KABARBANYUMASRAYA.COM – Memboikot Al-Qur’an tidak selalu berarti menolak keberadaannya. Tidak mau mempelajari, enggan memahami maknanya, hingga tidak mengamalkan ajarannya juga disebut sebagai bentuk berpaling dari kitab suci. Karena itu, umat Islam perlu memahami berbagai bentuk pemboikotan Al-Qur’an agar dapat memperbaiki hubungan dengan firman Allah SWT.
- 7 Bentuk Memboikot Al-Qur’an yang Perlu Dipahami
- Tidak Mengimani Al-Qur’an
- Enggan Mempelajari Al-Qur’an
- Tidak Membaca Al-Qur’an
- Membaca Al-Qur’an Tanpa Berusaha Memahami Maknanya
- Tidak Mengamalkan Ajaran Al-Qur’an
- Berpaling dari Al-Qur’an dan Lebih Memilih Hal yang Melalaikan
- Tidak Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Memperbaiki Diri
- Tidak Bisa Membaca Al-Qur’an, Apakah Termasuk Memboikot?
- Bagaimana Cara Menghindari Pemboikotan Al-Qur’an?
Al-Qur’an merupakan kitab suci sekaligus pedoman hidup bagi umat Islam. Di dalamnya terdapat petunjuk tentang keimanan, ibadah, akhlak, serta tuntunan menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Allah SWT.
Namun, interaksi seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengakui kesuciannya. Membaca, mempelajari, merenungkan, dan mengamalkan kandungannya juga menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan dengan kitab suci.
Dalam Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW menyampaikan pengaduan kepada Allah SWT mengenai sikap kaumnya yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan atau diabaikan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 30:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Artinya: “Rasul (Nabi Muhammad) berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’”
Ayat tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga hubungan dengan Al-Qur’an. Mengabaikan kitab suci dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari tidak mengimaninya hingga meninggalkan upaya memahami dan mengamalkan ajarannya.
7 Bentuk Memboikot Al-Qur’an yang Perlu Dipahami
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir menjelaskan sejumlah bentuk hajrul Qur’an, yakni sikap meninggalkan atau mengabaikan Al-Qur’an.
Penjelasan tersebut mencakup beragam makna yang terkait dengan sikap memboikot atau tidak mempelajari Al-Qur’an, tidak mengimaninya, tidak merenungkan maknanya, tidak mengamalkan ajarannya, serta berpaling darinya kepada hal-hal lain.
Berikut tujuh bentuk yang dapat menjadi bahan introspeksi bagi umat Islam.
-
Tidak Mengimani Al-Qur’an
Bentuk pemboikotan yang paling mendasar adalah menolak keimanan terhadap Al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT.
Dalam penjelasan para ulama, sikap menolak dan mengingkari Al-Qur’an memiliki konsekuensi akidah yang sangat serius. Bentuk ini berbeda dari seseorang yang beriman, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam mempelajari atau mengamalkan ajarannya.
Karena itu, persoalan keimanan harus dipahami secara hati-hati dan tidak boleh digunakan untuk sembarangan menghakimi orang lain.
-
Enggan Mempelajari Al-Qur’an
Mengimani Al-Qur’an idealnya diikuti dengan kemauan untuk mempelajarinya.
Belajar Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca huruf Arab, tetapi juga mencakup pemahaman tajwid, makna ayat, tafsir, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Seseorang yang terus-menerus mengabaikan kesempatan belajar meskipun memiliki kemampuan dan kesempatan patut menjadikan hal tersebut sebagai bahan evaluasi diri.
Sebaliknya, orang yang masih kesulitan membaca Al-Qur’an, tetapi terus berusaha belajar, tidak dapat disamakan begitu saja dengan orang yang sengaja berpaling darinya.
-
Tidak Membaca Al-Qur’an
Bentuk berikutnya adalah meninggalkan kebiasaan membaca Al-Qur’an.
Kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai aktivitas sehari-hari terkadang membuat seseorang sulit meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan kitab suci. Jika tidak dikelola, kebiasaan membaca Al-Qur’an dapat semakin terabaikan.
Membaca Al-Qur’an secara rutin, meskipun dimulai dari beberapa ayat setiap hari, dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.
Bagi yang belum lancar, belajar secara bertahap dengan bimbingan guru mengaji merupakan pilihan yang patut diutamakan.
-
Membaca Al-Qur’an Tanpa Berusaha Memahami Maknanya
Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah. Namun, umat Islam juga dianjurkan untuk merenungkan dan memahami kandungan ayat-ayatnya.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, tidak merenungkan dan tidak berusaha memahami Al-Qur’an disebut sebagai salah satu bentuk meninggalkan kitab suci.
Karena itu, membaca Al-Qur’an sebaiknya disertai upaya memahami maknanya melalui terjemahan dan tafsir yang tepercaya.
Dengan memahami kandungan ayat, seseorang dapat mengambil pelajaran tentang kesabaran, kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab.
-
Tidak Mengamalkan Ajaran Al-Qur’an
Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Salah satu bentuk pengabaian yang dijelaskan para ulama adalah tidak berusaha menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang terkandung di dalamnya.
