KABARBANYUMASRAYA.COM – Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah Kabupaten Banjarnegara meski hujan mulai turun di beberapa daerah. Hingga kini, hampir 11 juta liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat yang terdampak.
Penanganan kekeringan mencakup 60 desa yang tersebar di 15 kecamatan, dengan lebih dari 200 titik terdampak.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Banjarnegara memperkuat kesiapsiagaan bencana. Salah satunya melalui Gladi Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Lapangan Tembak Letda Makhlani, Desa Kebutuhjurang, Kecamatan Pagedongan, Senin (5/10/2026).
Gladi tersebut menjadi sarana untuk menguji kesiapan pemerintah daerah, BPBD, relawan, dan berbagai unsur terkait dalam menghadapi dampak kekeringan.
Hampir 11 Juta Liter Air Bersih Disalurkan
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara Aji Piluroso mengatakan, distribusi air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang masih terdampak kekeringan.
“Total semua sampai saat ini se-Banjarnegara sudah hampir 11 juta liter air yang sudah disalurkan kepada masyarakat yang terdampak,” kata Aji.
Menurutnya, Kecamatan Pagedongan menjadi salah satu wilayah yang mendapat penanganan intensif.
Kekeringan yang berlangsung selama berbulan-bulan membuat distribusi air bersih harus dilakukan secara berkala. Selama sekitar empat hingga enam bulan terakhir, BPBD telah mengirimkan sekitar 1.000 tangki air bersih ke wilayah Pagedongan.
Bantuan tersebut diberikan kepada warga yang mulai kesulitan mendapatkan air akibat terbatasnya sumber air selama musim kemarau.
BPBD Kembali Droping Air ke 10 Desa
Pada pelaksanaan Gladi Kesiapsiagaan Bencana 2026, BPBD kembali mengerahkan armada untuk mendistribusikan air bersih ke 10 desa di Kecamatan Pagedongan.
Salah satu wilayah yang mendapat bantuan adalah Desa Kebutuhjurang. Selain itu, distribusi juga dilakukan ke Desa Kebutuhduwur dan sejumlah desa lain di sekitarnya.
“Hari ini kita dropping air bersih di 10 desa, antara lain di Kebutuhjurang, Kebutuhduwur dan beberapa desa sekitarnya di wilayah Kecamatan Pagedongan yang terdampak dan kesulitan air bersih saat musim kekeringan ini,” ujar Aji.
Distribusi air menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama sumber air belum kembali normal.
Wabup: Mitigasi Tidak Boleh Menunggu Bencana
Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali menegaskan bahwa gladi kesiapsiagaan bukan sekadar kegiatan seremonial.
Menurutnya, kesiapan menghadapi bencana harus dibangun sebelum kondisi darurat terjadi. Penanganan kekeringan juga membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Yang penting ikhtiar fisiknya kita maksimalkan, mitigasinya kita perkuat. Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk para relawan, harus terus bergerak untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan,” kata Wakhid.
Kolaborasi antara pemerintah, relawan, masyarakat, dan unsur pemerintahan hingga tingkat bawah dinilai penting agar penanganan kekeringan dapat berjalan lebih cepat.
Hujan Mulai Turun, Kekeringan Belum Berakhir
Wakhid mengatakan, hujan memang mulai turun di sejumlah wilayah Banjarnegara. Namun, intensitasnya belum merata.
Karena itu, distribusi air bersih masih diperlukan, terutama di wilayah yang sumber airnya belum kembali normal.
Pemkab Banjarnegara juga tidak ingin lengah ketika memasuki perubahan musim. Hujan yang mulai turun justru membawa potensi bencana lain jika terjadi dengan intensitas tinggi.
“Ketika hujan mulai turun, kita juga harus tetap siap siaga. Jangan sampai hujan yang kita harapkan justru menimbulkan banjir atau longsor. Karena itu, mitigasi dan kesiapsiagaan harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pemkab Siapkan Antisipasi Bencana Berikutnya
Gladi Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Pagedongan menjadi bagian dari upaya memperkuat respons terhadap berbagai potensi bencana.
Kesiapan personel, koordinasi antarlembaga, pemetaan wilayah rawan, hingga kecepatan distribusi bantuan menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak bencana.
Di tengah kekeringan yang masih terjadi di puluhan desa, Pemkab Banjarnegara memastikan pemantauan kondisi lapangan dan penanganan warga terus dilakukan.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca. Kekeringan yang belum sepenuhnya berakhir harus ditangani bersamaan dengan kesiapan menghadapi potensi banjir dan longsor saat hujan kembali meningkat.
