PURBALINGGA, KABARBANYUMASRAYA – Tak perlu pergi jauh untuk menikmati wisata alam dengan air jernih dan suasana sejuk. Situ Tirta Marta Purbalingga menawarkan pengalaman berenang di mata air alami sekaligus menikmati keindahan bawah air dengan tiket masuk mulai Rp5.000.
Destinasi wisata yang berada di Dusun I, Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, ini menjadi salah satu pilihan wisata alam yang menarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Kejernihan air menjadi daya tarik utama. Dasar telaga dapat terlihat dengan jelas sehingga pengunjung kerap memanfaatkannya untuk berenang maupun mengabadikan momen melalui foto underwater.
Tiket Masuk Situ Tirta Marta Mulai Rp5.000
Salah satu daya tarik Situ Tirta Marta adalah harga tiketnya yang relatif terjangkau. Pengunjung cukup membayar Rp5.000 per orang pada hari Senin-Jumat. Sementara pada akhir pekan atau Sabtu-Minggu, tiket masuk sebesar Rp7.500.
Dengan harga tersebut, pengunjung dapat menikmati suasana telaga dan kesejukan mata air alami yang dikelilingi pepohonan.
Lokasi Mudah Dijangkau
Situ Tirta Marta berada sekitar 8-10 kilometer dari pusat Kota Purbalingga. Akses menuju lokasi juga relatif mudah karena sebagian besar jalannya sudah beraspal dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kondisi tersebut membuat destinasi ini cukup praktis untuk wisata singkat bersama keluarga maupun teman.
Ada Spot Foto Underwater dan Fasilitas Wisata
Selain berenang, pengunjung dapat mengabadikan foto di bawah air. Kejernihan telaga membuat aktivitas underwater menjadi salah satu daya tarik yang banyak diminati, terutama wisatawan yang gemar fotografi.
Sejumlah fasilitas juga tersedia untuk menunjang kenyamanan wisatawan, seperti area parkir, gazebo, tempat duduk, kamar bilas, toilet, warung makan, mushola, hingga penyewaan ban pelampung.
Pengunjung pun dapat bersantai di bawah pepohonan rindang sembari menikmati suasana pedesaan.
Punya Legenda dari Abad ke-15
Di balik kejernihan airnya, Situ Tirta Marta juga menyimpan cerita yang dipercaya masyarakat setempat telah berkembang sejak abad ke-15.
Konon, telaga tersebut berkaitan dengan perjalanan Raden Jaka Kusuma, putra Adipati Purbalingga, yang membawa kendi berisi banyu panguripan atau air kehidupan untuk kakaknya, Surya Kusuma.
Ketika melewati kawasan hutan yang kini menjadi Desa Karangcegak, kendi tersebut terjatuh dan pecah. Dari lokasi pecahan kendi itu kemudian dipercaya muncul mata air yang disebut Mata Air Sirah. Alirannya semakin meluas hingga membentuk telaga.
Nama Situ Tirta Marta kemudian mulai digunakan secara resmi sekitar tahun 1973. Pengembangan Situ Tirta Marta tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga terus melakukan penataan kawasan dan fasilitas.
Pengelolaan dilakukan dengan tetap memperhatikan keberadaan mata air alami sebagai bagian penting dari ekosistem setempat.
Dengan kombinasi air yang jernih, tiket terjangkau, akses mudah, dan cerita sejarah yang melekat di masyarakat, Situ Tirta Marta menjadi salah satu pilihan wisata alam yang menarik untuk dikunjungi saat berada di Purbalingga.
*Ikuti media sosial kami.
