PERTUMBUHAN ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2025 mencatatkan capaian yang membanggakan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,37 persen (year on year) pada triwulan IV 2025.
- Wagub Taj Yasin: Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Harus Berdampak ke Masyarakat Bawah
- Anggaran Difokuskan Tekan Kemiskinan dan Perluas Akses Pendidikan
- Kemiskinan Jateng Turun Signifikan pada 2025
- PDRB Per Kapita Naik, Pengangguran Tetap Terkendali
- IPM Masih Jadi Tantangan, Pemprov Siapkan Strategi 2027
- Revitalisasi SMK dan Peningkatan Kompetensi Guru Jadi Prioritas
Capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah di atas rata-rata pertumbuhan nasional yang berada pada angka 5,11 persen, sekaligus menjadikannya peringkat kedua tertinggi di Pulau Jawa.
Pertumbuhan ini tidak hanya tercermin pada angka makro ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui penurunan angka kemiskinan.
Wagub Taj Yasin: Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Harus Berdampak ke Masyarakat Bawah
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa tren positif pertumbuhan ekonomi harus terus dijaga dan diarahkan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Angka kemiskinan kita bisa kita turunkan, kondisi semakin baik. Ini tentu harus terus kita tingkatkan,” ujar Taj Yasin.
Ia menekankan bahwa penguatan pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan program-program yang menyentuh lapisan masyarakat bawah, termasuk kelompok rentan.
Anggaran Difokuskan Tekan Kemiskinan dan Perluas Akses Pendidikan
Menurut Taj Yasin, upaya penurunan angka kemiskinan perlu dimasifkan melalui pengalokasian anggaran yang tepat sasaran dan terintegrasi lintas sektor.
“Anggaran harus mengarah pada penurunan kemiskinan secara bersama-sama, termasuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi kelompok disabilitas, agar kualitas hidup mereka meningkat,” katanya.
Kemiskinan Jateng Turun Signifikan pada 2025
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di Jawa Tengah berhasil ditekan secara konsisten sepanjang 2025.
Berdasarkan data BPS:
- Angka kemiskinan turun dari 9,48 persen (Maret 2025) menjadi 9,39 persen (September 2025)
- Jumlah penduduk miskin pada September 2025 tercatat 3,34 juta orang
- Turun 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025
- Turun 51,52 ribu orang dibanding September 2024
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah bersifat inklusif, didukung oleh gini ratio 0,350, yang menunjukkan ketimpangan pendapatan semakin menyempit,” jelas Sumarno.
PDRB Per Kapita Naik, Pengangguran Tetap Terkendali
Kinerja ekonomi Jawa Tengah juga tercermin dari peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, yang kini mencapai Rp50,82 juta, atau naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka berhasil dijaga pada angka 4,32 persen per November 2025, menunjukkan stabilitas pasar kerja di tengah dinamika ekonomi global.
IPM Masih Jadi Tantangan, Pemprov Siapkan Strategi 2027
Meski demikian, Pemprov Jawa Tengah mengakui masih memiliki pekerjaan rumah, khususnya pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada di angka 74,77.
“IPM kita masih berada di rata-rata nasional, dan tentu harus terus kita tingkatkan,” kata Sumarno.
Untuk itu, Pemprov Jateng telah menetapkan arah kebijakan strategis 2027, dengan menjadikan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai tulang punggung baru pertumbuhan ekonomi daerah.
Revitalisasi SMK dan Peningkatan Kompetensi Guru Jadi Prioritas
Selain sektor ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fokus utama. Pemprov Jateng memprioritaskan:
- Revitalisasi alat praktik SMK
- Peningkatan kompetensi guru berbasis industri
Langkah ini dilakukan untuk memastikan lulusan Jawa Tengah memiliki daya saing tinggi di pasar kerja nasional maupun global.
“Kami tidak bisa mencapai target pembangunan tanpa dukungan dan kolaborasi seluruh masyarakat Jawa Tengah,” kata Sumarno.
*Ikuti media sosial kami.
