BULAN Ramadan selalu hadir sebagai tamu agung yang dinanti umat Islam di seluruh dunia. Puasa Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum penyucian jiwa, penguatan iman, dan latihan kesabaran.
Namun, di balik ritual yang kini dijalankan secara seragam oleh umat Muslim, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana puasa Ramadan pertama kali diwajibkan. Kapan perintah itu turun? Dan bagaimana praktik puasa dijalankan pada masa awal Islam?
Perintah Puasa dalam Al-Qur’an
Kewajiban puasa Ramadan secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surat Al-Baqarah ayat 183. Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan ibadah baru, melainkan telah diwajibkan pula kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat tersebut menempatkan puasa sebagai sarana pembentukan ketakwaan, bukan sekadar kewajiban ritual semata.
Puasa dalam Jejak Para Nabi
Sejumlah ulama menyebut bahwa praktik puasa telah dikenal jauh sebelum Islam datang. Imam Al-Qurthubi, sebagaimana dikutip dalam buku Misteri Bulan Ramadan karya Yusuf Burhanudin, menyebut Nabi Nuh as sebagai sosok pertama yang berpuasa di bulan Ramadan.
Puasa itu dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt atas keselamatan dirinya dan kaumnya dari banjir besar yang melanda dunia.
Dari Puasa Asyura Menuju Puasa Ramadan
Sebelum puasa Ramadan diwajibkan, umat Islam telah lebih dulu menjalankan puasa Asyura, yakni pada tanggal 10 Muharram. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam buku Risalah Ramadan (2008) karya Affandi Mochtar dan Ibi Syatibi.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas ra, yang mengisahkan bagaimana Rasulullah saw mendapati kaum Yahudi di Madinah berpuasa Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa dan Bani Israil.
Rasulullah saw kemudian ikut berpuasa dan menganjurkan umat Islam melakukannya. Puasa Asyura inilah yang menjadi cikal bakal puasa wajib sebelum akhirnya digantikan oleh puasa Ramadan.
Puasa Sebelumnya Terasa Sangat Berat
Pada masa awal diwajibkannya puasa Ramadan, aturan berpuasa belum seperti yang dikenal sekarang. Umat Islam hanya diperbolehkan makan, minum, dan berhubungan suami istri hingga setelah berbuka dan sebelum tidur.
Jika seseorang telah tertidur setelah salat Isya, maka ia tidak boleh lagi makan dan minum hingga maghrib keesokan harinya. Aturan ini terbukti sangat berat.
Sejarah mencatat peristiwa yang menimpa Qais bin Shirma ra, seorang sahabat Nabi yang kelelahan bekerja seharian. Karena tertidur sebelum sempat berbuka, ia harus melanjutkan puasa keesokan harinya tanpa makan sama sekali hingga akhirnya pingsan.
Praktik itu benar-benar menyulitkan umat Islam sehingga banyak yang melanggar larangan tersebut. Tentunya, puasa ketika itu menjadi amalan yang cukup berat, sampai-sampai suatu kejadian menimpa salah seorang sahabat, yaitu Qais bin Shirma ra. Dia bekerja di siang hari dan sedang berpuasa.
Ketika pulang waktu sore, dia tidak mendapati makanan di rumahnya untuk berbuka. Istrinya pun berusaha keluar mencari makanan. Qais bin Shirma pun menunggu, namun karena kelelahan maka ia pun tertidur. Karena aturan ketika itu tidak boleh lagi makan apabila telah tidur, maka ia pun kembali berpuasa esok hari tanpa berbuka. Ketika kembali bekerja keesokan harinya, ia pun akhirnya pingsan.
Turunnya Ayat Penyempurna Puasa Ramadan
Ketika sampai kabar tersebut kepada Nabi Muhammad saw, maka turunlah firman Allah Swt.
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ
Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah [2]:187).
Melalui ayat tersebut, Allah Swt memberikan keringanan dan kejelasan bahwa umat Islam diperbolehkan makan, minum, dan berhubungan suami istri sepanjang malam hingga terbit fajar.
Sejak saat itulah, aturan puasa Ramadan berlaku sebagaimana yang dijalankan umat Islam hingga kini.
Mengapa Awal dan Akhir Ramadan Bisa Berbeda?
Perbedaan awal dan akhir Ramadan yang kerap terjadi bukanlah hal baru. Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode penentuan kalender Hijriah, yang berbasis pada peredaran bulan.
Sebagian negara menggunakan metode rukyatul hilal (pengamatan langsung bulan sabit), sementara lainnya menggunakan hisab (perhitungan astronomi). Faktor geografis, seperti perbedaan garis bujur dan waktu terbit matahari, juga memengaruhi hasil penentuan awal Ramadan.
Meski berbeda waktu, substansi ibadah Ramadan tetap sama: mendekatkan diri kepada Allah dan menumbuhkan ketakwaan.
