BANJARNEGARA – Semangat menjaga Pancasila di tengah derasnya arus modernisasi menjadi perhatian dalam kegiatan Penguatan Gerakan Relawan Kebijakan Pancasila kepada Masyarakat di Kabupaten Banjarnegara.
Anggota Komisi XIII DPR RI Rofik Hananto, bersama Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana mengajak masyarakat yang hadir untuk mengambil peran sebagai Duta Pancasila di lingkungan masing-masing.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Hotel Central Banjarnegara. Kegiatan diikuti perwakilan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, anggota DPRD, peserta dari partai politik, serta berbagai unsur masyarakat.
Selain menjadi ruang penguatan ideologi kebangsaan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menjaga nilai-nilai luhur bangsa agar tetap relevan dan hidup dalam kehidupan masyarakat.
Rofik Hananto: Gotong Royong dan Tepo Seliro Jangan Sampai Hilang
Dalam paparannya, Rofik Hananto menilai penguatan ideologi Pancasila perlu terus dilakukan agar nilai-nilai yang telah menjadi karakter bangsa tidak terkikis oleh perubahan zaman.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sosial dan budaya yang menjadi modal penting dalam menjaga persatuan. Nilai seperti gotong royong dan tepo seliro, kata dia, harus terus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat.
“Nilai-nilai yang sudah lahir menjadi watak bangsa ini, seperti tepo seliro dan gotong royong, jangan sampai pudar oleh perkembangan zaman. Pancasila adalah kristalisasi hasil perjuangan para pahlawan dan konsensus para founding fathers kita,” ujar Rofik.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman suku, bahasa, budaya, dan latar belakang masyarakat.
Keberagaman tersebut, menurutnya, justru harus menjadi kekuatan untuk memperkokoh persatuan. Lima sila Pancasila menjadi landasan bersama dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
Bupati Banjarnegara: Pancasila Tidak Hanya Dihafal, Tetapi Diamalkan
Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menekankan bahwa pemahaman terhadap Pancasila tidak cukup berhenti pada teori maupun kegiatan seremonial.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus diterjemahkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga ruang publik.
“Saya berharap masyarakat yang mengikuti kegiatan penguatan ideologi ini bisa menjadi Duta Pancasila di wilayahnya, serta memberikan semangat kepada masyarakat lain untuk menerapkan Pancasila dalam keseharian,” kata Amalia.
Ia berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan yang mampu memberikan contoh sekaligus mengajak masyarakat di lingkungannya menghidupkan kembali semangat kebangsaan.
Dengan cara tersebut, penguatan ideologi ini tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan, tetapi dapat menyebar melalui berbagai komunitas dan lingkungan masyarakat.
Amalia Ajak Warga Sampaikan Kritik dengan Santun
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Amalia juga membagikan pengalamannya setelah mengikuti kegiatan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Ia mengajak masyarakat untuk tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah, tetapi menyampaikan aspirasi, kritik, maupun saran dengan cara yang santun dan konstruktif.
Menurutnya, perkembangan media sosial harus diimbangi dengan kedewasaan dalam berkomunikasi. Perbedaan pandangan tidak semestinya berubah menjadi saling mencaci atau menyebarkan ujaran yang dapat memecah persatuan.
Masyarakat, kata Amalia, tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah. Namun, kritik akan lebih bermanfaat apabila disampaikan berdasarkan data, solusi, dan semangat membangun daerah.
Gotong Royong Jadi Modal Membangun Banjarnegara
Amalia menilai semangat gotong royong dan komunikasi yang sehat merupakan modal penting dalam proses pembangunan Banjarnegara. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kemajuan daerah membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk dalam memberikan masukan sekaligus menjaga kondusivitas lingkungan.
Karena itu, nilai-nilai Pancasila diharapkan menjadi pedoman dalam membangun hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Ketika semangat gotong royong dan komunikasi berjalan baik, berbagai persoalan daerah dapat dihadapi secara bersama-sama dan diselesaikan secara bertahap.
Penguatan Pancasila Dimeriahkan Seni Budaya Lokal
Kegiatan penguatan ideologi Pancasila tersebut juga dikemas dengan pendekatan kebudayaan. Pementasan seni budaya lokal turut memeriahkan acara dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga kekayaan budaya daerah.
Kehadiran seni budaya dalam kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan tidak terlepas dari identitas dan kearifan lokal.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Banjarnegara diharapkan tidak hanya semakin memahami Pancasila sebagai dasar negara, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap, bermasyarakat, menggunakan media sosial, serta ikut membangun daerah.
Ajakan menjadi Duta Pancasila pun diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga persatuan, menghidupkan gotong royong, menghargai perbedaan, dan membangun komunikasi yang santun di tengah masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
