KABARBANYUMASRAYA.COM – Regenerasi perajin menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan industri batik di Jawa Tengah. Jumlah perajin yang terus menurun mendorong Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Nawal Arawah Yasin, mengajak berbagai pihak memperkuat pelestarian batik sekaligus membuka peluang bagi generasi muda.
Upaya tersebut disampaikan Nawal saat pembukaan Pekan Batik Nusantara (PBN) 2026 di Alun-Alun Nusantara, Pekalongan, Rabu (14/10/2026) malam. Ia menekankan perlunya langkah konkret untuk menjaga keberlangsungan batik sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Berdasarkan data yang disampaikan Nawal, jumlah perajin batik di Jawa Tengah saat ini sekitar 49.530 orang. Angka tersebut menurun dibandingkan data 2020 yang mencapai 82.550 perajin.
Artinya, jumlah perajin batik di Jawa Tengah berkurang sekitar 40 persen dalam enam tahun terakhir. Sementara itu, Kota Pekalongan tercatat memiliki sekitar 10.000 perajin, termasuk berbagai pelaku usaha yang terlibat dalam ekosistem industri batik, berdasarkan data pemerintah kota per 2 Oktober 2026.
“Untuk itu kita semua harus meningkatkan regenerasi pengrajin batik kepada anak muda, serta menjaga, melindungi, dan mengembangkan kapasitas pengrajin serta ekosistem batik,” ujar Nawal.
Menurutnya, batik bukan sekadar produk fesyen, melainkan bagian dari identitas budaya dan kegiatan ekonomi kerakyatan yang menyerap banyak tenaga kerja. Industri ini juga menjadi sumber penghidupan bagi ratusan ribu keluarga di Jawa Tengah.
Batik Pekalongan Punya Kekayaan Motif dan Warna
Nawal menilai Batik Pekalongan memiliki posisi istimewa dalam khazanah batik Indonesia. Tradisi batik di kota pesisir tersebut berkembang melalui interaksi masyarakat dengan berbagai budaya, perdagangan, dan perubahan zaman.
Pengaruh budaya Tionghoa, Arab, India, Belanda, serta beragam tradisi Nusantara turut memperkaya karakter batik Pekalongan. Perpaduan tersebut terlihat pada motif, komposisi warna, dan desain yang terus berkembang.
Sejumlah motif yang menjadi kekayaan batik Pekalongan antara lain Jlamprang, Buketan, Encim, Klenengan, Pagi-Sore, Hokokai, serta motif flora dan fauna.
Namun, kekayaan motif tersebut perlu diimbangi dengan edukasi yang lebih luas kepada masyarakat. Pengenalan terhadap karakter dan filosofi batik dinilai penting agar masyarakat tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga memahami nilai budaya di balik setiap karya.
Nawal juga mendorong perajin mengembangkan kain batik menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Produk tersebut dapat berupa busana kerja, pakaian pesta, sarung, hingga berbagai produk fesyen lainnya.
Menurutnya, keberanian dalam memadukan warna, keterbukaan terhadap pengaruh budaya, serta kemampuan berinovasi menjadi keunggulan Batik Pekalongan. Inovasi desain dapat terus dilakukan tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitasnya.
Enam Strategi Memperkuat Industri Batik Pekalongan
Untuk membangun masa depan batik Pekalongan, Nawal menyampaikan enam langkah strategis yang perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak.
Pertama, melestarikan dan mengembangkan motif khas Pekalongan. Upaya ini dapat dilakukan melalui dokumentasi pengetahuan tradisional, penguatan regenerasi pembatik, serta perlindungan terhadap keaslian proses pembuatan batik tulis dan batik cap.
Kedua, meningkatkan kualitas dan inovasi produk. Perajin perlu didorong untuk mengembangkan desain, kualitas bahan, teknik pewarnaan, kenyamanan produk, kemasan, serta standar produksi agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen.
Ketiga, memperluas pasar nasional dan internasional. Perajin perlu memperoleh akses lebih luas untuk bertemu pembeli, memanfaatkan pemasaran digital, mengikuti pameran strategis, dan menjajaki peluang ekspor secara bertahap.
Nawal menilai perluasan pasar menjadi salah satu kunci agar produk batik tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki daya saing di tengah perkembangan industri fesyen.
Keempat, memperkuat kelembagaan dan kesejahteraan perajin. Dukungan yang diperlukan meliputi akses pembiayaan, pelatihan usaha, perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan tenaga terampil, serta penguatan koperasi dan kelompok usaha.
Kelima, membangun kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, Dekranasda, pelaku usaha, desainer, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat perlu bekerja bersama untuk memperkuat ekosistem batik.
Menurut Nawal, pengembangan industri batik membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar upaya pelestarian, peningkatan kualitas, dan perluasan pasar dapat berjalan beriringan.
Keenam, mengembangkan basis data industri batik berbasis digital. Data yang terintegrasi perlu mencakup jumlah perajin, kapasitas produksi, jenis produk, omzet, tujuan pemasaran, nilai transaksi, hingga ekspor.
Ketersediaan data yang akurat diharapkan membantu pemerintah dan pemangku kepentingan menyusun program pengembangan batik secara lebih terarah, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan perajin.
Generasi Muda dan Teknologi Jadi Kunci Masa Depan Batik
Selain penguatan industri, Nawal mengajak generasi muda mengambil peran lebih besar dalam menjaga keberlanjutan batik. Keterlibatan anak muda tidak cukup hanya dengan mengenakan batik, tetapi juga perlu diwujudkan melalui pembelajaran, pengembangan desain, promosi, dan penciptaan peluang usaha.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta perdagangan elektronik atau e-commerce dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemasaran dan inovasi produk batik.
Teknologi tersebut berpotensi membantu perajin memperkenalkan motif kepada khalayak yang lebih luas, memahami kebutuhan konsumen, mengembangkan gagasan desain, serta menjangkau pasar tanpa terbatas wilayah.
“Saya juga mengajak generasi muda untuk mencintai batik, bukan hanya dengan mengenakannya, tetapi dengan mempelajarinya, mengembangkan desainnya, mempromosikannya, dan menjadikannya sumber inovasi serta peluang usaha,” tandas Nawal.
Ia berharap kolaborasi antara perajin, pemerintah, dunia usaha, dan generasi muda dapat menjaga keberlangsungan batik Pekalongan. Dengan demikian, batik tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus berkembang sebagai produk ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
