SEMARANG – Melalui program Pesantren Obah, Pemprov Jateng mempertemukan pesantren mahasiswa dan perguruan tinggi untuk memperkuat pembinaan santri sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Program Program Pesantren Obah ini terus dilakukan dengan memperkuat kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi. Untuk pertama kalinya, Pemprov Jateng melalui Biro Kesra dan Penanggulangan Kemiskinan bersama Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jateng mempertemukan pengelola pesantren mahasiswa dengan perguruan tinggi dalam forum diskusi.
Kegiatan bertema “Sinergi Pesantren, Perguruan Tinggi, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk Generasi Berakhlak, Bermanfaat, dan Bermartabat” digelar di Pondok Pesantren Mahasiswa Kebangsaan, Tembalang, Semarang.
Diskusi dipandu dosen FISIP Universitas Diponegoro, Wahid Abdulrahman, dengan fokus membangun pola kerja sama antara pesantren, kampus, dan pemerintah.
Pesantren Obah Tak Hanya Fokus Infrastruktur
Kepala Biro Kesra dan Penanggulangan Kemiskinan Pemprov Jateng, Syamsudin Isnaeni, mengatakan Pesantren Obah merupakan salah satu program prioritas Jawa Tengah periode 2025–2030.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya diarahkan pada pembangunan sarana dan prasarana pesantren, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia santri dan pengasuh.
Sejumlah program yang masuk dalam Pesantren Obah antara lain bantuan sarana prasarana, beasiswa santri dan pengasuh, insentif guru agama, Santripreneur, Beasiswa Mahasantri, serta Santri Penggerak.
“Pesantren mahasiswa memiliki karakter yang khas, karena santri yang merupakan mahasiswa juga harus menyelesaikan tugas akademik di kampus. Dengan kondisi ini, pesantren perlu adaptif,” ujar Syamsudin.
Beasiswa Santri Penggerak Jadi Jembatan Pesantren dan Kampus
Ketua LFSP Jawa Tengah, Prof. Hasyim Muhammad, mengatakan program Beasiswa Santri Penggerak menjadi salah satu bentuk fasilitasi pemerintah bagi mahasiswa yang memilih mondok.
Selain memberikan kesempatan dan penghargaan kepada mahasiswa santri, program tersebut diharapkan memperkuat hubungan antara pesantren dan perguruan tinggi.
Fasilitasi kerja sama tersebut selanjutnya akan dikembangkan di tingkat kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Undip Dorong Rekognisi Mahasiswa yang Mondok
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Prof. Dr. rer. nat. Heru Susanto, menilai sinergi pesantren dan perguruan tinggi semakin penting di tengah berbagai tantangan kehidupan mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa yang menjalani pendidikan di pesantren memiliki nilai tambah yang dapat dipertimbangkan dalam sistem akademik.
“Mahasiswa yang mau mondok memiliki nilai lebih sehingga dapat diberikan penghargaan berupa rekognisi untuk sejumlah mata kuliah seperti agama Islam,” katanya.
Pesantren dan Kampus Perlu Bangun Forum Rutin
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Fadhilah Meteseh, KH. Iman Fadhilah, mengapresiasi forum yang mempertemukan pesantren dan perguruan tinggi tersebut.
Ia menilai sejumlah persoalan yang dihadapi mahasiswa di luar akademik, seperti pergaulan bebas, kekerasan, hingga persoalan ideologi, perlu dicegah melalui kolaborasi yang lebih kuat.
“Kedepan harus ada forum yang lebih intens antara pesantren dan perguruan tinggi yang diadakan secara rutin,” ujarnya.
Forum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun pola sinergi yang berkelanjutan, sehingga pesantren mahasiswa tidak hanya menjadi ruang pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu mendukung pembentukan karakter dan kualitas generasi muda Jawa Tengah.
*Ikuti media sosial kami.
