RATUSAN warga bersama pemerintah daerah bergotong royong memasang bronjong bambu tradisional atau dekem di aliran Sungai Merawu, sebagai satu upaya penanganan darurat di tengah krisis air irigasi untuk aliran pertanian.
Aksi kerja bakti massal pemasangan dekem sebagai upaya darurat dalam atasi krisis air irigasi, sekaligus untuk memulihkan fungsi irigasi yang telah terganggu selama hampir tiga tahun terakhir. Selain itu, pemasangan dekem juga bertujuan mengatasi abrasi tebing sungai serta menormalkan kembali aliran air.
Arus Sungai Berubah, Krisis Air Irigasi Terjadi, Ratusan Hektare Sawah Terdampak
Kepala UPT Wilayah 3 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Banjarnegara, Adi Purnomo, menjelaskan bahwa pemasangan sekitar 60 unit dekem dilakukan untuk mengarahkan kembali arus sungai ke jalur tengah. Sehingga ini menjadi bagian penanganan darurat dalam krisis air irigasi untuk menyelamatkan lahan pertanian.
Selama ini, pendangkalan dasar sungai serta perubahan arah aliran akibat aktivitas galian di bagian hilir membuat petani krisis air, sebab air tidak lagi masuk ke saluran irigasi Bendungan Clangap.
“Krisis air bagi petani ini sudah hampir tiga tahun terjadi, sehingga lahan petani kesulitan mendapatkan air. Posisi dasar sungai lebih rendah dari pintu irigasi, sehingga air tidak bisa mengalir masuk. Dengan dekem ini, arus diarahkan agar air bisa naik kembali,” katanya.
Dampak dari kondisi tersebut cukup besar. Sekitar 480 hektare lahan pertanian di lima desa terdampak, yakni Desa Jenggawur, Banjar Kulon, dan Banjarmangu di Kecamatan Banjarmangu, serta Desa Gumisir dan Linggasari di Kecamatan Wanadadi.
Akibatnya, petani mengalami gagal tanam hingga penurunan hasil panen secara signifikan.
Pemulihan Irigasi Jadi Kunci Ketahanan Pangan
Camat Banjarmangu, Gaba Tri Sumbarwanto, menegaskan pentingnya percepatan pemulihan irigasi, terutama dalam mendukung program ketahanan pangan.
“Jika tidak segera ditangani, potensi kerugian ekonomi akan semakin besar. Produksi pertanian dari wilayah ini tidak hanya untuk Banjarnegara, tetapi juga menyuplai daerah lain,” ujarnya.
Dari Kearifan Lokal ke Solusi Permanen
Saat ini, penanganan masih dilakukan secara swadaya dengan memanfaatkan kearifan lokal berupa dekem sebagai solusi sementara. Meski demikian, pemerintah daerah memastikan bahwa penanganan permanen sedang dalam proses melalui dukungan pemerintah pusat.
Usulan anggaran yang sebelumnya berkisar Rp8–9 miliar kini telah disetujui meningkat menjadi Rp46 miliar melalui APBN. Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan pengaman tebing serta normalisasi Sungai Merawu secara menyeluruh.
Alat Berat Disiagakan, Warga Berharap Pemulihan Cepat
Sambil menunggu proses lelang proyek, alat berat berupa ekskavator tetap disiagakan di lokasi untuk mengeruk material pasir dan batu yang kerap menyumbat saluran irigasi, terutama saat curah hujan tinggi.
Warga berharap kolaborasi antara upaya tradisional dan intervensi pemerintah ini mampu mempercepat pemulihan sistem irigasi. Dengan demikian, produktivitas pertanian di kawasan Sungai Merawu dapat kembali normal dan menopang perekonomian masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