Sebagai contoh, seseorang memahami pentingnya kejujuran, tetapi tetap membiasakan diri berbohong. Ada pula yang mengetahui larangan berbuat zalim, tetapi tidak berusaha memperbaiki perilakunya terhadap orang lain.
Meski demikian, manusia bisa melakukan kesalahan dan mengalami kelemahan dalam menjalankan ajaran agama. Karena itu, hal terpenting adalah terus berusaha memperbaiki diri, bertobat ketika melakukan kesalahan, dan meningkatkan pengamalan ajaran Al-Qur’an.
-
Berpaling dari Al-Qur’an dan Lebih Memilih Hal yang Melalaikan
Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa berpaling dari Al-Qur’an dengan lebih mengutamakan berbagai hal yang melalaikan dapat termasuk bentuk pemboikotan.
Dalam kehidupan modern, seseorang bisa menghabiskan banyak waktu untuk hiburan, media sosial, atau aktivitas lain hingga tidak menyisakan waktu untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
Namun, bukan berarti seluruh hiburan, musik, atau aktivitas di luar ibadah otomatis termasuk pemboikotan Al-Qur’an. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika aktivitas tersebut membuat seseorang sengaja mengabaikan kewajiban agama dan terus-menerus berpaling dari kitab sucinya.
Menjaga keseimbangan antara pekerjaan, istirahat, hiburan, dan ibadah dapat membantu seseorang tetap memiliki waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
-
Tidak Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Memperbaiki Diri
Bentuk lainnya adalah tidak menjadikan petunjuk Al-Qur’an sebagai bahan evaluasi dalam kehidupan.
Seseorang mungkin telah membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha menghubungkan ajarannya dengan sikap, keputusan, dan perilaku sehari-hari.
Padahal, Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai yang dapat menjadi landasan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus hubungan dengan sesama manusia.
Memahami ajaran tentang kesabaran, misalnya, seharusnya mendorong seseorang belajar mengendalikan amarah. Memahami perintah berlaku adil seharusnya membuat seseorang berusaha memperlakukan orang lain secara proporsional.
Mengamalkan Al-Qur’an bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan terus berupaya menjadikan petunjuk Allah SWT sebagai arah dalam memperbaiki diri.
Tidak Bisa Membaca Al-Qur’an, Apakah Termasuk Memboikot?
Pertanyaan ini penting dipahami agar umat Islam tidak mudah menyalahkan orang lain yang masih kesulitan membaca Al-Qur’an.
Orang yang belum mampu membaca Al-Qur’an karena keterbatasan kemampuan, tetapi memiliki kemauan untuk belajar, tidak dapat langsung disamakan dengan orang yang sengaja mengabaikan kitab suci.
Setiap orang memiliki kemampuan, kesempatan, dan proses belajar yang berbeda. Seseorang yang baru mengenal huruf hijaiyah, misalnya, tentu membutuhkan waktu untuk bisa membaca dengan lancar.
Dalam kondisi tersebut, upaya belajar menjadi hal yang penting. Tidak perlu merasa malu untuk memulai dari dasar, meskipun usia sudah dewasa atau memiliki pendidikan tinggi.
Sebaliknya, apabila seseorang sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan, tetapi terus-menerus enggan belajar karena tidak peduli terhadap Al-Qur’an, sikap tersebut patut menjadi bahan introspeksi.
Kemampuan membaca dengan fasih dalam bidang lain, termasuk bernyanyi atau berbicara di depan umum, tidak otomatis membuat seseorang mampu membaca Al-Qur’an dengan benar. Membaca Al-Qur’an membutuhkan pembelajaran tersendiri, terutama dalam penguasaan huruf hijaiyah dan kaidah tajwid.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata lancar atau tidak lancar membaca, melainkan bagaimana seseorang menyikapi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki hubungannya dengan Al-Qur’an.
Bagaimana Cara Menghindari Pemboikotan Al-Qur’an?
Memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an dapat dimulai dari langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten.
Pertama, luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan. Kedua, pelajari makna ayat melalui terjemahan dan tafsir yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, ikuti pembelajaran Al-Qur’an jika masih mengalami kesulitan membaca. Keempat, berusaha menerapkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, penting untuk membangun kebiasaan mengevaluasi diri. Apakah waktu sehari-hari telah digunakan dengan baik? Apakah perilaku kita sudah mencerminkan nilai kejujuran, keadilan, dan kasih sayang yang diajarkan Al-Qur’an?
Pertanyaan semacam itu dapat menjadi pengingat agar interaksi dengan kitab suci tidak berhenti pada rutinitas membaca, tetapi juga mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Pada akhirnya, peringatan tentang memboikot Al-Qur’an hendaknya menjadi sarana introspeksi, bukan alasan untuk merendahkan atau menghakimi orang lain.
Setiap Muslim perlu terus berusaha mendekatkan diri kepada Al-Qur’an sesuai kemampuan, memperbaiki kekurangan, dan menjadikan ajarannya sebagai pedoman hidup.
Sebab, hubungan dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengakui kesuciannya. Membaca, mempelajari, memahami, dan berusaha mengamalkan petunjuknya merupakan bagian penting dari upaya seorang Muslim untuk menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab.
