SEMARANG – Ribuan warga memadati Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah dalam Jateng Bersholawat. Selain memperingati Hari Jadi ke-81 Jateng, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat persatuan, gotong royong, dan kepedulian terhadap korban bencana.
Bukan sekadar perayaan, kegiatan Jateng Bersholawat tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kerukunan, gotong royong, sekaligus mendoakan masyarakat yang sedang menghadapi bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Jateng Bersholawat juga menjadi bagian dari peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.
Jateng Bersholawat Bawa Pesan Persatuan dan Gotong Royong
Mengusung tema “Wolung Puluh Siji, Gumregut Nyawiji”, kegiatan Jateng Bersholawat tersebut menegaskan pentingnya kebersamaan dalam membangun Jawa Tengah. Ustadz Wijayanto yang menyampaikan mauidhoh hasanah mengapresiasi pilihan Pemprov Jateng menutup peringatan hari jadi dengan kegiatan berselawat.
Menurutnya, selawat bukan hanya bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan persatuan.
“Saya sangat mengapresiasi Jawa Tengah karena memperingati ulang tahun dengan selawatan. Tema besarnya juga luar biasa, gumregut nyawiji,” ujar Ustadz Wijayanto.
Ia menilai semangat tersebut sejalan dengan upaya membangun Jawa Tengah yang berkeadaban sekaligus berkontribusi bagi Indonesia.
Doa untuk Korban Bencana di NTT dan Daerah Lain
Pesan kemanusiaan juga menjadi bagian penting dalam Jateng Bersholawat. Habib Ali Zainal Abidin Assegaf mengajak masyarakat mendoakan Jawa Tengah agar selalu dalam kondisi aman, damai, rukun, dan sejahtera.
“Dengan berselawat, kita berdoa untuk Jawa Tengah semoga masyarakatnya guyub rukun, damai, aman, dan sejahtera,” katanya.
Doa secara khusus juga dipanjatkan bagi masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, serta sejumlah daerah lain di Indonesia. “Kita juga berdoa untuk saudara kita di NTT dan seluruh daerah di Indonesia,” ujar Habib Ali.
Ahmad Luthfi: Membangun Jateng Tidak Bisa Sendiri
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Ia mengakui masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan selama kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan proses berkelanjutan untuk meneruskan fondasi yang telah dibangun para gubernur sebelumnya. Karena itu, Luthfi membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan kritik dan masukan.
“Hari ini kami mencoba mencatat kembali dengan nyawiji, bersatu. Konsep membangun secara bersama-sama inilah yang kami terapkan di Jawa Tengah, di mana gotong royong dan kerukunan adalah modal dasar kita,” kata Luthfi.
Jateng Bersholawat Jadi Momentum Kepedulian
Dalam kegiatan Jateng Bersholawat, GUbernur Luthfi juga mengajak masyarakat bersama-sama mendoakan keselamatan dan kesejahteraan Jawa Tengah serta memberikan dukungan moral kepada warga yang tengah menghadapi bencana.
“Semoga saudara-saudara kita dikuatkan dan segera recovery dari bencana, termasuk Jawa Tengah agar dijauhkan dari bencana,” ujarnya.
Melalui Jateng Bersholawat, semangat “Gumregut Nyawiji” tidak hanya menjadi slogan. Pesan tersebut diterjemahkan sebagai ajakan untuk bergerak bersama, menjaga kerukunan, dan saling membantu ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Penutupan Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah itu pun menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga tentang persatuan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
*Ikuti media sosial kami.
