TRANSFORMASI pembanginan yang dimulai dari desa atau pembangunan yang dimulai dari desa melalui program desa mandiri oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan hasil nyata dan menggembirakan.
- Dari Jalan hingga Wisata Unggulan, Kaliwedi Sragen Menjelma Desa Mandiri
- Wisata Waterboom Jadi Motor Ekonomi Desa
- Tata Kelola Desa Diperkuat, Transparansi Jadi Prinsip
- Jejak Transformasi Serupa Terjadi di Desa Jatibatur
- Jawa Tengah Panen Desa Mandiri, Kolaborasi Jadi Kunci
- Membangun Jawa Tengah Dimulai dari Desa
Berdasarkan Indeks Desa (ID) Tahun 2025, jumlah desa mandiri di Jawa Tengah melonjak drastis menjadi 2.208 desa, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 1.530 desa. Capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan desa di Jawa Tengah berjalan di jalur yang tepat dan semakin merata.
Transformasi ini dapat dilihat di Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, langkah yang dilakukan desa ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan desa yang terarah mampu mengubah wajah perekonomian dan kesejahteraan warga. Dari desa yang pernah tertinggal, Kaliwedi kini berhasil naik kelas dan menyandang status desa mandiri.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Provinsi Jawa Tengah, Nadi Santoso, menyebut lonjakan desa mandiri ini mencerminkan keberhasilan kebijakan pembangunan desa di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Dari Jalan hingga Wisata Unggulan, Kaliwedi Sragen Menjelma Desa Mandiri
Perjalanan itu tidak instan. Berdasarkan Indeks Desa (ID), pada 2024 Kaliwedi masih berstatus desa maju. Namun capaian tersebut dijadikan pijakan oleh pemerintah desa untuk terus berbenah hingga akhirnya pada 2025 berhasil mencapai level tertinggi dalam klasifikasi pembangunan desa.
Keberhasilan Kaliwedi tidak lepas dari dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, khususnya melalui bantuan keuangan (Bankeu) provinsi.
Kepala Desa Kaliwedi, Daryono, mengungkapkan pada 2025 desanya menerima Bankeu Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp100 juta yang dimanfaatkan untuk pengaspalan jalan desa.
“Jalan desa yang baik menjadi pemicu utama pergerakan ekonomi warga,” ujar Daryono, Minggu (25/1/2026).
Wisata Waterboom Jadi Motor Ekonomi Desa
Perbaikan infrastruktur berdampak langsung pada sektor pariwisata desa. Kaliwedi memiliki destinasi unggulan Waterboom Jambangan Permai yang dikelola oleh BUMDes.
Hasilnya signifikan. Jumlah pengunjung melonjak dari sekitar 39 ribu orang menjadi lebih dari 80 ribu orang per tahun. Pendapatan waterboom pun meningkat tajam, dari sekitar Rp800 juta menjadi Rp1,3 miliar pada 2025.
“Akses yang mulus membuat wisatawan lebih mudah datang,” kata Daryono.
Tak hanya wisata, infrastruktur jalan yang membaik juga memperlancar distribusi potensi desa lainnya, mulai dari sayur-mayur, peternakan, perkebunan kelengkeng dan melon, hingga produksi padi organik.

Tata Kelola Desa Diperkuat, Transparansi Jadi Prinsip
Kemajuan ekonomi diikuti dengan pembenahan tata kelola pemerintahan desa. Pemerintah Desa Kaliwedi menerapkan sistem berbasis tiga pilar, yakni pemerintahan, kewilayahan, dan pemberdayaan.
Administrasi desa kini berbasis sistem informasi, layanan kesehatan dan posyandu telah memenuhi enam standar pelayanan minimal, serta kesiapsiagaan bencana terus diperkuat.
Di bidang sosial dan budaya, desa mendirikan sanggar tari sejak 2025 yang melibatkan sekitar 50 anak desa. Seluruh kebijakan desa diputuskan melalui musyawarah desa dengan prinsip keterbukaan anggaran.
“Anggaran harus terbuka. Warga harus tahu,” tegas Daryono.
Pada 2026, dukungan Pemprov Jawa Tengah kembali mengalir. Desa Kaliwedi menerima Bankeu sekitar Rp400 juta untuk pembangunan rabat beton dan jalan usaha tani yang menghubungkan desa dengan kawasan agrowisata.
Jejak Transformasi Serupa Terjadi di Desa Jatibatur
Kisah sukses tak hanya terjadi di Kaliwedi. Desa Jatibatur, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, juga mencatat transformasi serupa. Dari desa berstatus rendah, Jatibatur kini berhasil menyandang predikat desa mandiri.
Kepala Desa Jatibatur, Sutardi, menyebut pada 2025 desanya menerima Bankeu Provinsi Jawa Tengah Rp100 juta yang digunakan untuk pengecoran jalan desa.
“Sekarang jauh lebih aman dan nyaman bagi warga maupun pengunjung,” ujarnya.
Keberadaan objek wisata Sendang Kun Gerit menjadi primadona dan motor penggerak ekonomi desa. Pendapatan Asli Desa (PADes) terus meningkat, ditopang kinerja BUMDes dan sektor wisata.
Infrastruktur yang membaik juga berdampak besar pada sektor pertanian. Dengan dukungan sumur dan jaringan irigasi dari dana desa, petani yang sebelumnya hanya panen sekali setahun kini bisa panen hingga tiga kali setahun.
“Perekonomian warga naik dan desa kami makin dikenal,” kata Sutardi.
Jawa Tengah Panen Desa Mandiri, Kolaborasi Jadi Kunci
Sementara itu, Kepala Dispermadesdukcapil Jawa Tengah, Nadi Santoso, menyampaikan bahwa berdasarkan Indeks Desa 2025, kondisi desa di Jawa Tengah menunjukkan kemajuan signifikan.
Saat ini terdapat:
- 2.208 desa mandiri
- 3.921 desa maju
- 1.666 desa berkembang
- 15 desa tertinggal
Menurut Nadi, lonjakan tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang terus diperkuat oleh Gubernur Ahmad Luthfi. “Pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur harus bergerak bersama. Kolaborasi adalah kuncinya,” ujarnya.
Membangun Jawa Tengah Dimulai dari Desa
Nadi menambahkan, peningkatan Bankeu desa juga berperan besar. Pada 2024 nilainya mencapai Rp1,6 triliun, dan meningkat menjadi Rp1,7 triliun pada 2025.
“Nilainya hampir setara dana desa dari pusat. Saat dana pusat menurun, bantuan provinsi menjadi penopang utama,” katanya.
Ia menegaskan, kemajuan desa akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara menyeluruh.
“Ketika desa mandiri dan maju, ekonomi daerah juga ikut tumbuh,” katanya.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.
