KABARBANYUMASRAYA.COM – Membaca tidak cukup hanya untuk menambah pengetahuan. Masyarakat juga didorong mampu mengolah informasi menjadi karya, inovasi, bahkan peluang ekonomi. Pesan tersebut mengemuka dalam Festival Literasi Purbalingga 2026 yang resmi dibuka di halaman Dinas Arsip dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga, Kamis (8/10/2026).
Mengusung tema “Kolaborasi untuk Literasi dan Literasi untuk Kesejahteraan Purbalingga”, festival literasi yang berlangsung 8–10 Oktober 2026 ini menjadi ruang untuk memperkuat budaya membaca sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Bupati Purbalingga Soroti Tantangan Literasi di Era Digital
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif mengatakan, perkembangan teknologi dan tingginya penggunaan gawai membawa tantangan baru bagi gerakan literasi.
Anak-anak semakin dekat dengan internet dan berbagai platform digital. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memahami, memilah, dan mengolah informasi secara kritis.
“Kita sedang menghadapi krisis minat baca buku. Oleh karena itu, kehadiran Bunda Literasi dan pegiat literasi sangat diuji untuk mengubah konsumsi digital yang pasif ini menjadi kemampuan literasi media yang kritis, sehat, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Fahmi.
Menurutnya, penguatan budaya literasi perlu dimulai sejak anak berada di lingkungan keluarga.
Pendidikan yang menyenangkan, pembentukan karakter, serta keteladanan orang dewasa dalam membaca menjadi bagian penting untuk membangun kebiasaan tersebut.
Karena itu, Bunda PAUD dan Bunda Literasi dinilai memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem literasi sejak usia dini hingga anak memasuki pendidikan formal.
Literasi Didorong Jadi Karya dan Nilai Tambah
Kepala Dinarpus Kabupaten Purbalingga Endi Astono mengatakan, literasi memiliki peran lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca.
Literasi dapat membuka akses masyarakat terhadap pengetahuan, membantu menghadapi perkembangan teknologi, sekaligus memperkuat modal sosial untuk mendukung kemajuan daerah.
“Purbalingga memerlukan masyarakat yang tidak hanya gemar membaca, tapi mengolah informasi menjadi karya, menjadi inovasi dan nilai tambah bagi kehidupan kita sehari-hari,” kata Endi.
Menurutnya, Festival Literasi Purbalingga menjadi wadah apresiasi sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas hingga masyarakat untuk membangun gerakan literasi secara bersama-sama.
Konsep tersebut juga diarahkan untuk mendorong transformasi perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat meminjam atau membaca buku, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar dan pengembangan potensi masyarakat.
Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai sumber diharapkan dapat dikembangkan menjadi keterampilan, kreativitas, produk, hingga kegiatan ekonomi yang memanfaatkan potensi dan kearifan lokal.
Bunda PAUD dan Bunda Literasi Kecamatan Dikukuhkan
Pembukaan Festival Literasi Purbalingga 2026 diawali dengan pengukuhan Pengurus Bunda PAUD Kecamatan se-Kabupaten Purbalingga oleh Bunda PAUD Kabupaten Purbalingga, Syahzani Fahmi Muhammad Hanif atau Bunda Hani.
Pada kesempatan yang sama, Bunda Literasi Kabupaten Purbalingga Denita Dimas Prasetyahani juga mengukuhkan Bunda Literasi tingkat kecamatan se-Kabupaten Purbalingga.
Pengukuhan tersebut diharapkan memperkuat gerakan literasi dan pendidikan anak hingga tingkat kecamatan dan desa.
Bunda PAUD dan Bunda Literasi memiliki peran dalam membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Termasuk menumbuhkan kecintaan terhadap buku serta meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pendidikan dan pemenuhan gizi anak.
Festival Literasi Purbalingga Hadirkan Bazar hingga Pameran UMKM
Festival Literasi Purbalingga 2026 dikemas dengan berbagai kegiatan yang dapat diikuti masyarakat.
Agenda tersebut antara lain bazar buku, pameran UMKM, talkshow literasi, dialog interaktif, lokakarya, bedah buku, literasi budaya, serta panggung kreativitas seni pelajar.
Sejumlah stan informasi dan edukasi juga turut hadir. Di antaranya dari Polres Purbalingga, Lanud J.B. Soedirman, Badan Narkotika Nasional (BNN), perpustakaan desa, sekolah, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi.
Sementara itu, sebanyak 10 stan pameran UMKM memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat.
Kehadiran UMKM dalam festival tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat dikaitkan dengan pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Wayang Kulit Jadi Puncak Festival Literasi
Rangkaian Festival Literasi Purbalingga 2026 dijadwalkan ditutup dengan pementasan wayang kulit Madya Ratri.
Pertunjukan tersebut akan menampilkan dalang cilik Afan Giatsya Nurfalah.
Pementasan seni tradisional tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan literasi dengan budaya lokal dan kehidupan masyarakat.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Festival Literasi Purbalingga 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Gerakan literasi diharapkan terus berkembang di sekolah, keluarga, komunitas, perpustakaan, hingga desa. Dengan begitu, kebiasaan membaca dapat berlanjut menjadi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, karya, dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, literasi diharapkan tidak hanya membuat masyarakat lebih berpengetahuan, tetapi juga lebih produktif dan mampu menciptakan nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan Purbalingga.
