KABARBANYUMASRAYA.COM – Lahan bekas endapan Sungai Serayu yang semula kurang produktif kini disulap menjadi kebun pertanian yang menghasilkan uang. Berbekal kreativitas dan pemanfaatan sumber air di sekitar sungai, warga Dusun Purwasari, Desa Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mengembangkan lahan seluas 3.600 meter persegi menjadi kawasan pertanian terpadu.
Di tengah musim kemarau, lahan tersebut tetap produktif dengan beragam komoditas, mulai dari cabai, mentimun, singkong, hingga kangkung. Tak hanya bercocok tanam, warga juga memanfaatkan sebagian area untuk budidaya ikan dan menanam rumput gajah sebagai pakan ternak.
Arif Hermawan bersama warga setempat menjadi penggerak pemanfaatan lahan di tepi Sungai Serayu tersebut. Lokasinya yang berjarak sekitar 20 meter dari aliran sungai menjadi keuntungan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
Upaya ini menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat memiliki nilai ekonomi jika dikelola secara tepat. Bahkan, di tengah tantangan kemarau, kebun tersebut mulai memberikan hasil dari sejumlah komoditas pertanian.
260 Pohon Cabai Mulai Panen, Harga Tembus Rp65 Ribu per Kilogram
Salah satu komoditas yang diandalkan warga adalah cabai. Sebanyak 260 pohon cabai telah ditanam dan mulai menghasilkan panen.
Hingga saat ini, tanaman tersebut sudah dipetik sebanyak tiga kali dengan total hasil sekitar 21 kilogram. Warga menargetkan produksi cabai mencapai 200 kilogram dalam satu bulan ke depan.
Harga cabai di tingkat tengkulak saat ini berada di kisaran Rp65.000 per kilogram. Jika target produksi tercapai dan harga tetap bertahan, hasil penjualan cabai berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi warga.
Dengan harga tersebut, produksi 200 kilogram cabai setara dengan nilai penjualan sekitar Rp13 juta. Namun, angka itu merupakan potensi omzet kotor, bukan keuntungan bersih, karena belum dikurangi biaya produksi dan pengeluaran lainnya.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan warga terus merawat tanaman cabai agar dapat menghasilkan panen secara optimal.
Mentimun Sudah 17 Kali Dipetik, Rata-Rata Panen 20 Kilogram
Selain cabai, mentimun menjadi komoditas lain yang memberikan hasil bagi warga. Sebanyak 280 pohon mentimun telah dipanen hingga 17 kali petik.
Dalam setiap panen, hasilnya rata-rata mencapai sekitar 20 kilogram. Dengan harga jual sekitar Rp4.000 per kilogram, hasil tersebut turut menambah pemasukan dari kebun di tepi Sungai Serayu.
“Hasil panen mentimun kemarin dijual dengan harga sekitar Rp4.000 per kilogram,” katanya.
Hasil panen yang berlangsung berulang kali menunjukkan potensi mentimun sebagai salah satu sumber pendapatan dari lahan tersebut. Meski nilai jualnya berbeda dari cabai, komoditas ini membantu warga memperoleh hasil pertanian secara berkala.
Keberagaman tanaman juga menjadi strategi untuk memanfaatkan lahan secara lebih optimal. Warga tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas, tetapi mengembangkan beberapa tanaman dengan karakteristik dan potensi hasil yang berbeda.
Bukan Cuma Kebun, Ada Kolam Ikan hingga Pakan Ternak
Pengelolaan lahan bekas endapan Sungai Serayu ini tidak terbatas pada tanaman hortikultura. Warga juga menanam singkong dan kangkung untuk menambah pilihan hasil pertanian.
Di area yang sama, terdapat kolam kecil untuk budidaya ikan. Sementara itu, rumput gajah ditanam di sepanjang pagar lahan agar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, terutama kambing dan sapi.
“Karena kemarau, kami memanfaatkan lahan ini sebagai sumber pangan untuk mendapatkan penghasilan dalam satu kawasan,” katanya.
Konsep tersebut membuat satu kawasan lahan memiliki beberapa fungsi sekaligus. Tanaman hortikultura menjadi sumber hasil pertanian, singkong dan kangkung menambah pilihan komoditas, sedangkan kolam ikan serta rumput gajah mendukung kegiatan budidaya dan peternakan.
Pemanfaatan berbagai potensi dalam satu kawasan juga membuka peluang bagi warga untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.
Manfaatkan Potensi Sungai Serayu di Tengah Musim Kemarau
Bagi Arif Hermawan dan warga sekitar, lahan bekas endapan Sungai Serayu memiliki peluang ekonomi yang layak dikembangkan. Lahan yang sebelumnya kurang produktif kini dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai komoditas pertanian.
Ketersediaan sumber air di dekat lokasi yang merupakan endapan Sungai Serayu menjadi salah satu faktor pendukung kegiatan bercocok tanam. Meski demikian, pengelolaan air tetap perlu dilakukan secara bijak agar kebutuhan tanaman terpenuhi tanpa mengabaikan kondisi lingkungan sungai.
Inisiatif warga Klampok ini menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal untuk mendukung produktivitas masyarakat. Kreativitas dalam memilih komoditas dan mengoptimalkan lahan memungkinkan kegiatan pertanian tetap berjalan di tengah tantangan musim kemarau.
Ke depan, pengembangan kebun dari endapan Sungai Serayu tersebut berpotensi memberikan manfaat lebih luas apabila dilakukan secara berkelanjutan, dengan memperhatikan produktivitas lahan, biaya usaha, ketersediaan air, serta keamanan area di sekitar sungai.
Dari lahan bekas endapan yang semula kurang dimanfaatkan, warga Dusun Purwasari berupaya membangun sumber pangan sekaligus peluang penghasilan. Upaya sederhana ini memperlihatkan bahwa potensi ekonomi desa dapat tumbuh dari pemanfaatan lingkungan secara kreatif dan terencana.
