KABARBANYUMASRAYA.COM – Sekitar 900 pelari dari tujuh negara menantang jalur ekstrem tiga gunung dalam Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 di Kabupaten Semarang, Minggu (27/9/2026). Tak hanya menjadi ajang olahraga, event trail running ini juga membawa dampak ekonomi bagi warga desa dengan potensi perputaran belanja peserta mencapai Rp4,5 miliar.
GTR Ultra 2026 dipusatkan di Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru. Peserta dari dalam dan luar negeri harus menaklukkan medan Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, dan Gunung Kendil dengan karakter jalur serta tingkat elevasi yang berbeda.
Event yang memasuki tahun keempat tersebut mempertandingkan empat kategori, yakni 7 kilometer, 12 kilometer, 30 kilometer, dan 52 kilometer.
900 Pelari Tantang Jalur Tiga Gunung
Kategori 52 kilometer menjadi tantangan paling berat dengan total elevasi sekitar 3.000 meter. Sementara kategori 30 kilometer memiliki elevasi sekitar 2.000 meter, 12 kilometer sekitar 800 meter, dan 7 kilometer sekitar 400 meter.
Race Director GTR Ultra 2026 Sri Agus Budi Santoso mengatakan jumlah peserta meningkat sekitar 200 orang dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti sekitar 700 pelari.
“Gajah Trail Run Ultra 2026 ini pelaksanaan tahun keempat dengan kategori yang masih sama, ada 7, 12, 30, 52 kilometer,” kata Agus.
Peserta tahun ini juga datang dari tujuh negara, antara lain Selandia Baru, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris. Jumlah negara peserta tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang diikuti pelari dari sekitar empat negara.
Khusus kategori 52 kilometer, rute mengalami penyesuaian. Namun, peserta tetap melewati tiga gunung, yakni Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, dan Gunung Kendil.
Selain tantangan medan, peserta juga disuguhi panorama pegunungan dan pemandangan Kota Salatiga dari ketinggian.
GTR Ultra 2026 Gerakkan Ekonomi Warga Desa
Ratusan peserta yang datang dari berbagai daerah turut meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar Kayuwangi.
Keterbatasan hotel membuat sejumlah rumah warga dimanfaatkan sebagai homestay. Peserta juga membelanjakan uang untuk kebutuhan makan, transportasi, akomodasi hingga wisata.
“Dengan jumlah peserta ini yang stay di sekitaran warga lumayan banyak. Karena memang tantangannya di desa sini adalah hotel masih belum begitu banyak,” ujar Agus.
Ia memperkirakan rata-rata pengeluaran setiap peserta mencapai sekitar Rp5 juta, termasuk biaya pendaftaran. Jika dikalikan sekitar 900 peserta, potensi total belanja selama rangkaian event mencapai sekitar Rp4,5 miliar.
“Kalau kita hitung rata-rata peserta itu spending-nya Rp5 juta, sudah termasuk pendaftaran. Rp5 juta kali 900 peserta berarti sekitar Rp4,5 miliar,” katanya.
Peserta Sekaligus Jelajahi Wisata Semarang
Dampak GTR Ultra 2026 tidak hanya dirasakan saat perlombaan berlangsung. Sejumlah peserta memilih datang lebih awal atau memperpanjang masa tinggal untuk menikmati destinasi wisata di sekitar Kabupaten Semarang dan Salatiga.
Rimba Simanjuntak, peserta kategori 52 kilometer asal Jakarta, misalnya, datang bersama lima rekannya. Ia tiba dua hari sebelum lomba dan berencana tinggal beberapa malam setelah perlombaan.
Selain mengikuti lomba, waktu tersebut dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga di Salatiga sekaligus berwisata.
Rimba sebenarnya ingin menginap di homestay warga agar dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Namun, homestay yang dicarinya sudah penuh.
“Homestay ini menarik buat anak-anak bersosialisasi seperti living, cuma penuh,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi antusiasme warga yang memberikan dukungan kepada peserta sepanjang lintasan.
Peserta Diminta Utamakan Keselamatan
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Jawa Tengah Anton Asfihani mengingatkan peserta agar tidak sekadar mengejar waktu tempuh. Kondisi fisik harus menjadi perhatian utama selama menghadapi medan trail.
Pesan tersebut disampaikan saat Anton melakukan flag off kategori 52 kilometer mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin, dan Sekda Jawa Tengah Sumarno.
“Persiapkan diri kalian sebaik mungkin,” kata Anton.
Ia meminta peserta tidak memaksakan diri apabila tubuh mulai menunjukkan tanda kelelahan.
“Alarm di tubuh itu adalah kode alam yang harus kita ikuti. Start happy, finish safety,” ujarnya.
GTR Ultra 2026 diselenggarakan Escape Nice bekerja sama dengan Karang Taruna setempat. Event ini tercatat di International Trail Running Association (ITRA) dan berafiliasi dengan UTMB.
Dengan memadukan olahraga, alam, pariwisata, dan aktivitas ekonomi warga, GTR Ultra 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana event olahraga berbasis desa dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat sekitar.
