MASJID Muhammad Cheng Hoo atau Masjid Cheng Hoo Purbalingga menjadi salah satu simbol kuat akulturasi budaya dan sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Mengusung arsitektur khas Tiongkok yang berpadu harmonis dengan unsur Islami, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda penting nilai toleransi dan persaudaraan lintas budaya.
Kehadiran Masjid Cheng Hoo di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, turut memperkaya destinasi wisata religi sekaligus mengingatkan publik pada jasa Laksamana Cheng Hoo, pelaut Muslim legendaris asal Tiongkok yang dikenal menyebarkan pengaruh Islam secara damai melalui jalur maritim.
Mengenang Laksamana Cheng Hoo, Pelaut Muslim Pembawa Misi Perdamaian
Nama Cheng Hoo, atau dikenal juga sebagai Zheng He, tercatat dalam sejarah sebagai laksamana besar Dinasti Ming pada abad ke-15. Ia dipercaya Kaisar Yongle untuk memimpin armada laut terbesar di masanya dan melakukan tujuh ekspedisi besar ke berbagai wilayah Asia dan Afrika, termasuk Nusantara.
Cheng Hoo tidak hanya dikenal sebagai penjelajah ulung, tetapi juga sebagai diplomat dan pembawa misi persahabatan, perdagangan, serta perdamaian. Dalam setiap pelayarannya, ia mengedepankan pendekatan budaya dan dialog, yang diyakini turut memperkenalkan nilai-nilai Islam secara damai di kawasan Asia Tenggara.
Nilai inilah yang kemudian menginspirasi pembangunan masjid-masjid Cheng Hoo di berbagai daerah Indonesia, termasuk di Purbalingga.
Siapa Penggagas Masjid Cheng Hoo Purbalingga?
Masjid Cheng Hoo Purbalingga dibangun atas inisiatif komunitas Muslim Tionghoa yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Berdasarkan keterangan dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, penggagas utama pembangunan masjid ini adalah Hery Susetyo, seorang mualaf asli Bobotsari, Purbalingga, yang juga merupakan anggota PITI.
Proses pembangunan masjid dimulai pada 2005 dan rampung serta diresmikan pada 2011. Pembangunan tersebut melibatkan berbagai pihak lintas budaya dan latar belakang, mencerminkan semangat kebersamaan dan persatuan.
Masjid ini didirikan tidak hanya untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo, tetapi juga sebagai simbol persaudaraan antara etnis Tionghoa dan masyarakat pribumi.
Arsitektur Tiongkok-Islami yang Ikonik, Simbol Toleransi di Purbalingga
Dari sisi visual, Masjid Muhammad Cheng Hoo Purbalingga tampil mencolok dengan dominasi warna merah, hijau, dan emas, warna yang identik dengan budaya Tiongkok. Bentuk atapnya menyerupai klenteng, namun dipadukan dengan unsur Islami seperti kaligrafi Arab, lafaz Asmaul Husna, dan ornamen geometris khas Islam.
Perpaduan ini menghadirkan kesan unik sekaligus merepresentasikan harmoni antara budaya Tiongkok dan nilai-nilai Islam yang tumbuh secara damai di Indonesia. Tak heran, masjid ini kerap dikunjungi tidak hanya oleh jamaah, tetapi juga wisatawan dan pelajar untuk kegiatan edukasi sejarah serta budaya.
Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Cheng Hoo Purbalingga juga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan keagamaan. Berbagai agenda seperti pengajian, peringatan hari besar Islam, hingga dialog lintas budaya rutin digelar di lingkungan masjid.
Bagi masyarakat Purbalingga, masjid ini telah menjadi ikon keberagaman dan bukti bahwa perbedaan budaya dapat berpadu secara harmonis dalam kehidupan beragama.
Masjid Cheng Hoo Purbalingga bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan monumen hidup yang merekam sejarah penyebaran Islam yang damai melalui jalur maritim. Dengan mengusung nama besar Laksamana Cheng Hoo, masjid ini terus mengingatkan pentingnya toleransi, persaudaraan, dan dialog antarbudaya sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
