UPAYA menekan laju sedimentasi di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu terus diperkuat. Bertepatan dengan momentum Hari Bumi, PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica menanam 20 ribu bibit kopi di Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Kamis (23/4/2026).
Program ini menjadi bagian dari strategi konservasi berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hulu Sungai Serayu.
Komisaris Utama PT PLN Indonesia Power, Arif Budiman, mengatakan bahwa tanaman kopi dipilih karena memberikan manfaat ganda, baik dari sisi ekologis maupun ekonomi.
“Konservasi ini tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Tekan Sedimentasi, Jaga Waduk Mrica
Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Mrica, Nazrul Very Andhi, menjelaskan bahwa kawasan hulu DAS Serayu memiliki peran penting terhadap kondisi Waduk Mrica.
Menurutnya, karakter tanah di wilayah hulu yang subur berpotensi memicu erosi saat musim hujan, yang berujung pada meningkatnya sedimentasi di waduk.
“Tanaman kopi memiliki akar yang kuat sehingga mampu menahan erosi tanah. Selain itu, tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat,” jelasnya.
Program konservasi berbasis kopi ini telah dijalankan sejak 2012 dan terus berkembang. Hingga 2024, sebanyak 76 ribu pohon kopi telah ditanam di kawasan hulu, tersebar di sejumlah kecamatan.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan. Dalam periode 2024–2025, program ini tercatat mampu menekan sedimentasi hingga sekitar 100 ribu meter kubik per tahun.
Saat ini, total sedimentasi di Waduk Mrica diperkirakan mencapai 133 juta meter kubik, sehingga langkah konservasi di wilayah hulu menjadi sangat krusial.
Libatkan Petani, Dorong Ekonomi Lokal
Penanaman 20 ribu bibit kopi terbaru difokuskan di tiga dusun, yakni Pegundungan, Srandil, dan Simpar, dengan cakupan lahan sekitar 22 hektare. Kegiatan ini melibatkan tiga kelompok tani dengan total 148 penerima manfaat.
Selain menjaga lingkungan, program ini juga memberikan dampak ekonomi nyata. Dari total lahan kopi seluas 72,5 hektare yang dikelola dengan sistem tumpangsari, potensi pendapatan petani diperkirakan mencapai Rp250 juta per tahun.
Untuk memastikan keberlanjutan program, perusahaan juga memberikan pendampingan kepada masyarakat, mulai dari pengelolaan pupuk organik, pelatihan teknik budidaya, hingga dukungan pemasaran melalui ruang promosi “Mrica Corner”.
Tak hanya itu, PLN Indonesia Power juga mengembangkan inovasi pemanfaatan sedimen waduk menjadi pupuk organik dengan mengombinasikannya bersama enceng gondok dan kotoran ternak.
Perluasan Program Hingga Sungai Mrawu
Ke depan, program konservasi ini akan diperluas ke wilayah Sungai Mrawu, yang merupakan bagian dari DAS Serayu dan menyumbang sekitar 70 persen sedimentasi ke Waduk Mrica.
Dari sisi lingkungan, program ini juga memberikan dampak signifikan, di antaranya mampu menekan potensi erosi hingga 13.616,2 meter kubik per tahun serta menyerap karbon sekitar 1.805 ton CO2e per tahun.
Kepala Desa Pegundungan, Murti, menyambut baik kolaborasi yang telah terjalin dengan PLN Indonesia Power. Menurutnya, program penanaman kopi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ini kolaborasi yang sangat baik. Kopi menjadi pilihan tepat karena selain mendukung konservasi, juga memiliki nilai ekonomi tinggi bagi warga,” ujarnya.
Melalui pendekatan terpadu antara konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan DAS yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah hulu.
*Ikuti media sosial kami.
