias. Tim Minions keluar sebagai juara sektor putra setelah mengalahkan Puntuk Gank. Sementara Duo Fighters menjadi juara sektor putri setelah menundukkan Shuttle Belles.
Belajar Menjadi Bagian dari Sebuah Tim
Meski kompetisi menghasilkan pemenang, inti pembelajaran Champion of Class Gracias tidak berhenti pada perolehan gelar juara.
Melalui Sport Education Model, siswa mendapatkan pengalaman mengelola kompetisi dari berbagai sisi. Mereka belajar mengambil keputusan, bekerja sama, berkomunikasi, mematuhi aturan dan menjalankan tanggung jawab sesuai peran.
Pembelajaran tersebut juga memperlihatkan bahwa olahraga di sekolah dapat menjadi sarana membangun karakter secara langsung.
Siswa yang tidak bertanding tetap memiliki kontribusi melalui tugas sebagai wasit, pelatih, panitia, tim medis, reporter maupun dokumentasi.
Champion of Class Gracias pun meninggalkan pengalaman yang lebih luas dari sekadar pertandingan bulu tangkis. Bagi siswa kelas IX-G, kompetisi tersebut menjadi pembelajaran bahwa sebuah kegiatan tidak akan berjalan hanya karena ada pemain yang bertanding, tetapi juga membutuhkan kerja sama dan tanggung jawab seluruh pihak di dalamnya.
