KABARBANYUMASRAYA.COM – Sebanyak 30 pelajar SMP di Kabupaten Banjarnegara diajak menjelajahi Geopark Nasional Dieng melalui kegiatan field trip edukatif, Minggu (25/10/2026). Program ini mengajak generasi muda mengenal kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya Dieng sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestariannya.
Kegiatan yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banjarnegara tersebut tidak sekadar menjadi wisata edukasi. Para siswa memperoleh kesempatan belajar langsung di sejumlah situs unggulan, mulai dari kawasan kawah vulkanik hingga kompleks candi bersejarah.
Melalui pengalaman di lapangan, peserta diharapkan lebih memahami nilai penting Geopark Nasional Dieng sebagai kawasan yang menyimpan kekayaan alam dan budaya sekaligus memiliki potensi pendidikan dan penelitian.
Susuri Kawah hingga Candi Bersejarah
Dalam perjalanan edukatif tersebut, para pelajar mengunjungi empat lokasi, yakni Kawah Sikidang, Kawah Candradimuka, Telaga Dringo, dan Kompleks Candi Arjuna.
Di setiap lokasi, siswa mendapat penjelasan dari pemandu geowisata mengenai proses terbentuknya bentang alam vulkanik Dieng, fenomena panas bumi atau geothermal, serta karakteristik ekosistem setempat.
Mereka juga diperkenalkan dengan potensi hayati khas Dieng, seperti carica, purwaceng, dan domba Batur. Pengenalan ini menjadi bagian dari pembelajaran mengenai hubungan antara kondisi alam, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat di kawasan dataran tinggi tersebut.
Agar pengetahuan yang diperoleh menjangkau lebih banyak orang, para peserta juga mendapat tugas membuat video di setiap lokasi kunjungan. Konten tersebut diharapkan dapat dibagikan melalui media sosial sekolah masing-masing sebagai sarana edukasi publik.
Bapperida Dorong Edukasi Geopark Sejak Dini
Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Banjarnegara, Resiati Widiastuti, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan Geopark Nasional Dieng, khususnya melalui pilar edukasi.
Menurut Resiati, pengembangan geopark bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ketiganya saling berkaitan dalam menjaga kelestarian kawasan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sebagai Badan Pengelola, kami berkewajiban melaksanakan pengembangan Geopark. Salah satu pilar yang kami dorong adalah edukasi melalui kunjungan ke situs-situs yang ada di kawasan ini,” katanya.
Ia menjelaskan, pelajar SMP menjadi sasaran kegiatan karena dinilai memiliki kemampuan literasi digital yang dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi. Dengan membuat konten kreatif, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi yang dipelajari, tetapi juga berperan mengenalkan potensi Dieng kepada masyarakat luas.
“Harapannya, siswa-siswi bisa ikut menyosialisasikan apa yang mereka dapatkan dari kegiatan ini. Salah satu cara yang efektif adalah melalui konten media sosial. Semoga ke depan semua sekolah bisa ikut dalam kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Geopark Dieng Memiliki 23 Situs Geologi
General Manager Geopark Nasional Dieng, Sri Utami, menjelaskan bahwa kawasan geopark ini meliputi wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Secara keseluruhan, terdapat 23 situs geologi atau geosite di kawasan tersebut. Sebanyak 13 situs berada di Banjarnegara, sedangkan 10 lainnya berada di Wonosobo.
Sebagian situs dikembangkan sebagai daya tarik wisata, sementara lokasi lainnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan edukasi. Keberagaman tersebut menjadikan Dieng memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata berbasis pengetahuan, penelitian, dan pelestarian lingkungan.
Sri Utami menuturkan, sejak ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada Maret 2025, pengelola terus memperluas pengenalan kawasan Dieng kepada masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui berbagai program, termasuk Geopark Goes to School dan kunjungan edukatif bagi pelajar.
“Fokus kami tahun ini adalah bagaimana Geopark ini semakin dikenal publik. Salah satunya melalui program Geopark Goes to School dan kegiatan field trip. Kami juga aktif dalam jejaring Geopark Indonesia dan masuk dalam kepengurusan Geopark National Team,” katanya.
Libatkan Generasi Muda untuk Menjaga Warisan Dieng
Menurut Sri Utami, pengenalan geopark kepada generasi muda menjadi langkah penting untuk memastikan kekayaan alam dan budaya Dieng tetap terjaga hingga masa mendatang.
Ia menegaskan, geopark tidak hanya memiliki nilai sebagai destinasi wisata, tetapi juga dapat mendukung penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
“Apa yang ada tidak hanya kita nikmati hari ini, tetapi bagaimana warisan ini bisa dinikmati sampai anak cucu kita. Melalui konservasi dan edukasi, kawasan ini dapat dimanfaatkan untuk penelitian geologi maupun bidang keilmuan lainnya, sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Pesan pelestarian tersebut mendapat sambutan positif dari peserta. Brilliant Fatimatuzzahra, salah satu siswa SMP Negeri 1 Karangkobar, mengaku senang bisa mengikuti pembelajaran langsung di kawasan Geopark Nasional Dieng.
Menurutnya, belajar di lapangan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran di kelas. Para siswa dapat melihat objek secara langsung sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan.
“Belajar langsung di lapangan terasa jauh lebih seru dan menyenangkan. Kami jadi tahu bagaimana kawah terbentuk dan mengapa lingkungan Dieng harus terus kita jaga bersama,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Bapperida Banjarnegara berharap semakin banyak pelajar mengenal Geopark Nasional Dieng dan memahami pentingnya pelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya lokal.
Keterlibatan generasi muda diharapkan tidak berhenti pada kegiatan kunjungan, tetapi berkembang menjadi kepedulian nyata dalam menjaga lingkungan dan memperkenalkan potensi Dieng kepada masyarakat luas.
