PURBALINGGA, KABARBANYUMASRAYA – Gebyar Merdeka UMKM 2026 yang digelar di Pendapa Dipokusumo diikuti sekitar 500 pelaku usaha. Pemkab Purbalingga menyerahkan hibah Rp1,531 miliar kepada 103 pelaku usaha sekaligus mendorong batik lokal menjadi ikon daerah.
Dalam kesempatan Gebyar Merdeka UMKM 2026 tersebut, Bupati Fahmi mendorong batik Purbalingga tidak tidak hanya sekadar menjadi pakaian khas daerah, tetapi berkembang menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.
Menurut Fahmi, batik Purbalingga memiliki modal kuat untuk berkembang karena tidak hanya menawarkan nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan sejarah dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, nilai tradisional tersebut perlu dipertahankan sekaligus dikemas lebih kreatif agar sesuai dengan selera dan kebutuhan pasar masa kini.
“Kita harus bisa membuat produk yang fit to market, yakni produk yang dibutuhkan masyarakat. Produk harus dikenalkan dan di-branding sehingga relevan dengan kebutuhan, menjadi tren, dan disukai masyarakat,” kata Fahmi.
Belajar dari Kesuksesan Batik Trusmi Cirebon
Gebyar Merdeka UMKM 2026 menghadirkan sesi success story bersama owner Batik Trusmi Cirebon, Sally Giovanny. Pengalaman Sally dalam membangun Batik Trusmi hingga berkembang menjadi merek sekaligus ikon daerah dinilai relevan untuk menjadi inspirasi bagi pelaku usaha batik di Purbalingga.
Fahmi menilai terdapat sejumlah pelajaran yang dapat diadopsi para perajin lokal, mulai dari membangun identitas merek, mengemas cerita produk, hingga memahami perubahan kebutuhan konsumen.
Bagi Fahmi, kekuatan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas barang. Cara memperkenalkan dan membangun persepsi terhadap produk juga menjadi faktor penting agar mampu memenangkan persaingan pasar.
“Batik ini harus menjadi ikon dan trendsetter. Ketika memakai batik, harus menjadi kebanggaan,” ujarnya.
Pemkab Siapkan Lakukan Pendampingan untuk Perajin Batik
Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyatakan siap memperkuat ekosistem batik lokal melalui pendampingan dan kolaborasi bersama para perajin. Pendampingan tersebut diarahkan pada peningkatan kualitas produk, kurasi, penguatan merek, hingga pengemasan cerita di balik setiap produk batik.
Fahmi berharap batik Purbalingga tidak berhenti pada penggunaan di lingkungan instansi pemerintah dan aparatur sipil negara (ASN). Lebih jauh, batik lokal diharapkan mampu menjadi komoditas unggulan yang memiliki pasar lebih luas.
“Kami Pemkab siap mendampingi dan berkolaborasi dengan para pengrajin dengan berbagai potensi yang dimiliki, yang bisa ditingkatkan dan dikurasi sehingga menjadi komoditas unggulan Purbalingga,” kata Fahmi.
Menurutnya, ketika produk lokal memiliki kualitas, identitas, cerita, serta strategi pemasaran yang kuat, peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas akan semakin terbuka.
Gebyar Merdeka UMKM Diikuti 500 Peserta
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) Purbalingga Agung Widiarto mengatakan Gebyar Merdeka UMKM 2026 dirancang sebagai ruang untuk mempercepat pengembangan sekaligus memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Kegiatan Gebyar Merdeka UMKM 2026 ini diikuti sekitar 500 peserta yang berasal dari pelaku UMKM, dunia usaha, perusahaan, hingga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Ini menjadi momentum untuk akselerasi dan kolaborasi pengembangan UMKM Purbalingga,” ujar Agung.
Ia mengatakan penguatan UMKM membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mendorong pelaku usaha meningkatkan kualitas produk dan memperluas akses pasar.
“Pengembangan UMKM tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan akselerasi dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dunia usaha, dan berbagai pihak,” jelasnya.
Pemkab Purbalingga Salurkan Hibah Rp1,531 Miliar
Dalam rangkaian Gebyar Merdeka UMKM 2026, Pemkab Purbalingga juga memberikan sejumlah dukungan konkret kepada pelaku usaha.
Sebanyak 103 pelaku usaha menerima hibah dengan total nilai Rp1,531 miliar. Selain bantuan tersebut, pemerintah juga menyerahkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) serta sertifikat halal kepada pelaku usaha.
Pemberian dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan semata, tetapi menjadi modal bagi pelaku UMKM untuk memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan kualitas, membangun merek, serta menjangkau konsumen yang lebih luas.
Batik Purbalingga Ditargetkan Jadi Ikon Produk Lokal
Semangat menjadikan batik sebagai ikon daerah menjadi salah satu pesan utama dalam Gebyar Merdeka UMKM 2026.
Dengan kekayaan motif, nilai sejarah, serta keterampilan para perajin, batik Purbalingga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk fesyen yang tidak hanya dikenakan pada acara formal, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tradisi tersebut diterjemahkan menjadi produk yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas Purbalingga.
Jika kualitas, desain, branding, perlindungan kekayaan intelektual, dan pemasaran dapat berjalan beriringan, batik Purbalingga diharapkan mampu naik kelas dari produk lokal menjadi komoditas unggulan yang memiliki daya saing lebih luas.
*Ikuti media sosial kami.
